
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
6 Mar 2026
Topik: Herpes Zoster, Ilmiah
Herpes zoster (HZ), atau juga dikenal dengan nama “cacar api” di masyarakat, adalah penyakit yang timbul akibat reaktivasi virus varicella-zoster (VZV), yaitu virus yang juga merupakan penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak menghilang, melainkan bersembunyi di ganglion saraf dan dapat aktif kembali puluhan tahun kemudian sebagai herpes zoster.[1,2]
Lebih dari 95% orang dewasa di atas usia 50 tahun telah terpapar VZV dan menyimpan virus ini dalam keadaan laten, dimana hal ini berarti mereka berisiko mengalami herpes zoster sepanjang hidupnya.[3] Tak hanya dapat menyebabkan lesi kulit, herpes zoster berpotensi menyebabkan nyeri jangka panjang dan komplikasi sistemik yang serius. [2,4]Di tengah populasi yang semakin menua serta meningkatnya prevalensi penyakit kronis yang menurunkan imunitas seperti diabetes, kanker, dan penyakit autoimun, herpes zoster tidak lagi dapat dipandang sebagai penyakit individual semata, melainkan sebagai masalah kesehatan masyarakat dengan beban morbiditas, penurunan kualitas hidup, dan implikasi ekonomi yang signifikan, sehingga upaya pencegahan menjadi strategi kunci yang perlu diprioritaskan.[1,2]
Patogenesis dan Manifestasi Klinis, dan Komplikasi Herpes Zoster
Setelah seseorang sembuh dari gejala cacar air akibat infeksi VZV, virus yang bersifat neurotropik tersebut akan menetap seumur hidup dalam kondisi dorman di ganglion saraf kranial dan autonomik.[1] Selama sistem imun—khususnya imunitas seluler terhadap VZV—tetap kuat, virus akan berada dalam keadaan tidak aktif. Namun ketika imunitas menurun, virus dapat bereplikasi kembali dan menyebar sepanjang saraf menuju kulit, menimbulkan ruam nyeri khas herpes zoster yang mengikuti pola dermatom (Lihat Gambar 1).[2,3]
Kelompok dengan risiko tertinggi meliputi usia di atas 50 tahun, penderita diabetes, kanker, penyakit autoimun, serta mereka yang menggunakan obat-obatan imunosupresan. [3,4]
Herpes zoster secara klinis berkembang melalui tiga tahap, yaitu fase pre-eruptif, fase akut erupsi, dan fase kronik. Fase pre-eruptif ditandai nyeri, rasa terbakar pada dermatom yang terdampak, yang dapat muncul beberapa hari sebelum timbulnya lesi kulit, mungkin juga disertai gejala sistemik seperti malaise, sakit kepala, dan fotofobia. Pada fase akut erupsi, muncul vesikel multipel yang nyeri, berkelompok, dan terdistribusi secara unilateral sesuai dermatom yang terlibat. Vesikel kemudian pecah, mengalami ulserasi, dan mengering dalam kurun 2–4 minggu. Fase ini merupakan periode paling infeksius dan sering disertai nyeri hebat yang tidak responsif terhadap analgesik nonsteroidal, sehingga secara signifikan mengganggu aktivitas dan kualitas hidup pasien.[1–3]
Dampak penyakit ini tak terbatas pada manifestasi kulit saja. Menurut beberapa studi, herpes zoster memiliki hubungan dua arah dengan berbagai kondisi medis kronis.[5,6] Berdasarkan sebuah meta-analisis yang dilakukan oleh Huang et al. diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan risiko infeksi herpes zoster sebesar 38%.[7] Marra et al. juga menemukan bahwa penyakit ginjal kronik juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko herpes zoster sebanyak 29%.[8] Selain itu, infeksi herpes zoster pada pasien penyakit ginjal kronik dapat meningkatkan risiko end-stage renal disease. [5]
Hubungan bidireksional juga terdapat pada penyakit kardiovaskular. Pasien dengan penyakit kardiovaskular memiliki risiko lebih tinggi terkena Herpes zoster.[8,9] Risiko stroke dan gagal jantung juga meningkat secara signifikan pada pasien yang terinfeksi herpes zoster[10] Oleh karena itu, penting untuk mencegah Herpes zoster melalui vaksinasi untuk kelompok-kelompok berisiko tinggi.[11]
Komplikasi Herpes Zoster
Herpes zoster juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi berat. Komplikasi yang paling sering terjadi dari herpes zoster adalah post-herpetic neuralgia (PHN)[4], Definisi PHN bervariasi, umumnya mencakup nyeri yang menetap selama satu hingga enam bulan setelah ruam sembuh. Dalam penelitian klinis, PHN paling sering didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung ≥3 bulan, karena perbaikan setelah periode ini cenderung lambat. Nyeri ini terjadi karena peradangan dan kerusakan serabut saraf. [12] Sekitar 20–30% pasien herpes zoster usia 60 – 65 tahun lebih berisiko mengalami PHN, dan risikonya semakin meningkat seiring pertambahan usia.[4,12] PHN berdampak luas terhadap kualitas hidup: pasien sering mengalami nyeri hebat, gangguan tidur, depresi, kecemasan, serta keterbatasan aktivitas dan pekerjaan. PHN juga sulit diatasi dengan pengobatan yang tersedia saat ini.[1]
Komplikasi lainnya mencakup Herpes zoster oftalmikus yang mengenai cabang mata saraf trigeminus dapat menyebabkan keratitis, uveitis, hingga kebutaan permanen. Keterlibatan saraf wajah dan ganglion genikulat dapat menyebabkan kelumpuhan wajah di satu sisi dan gangguan pendengaran.[2]
Tak hanya itu, herpes zoster dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan infark miokard, terutama dalam 6 bulan pertama setelah infeksi, dengan peningkatan risiko hingga 30–50% yang berkurang setelah 1 tahun.[13]
Beban Penyakit Herpes Zoster di Masyarakat
Secara global, insidensi 1,2 hingga 3,4 per 1000 orang per tahun pada usia muda dan 3,9 hingga 11,8 per 1000 orang per tahun pada individu di atas usia 65 tahun. Hal ini menunjukkan kalau angka herpes zoster meningkat seiringnya usia bertambah.[2]
Beban ini bukan hanya bersifat klinis, tetapi juga berdampak secara finansial ke kepada keluarga dan sistem kesehatan. Studi nasional di Finlandia menunjukkan bahwa herpes zoster dan komplikasinya mengakibatkan rata-rata biaya tahunan yang mencapai €11.3 juta, berasal dari biaya rawat inap, rawat jalan, obat antiviral, dan cuti sakit. Studi yang sama juga memperkirakan bahwa biaya per episode HZ mencapai sekitar €649, sementara bila berkembang menjadi PHN, biayanya melonjak hingga €1.910 per pasien.[3] Di Italia, pasien dengan PHN memiliki biaya kesehatan hingga 4 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa PHN, terutama akibat rawat inap dan penggunaan obat jangka panjang. [14]
Peran Vaksinasi dalam Pencegahan Herpes Zoster
Saat ini tersedia vaksin herpes zoster rekombinan (RZV). Vaksin ini diindikasikan untuk semua orang dewasa usia 50 tahun ke atas dan yang berusia 18 tahun ke atas dengan risiko herpes zoster lebih tinggi. Dalam studi ZOE-50 dan ZOE-70, vaksin herpes zoster menunjukkan efikasi yang sangat tinggi dalam mencegah herpes zoster, yaitu 97,2% pada peserta berusia ≥50, dengan durasi follow-up rata-rata 3,1 tahun.[15]
Perlindungan yang diberikan oleh RZV juga bertahan lama setelah itu. Berdasarkan studi ZOE-LTFU, RZV masih menunjukkan efikasi dengan adjuvan 11 tahun setelah dosis vaksin pertama, vaksin ini menunjukkan sebesar 87,7% (95% CI: 84,9–90,1) terhadap herpes zoster (HZ).[16]
Sebuah studi di Kanada pada individu berusia ≥50 tahun, vaksin herpes zoster rekombinan terbukti sebagai strategi pencegahan yang cost-effective. Dalam analisis ekonomi kesehatan yang dilakukan di Kanada, pemberian RZV pada individu yang berusia >50 tahun diperkirakan mencegah sekitar 303.835 kasus herpes zoster dan 83.256 kasus postherpetic neuralgia (PHN). Meskipun membutuhkan biaya vaksinasi awal sekitar CAN$606 juta, penghematan biaya medis mencapai CAN$144 juta. Efisiensi ekonomi ini dinyatakan melalui incremental cost-effectiveness ratio (ICER), yaitu rasio antara tambahan biaya intervensi dan tambahan QALY yang dihasilkan, yang pada RZV tercatat sebesar CAN$27.486 per QALY.[17,18] Jika biaya tak langsung akibat herpes zoster dari cuti kerja dan faktor-faktor sosial lainnya, ICER berkurang menjadi CAN$22.097 per QALY.[17]
Kesimpulan
Herpes zoster bukan sekedar ruam kulit biasa, namun merupakan penyakit sistemik yang dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan perburukan dari berbagai kondisi kronik seperti diabetes mellitus, penyakit ginjal, serta penyakit kardiovaskular. Vaksinasi herpes zoster merupakan salah satu intervensi yang efektif untuk mencegah hal tersebut untuk terjadi.[1,2,5,10] Oleh karena itu, peningkatan kesadaran dan akses terhadap pencegahan perlu ditekankan untuk kesehatan masyarakat saat ini.[19]
Daftar Pustaka
1. Harbecke R, et al. Herpes Zoster Vaccines. J Infect Dis.2021;224(12 Suppl 2):S429-S442.
2. Patil A, et al. Herpes zoster: A Review of Clinical Manifestations and Management. Viruses. 2022;14(2):192.
3. Kanerva, M et al. Health and economic burden of herpes zoster in adults in Finland: A retrospective nationwide database study. Human Vaccines Immunotherapeutics. 2025;21(1).
4. Nair PA, Patel BC. Herpes Zoster. [Updated 2023 Sep 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441824/, Last Accessed Jan 2026
5. Lin SY, Liu JH, Yeh HC, Lin CL, Tsai IJ, Chen PC, Sung FC, Yang YF, Huang CC, Morisky DE, Chang YJ, Kao CH. Association between herpes zoster and end stage renal disease entrance in chronic kidney disease patients: a population-based cohort study. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 2014 Oct;33(10):1809-15. doi: 10.1007/s10096-014-2143-6. Epub 2014 May 17. PMID: 24838650.
6. Babel N, et al. Vaccination in patients with kidney failure: lessons from COVID-19. Nat Rev Nephrol. 2022 Nov;18(11):708-23
7. Huang CT, Lee CY, Sung HY, Liu SJ, Liang PC, Tsai MC. Association Between Diabetes Mellitus and the Risk of Herpes Zoster: A Systematic Review and Meta-analysis. J Clin Endocrinol Metab. 2022 Jan 18;107(2):586-597. doi: 10.1210/clinem/dgab675. PMID: 34536279.
8. Marra F, Parhar K, Huang B, Vadlamudi N. Risk Factors for Herpes Zoster Infection: A Meta-Analysis. Open Forum Infect Dis. 2020 Jan 9;7(1):ofaa005. doi: 10.1093/ofid/ofaa005. PMID: 32010734; PMCID: PMC6984676.
9. Yamaoka-Tojo M et al. Herpes Zoster and Cardiovascular Disease: Exploring Associations and Preventive Measures through Vaccination. Vaccines. 2024;12:1–17
10. Kim MC et al. Herpes Zoster Increases the Risk of Stroke and Myocardial Infarction. Journal of the American College of Cardiology;2017;20;295-296
11. PAPDI. 2025. Jadwal Vaksinasi Dewasa 2025. Available at: https://satgasimunisasipapdi.com/jadwal-imunisasi-dewasa/, Last Accessed Feb 2026
12. Watson P. Postherpetic neuralgia. Am Fam Physician. 2011;84(6):690-2.
13. Curtis JR et al. Real-world data on the use of the Shingrix vaccine among patients with inflammatory arthritis and risk of cardiovascular events following herpes zoster. Arthritis Research & Therapy. 2025;27:108
14. Zarkadoulas E et al. Economic burden of herpes zoster in Italy. Open Forum Infect Dis. 2024;12(1)
15. GSK. SHINGRIX Pres cribing Information, Version 01
16. Strezova A, Díez Domingo J, Cunningham AL, Eto T, Andrews C, Arns C, Choo EJ, Hui DSC, Icardi G, McNeil SA, Põder A, Kosina P, Rombo L, Schwarz TF, Tinoco JC, Yu CJ, Wang J, Soni J, Tsang M, Leon R, Mwakingwe-Omari A; Zoster-049 Study Group. Final analysis of the ZOE-LTFU trial to 11 years post-vaccination: efficacy of the adjuvanted recombinant zoster vaccine against herpes zoster and related complications. EClinicalMedicine. 2025 May 9;83:103241. doi: 10.1016/j.eclinm.2025.103241. PMID: 40630610; PMCID: PMC12235393.
17. George S, et al. Updated Public Health Impact and Cost Effectiveness of Recombinant Zoster Vaccine in Canadian Adults Aged 50 Years and Older. PharmacoEconomics Open 8. 2024;481–492
18. YHEC. Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). 2025. Available at: https://www.yhec.co.uk/glossary-term/incremental-cost-effectiveness-ratio-icer/ (Last Accessed Feb 2026)
19. Betts RF et al. Vaccination Strategies for the prevention of herpes zoster and postherpetic neuralgia. Journal of the American Academy of Dermatology. 2007;57:S143-7
Hanya Untuk Tenaga Kesehatan
Laporkan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) ke GSK Indonesia melalui email ke yqq68540@gsk.com
Sebelum meresepkan, harap merujuk pada Informasi Produk yang dapat disediakan sesuai permintaan.
Merek dagang dimiliki oleh atau dilisensikan kepada grup perusahaan GSK.
PM-ID-HZU-NLTR-260001 • AD: Mar 2026 • ED: Mar 2028
Supported by