
Author: dr. Afiah Salsabila
28 Mar 2026
Topik: Weight Faltering, Faltering Growth, Growth Faltering, Faltering Weight, Panduan
Latar Belakang
Gangguan pertumbuhan pada anak, khususnya penurunan berat badan atau laju pertumbuhan yang tidak adekuat, merupakan salah satu red flag penting yang perlu dikenali sejak dini sebelum berkembang menjadi malnutrisi berat atau stunting. Dalam praktik sehari-hari, istilah failure to thrive (FTT) telah lama digunakan untuk menggambarkan kondisi ini. Namun, definisi FTT yang tidak konsisten, stigma yang melekat pada istilah “failure”, serta kompleksitas etiologi yang multifaktorial menyebabkan kebutuhan akan terminologi dan kriteria diagnostik yang lebih tepat. (1)
Guideline terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) memperkenalkan istilah baru yaitu faltering weight, yang lebih netral dan berfokus pada dinamika pertumbuhan anak. Pergeseran ini tidak hanya bersifat semantik, tetapi juga mencerminkan upaya untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan intervensi dini terhadap undernutrition. (1)
Definisi Faltering Weight dan Rasional Perubahan Terminologi
Salah satu poin utama dalam guideline AAP adalah standardisasi definisi faltering weight. Sebelumnya, FTT tidak memiliki definisi baku dan sering kali didasarkan pada berbagai kriteria yang tidak konsisten, seperti penurunan persentil berat badan atau crossing percentile lines. Hal ini menyebabkan variabilitas diagnosis serta potensi over- maupun underdiagnosis. (1)
AAP kini mendefinisikan faltering weight sebagai kondisi yang memenuhi salah satu dari kriteria berikut:
Pada kriteria tersebut, Weight-for-length digunakan untuk anak di bawah 2 tahun dan BMI-for-age digunakan untuk anak > 2 tahun. (1)
Pendekatan berbasis z-score dipilih karena memberikan akurasu yang lebih tinggi dibandingkan persentil, terutama dalam memantau perubahan longitudinal pertumbuhan. Selain itu, penggunaan istilah faltering dinilai lebih deskriptif dan tidak memiliki kecenderungan untuk menyalahkan pengasuh anak, sehingga meningkatkan komunikasi klinis dan penerimaan keluarga. (1)
Pendekatan Diagnosis: Fokus pada Klinis, Bukan Over-Testing
Guideline AAP menekankan bahwa diagnosis faltering weight harus dimulai dari pengukuran antropometri yang akurat. Kesalahan dalam pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan, atau interpretasi kurva pertumbuhan dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Oleh karena itu, penggunaan alat ukur yang sesuai dan teknik yang benar menjadi hal yang fundamental dalam evaluasi. (1)
Menariknya, panduan ini secara tegas tidak merekomendasikan pemeriksaan penunjang rutin pada evaluasi awal, kecuali terdapat tanda atau gejala spesifik yang mengarah pada etiologi tertentu. Hal ini didasarkan pada bukti bahwa sebagian besar kasus faltering weight bersifat multifaktorial dan tidak selalu memiliki penyebab organik yang dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan laboratorium atau imaging. Pemeriksaan yang tidak selektif justru dapat meningkatkan biaya, risiko, dan ketidaknyamanan pasien tanpa memberikan manfaat klinis yang signifikan. (1)
Selain itu, endoskopi tidak direkomendasikan sebagai bagian dari evaluasi awal, kecuali pada kasus persisten atau terdapat kecurigaan kondisi spesifik yang tidak dapat ditegakkan tanpa pemeriksaan tersebut. Pendekatan ini menegaskan pentingnya clinical reasoning dibandingkan pendekatan investigasi yang berlebihan. (1)
Manajemen: Fokus pada Asupan dan Feeding Behavior
Guideline AAP menekankan bahwa penanganan faltering weight harus fokus pada peningkatan asupan energi. Anak dianjurkan mendapat tambahan kalori, dan bila perlu bisa ditambah dengan suplementasi nutrisi oral. Pada anak yang memang punya masalah makan, terapi pediatric feeding disorder juga disarankan, dengan pendekatan multidisiplin yang mencakup aspek medis, nutrisi, kemampuan makan, dan psikososial. Namun, perlu diingat bahwa rekomendasi ini dibuat dari bukti dengan tingkat kepastian rendah dan sebagian besar studinya berasal dari negara berpendapatan tinggi, sehingga penerapannya perlu hati-hati dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Secara prinsip, pendekatan ini sejalan dengan praktik di Indonesia yang menekankan optimalisasi asupan nutrisi, evaluasi feeding behavior, serta pendekatan komprehensif berbasis keluarga dalam mencegah perburukan menjadi stunting. (1,2)
Kesimpulan dan Penutup
Guideline terbaru AAP mengenai faltering weight menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan pertumbuhan sebagai langkah preventif sebelum terjadinya malnutrisi berat dan stunting. Standardisasi definisi berbasis z-score, penekanan pada evaluasi klinis, serta pendekatan manajemen yang berfokus pada nutrisi dan feeding behavior menjadi inti dari rekomendasi ini.
Bagi dokter anak, pemahaman terhadap konsep faltering weight memberikan kerangka kerja yang lebih sistematis dalam menilai dan menangani anak dengan pertumbuhan yang tidak optimal. Pendekatan yang tepat sejak fase awal diharapkan dapat mencegah konsekuensi jangka panjang serta meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Daftar Pustaka