
Tanya Jawab 1 Vaksin Tidak Berkhasiat

Tim PrimaKu
29 Jan 2018

Ditulis oleh

Editorial PrimaPro
10 Nov 2025
Topik: Vaksinasi Dasar, Jadwal Vaksin, Vaksin Anak, DTaP, Vaksin Booster, pertusis
Vaksin pertusis whole-cell (wP) telah lama menjadi fondasi pencegahan batuk rejan di seluruh dunia. Keberhasilan ini menjadikannya salah satu intervensi imunisasi paling berpengaruh dalam sejarah kesehatan masyarakat. Namun, reaktogenisitasnya yang tinggi menciptakan penolakan bagi sebagian orang tua. Hal ini sempat membuat cakupan imunisasi terhadap pertusis menurun. Seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manufaktur vaksin melahirkan alternatif baru berupa vaksin pertusis aseluler. (1) Vaksin ini dirancang dengan komponen yang terpilih dan terstandarisasi, sehingga menghasilkan profil imunogenik yang baik dengan tingkat kejadian efek samping lebih rendah dibandingkan Wp. (1,2) Kini, vaksin pertusis aseluler digunakan secara luas di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. (1) Pertanyaannya, apakah inovasi ini sepadan dengan keberhasilan vaksin pendahulunya? Berikut adalah pembahasan lengkapnya.
Pertusis, atau batuk rejan, adalah infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh Bordetella pertussis. Penyakit ini umumnya ditandai dengan batuk spasmodik yang khas, sering kali diikuti suara “whoop” saat inspirasi, dan dapat menimbulkan komplikasi serius hingga kematian, terutama pada bayi. (1,2). Menurut World Health Organization (WHO), terdapat sekitar 16 juta kasus pertusis secara global dengan 195.000 kematian, di mana 95% di antaranya berasal dari negara berkembang setiap tahunnya. (2)
Sejak vaksin pertusis whole-cell (wP) mulai dikenalkan pada dunia di tahun 1940-an, insidensi pertusis turut berkurang secara drastis. Di Amerika Serikat, pengenalan vaksin ini berhasil menurunkan insidensi pertusis dari sekitar 200.000 kasus per tahun menjadi hanya sekitar 1.010 kasus pada tahun 1976. (2)
Meskipun efektif, vaksin wP dikaitkan dengan berbagai kejadian ikutan pasca imunisasi. Meta-analisis Cochrane yang dilakukan oleh Zhang dkk. menunjukkan bahwa vaksin ini secara signifikan lebih sering menimbulkan kejadian demam, iritabilitas, menangis berkepanjangan, muntah, pembengkakan, dan episode hipotonia-hiporesponsif dibandingkan aP. (1,2). Kekhawatiran terhadap efek samping tersebut memicu penurunan penerimaan vaksinasi di banyak negara, dan menjadi latar belakang pengembangan vaksin aP. (3)
Pada 1981, Jepang memperkenalkan vaksin pertusis aseluler (aP) yang terdiri dari antigen terpurifikasi seperti pertussis toxoid, filamentous hemagglutinin, pertactin, dan fimbriae. (1) Pertactin adalah protein membran luar yang berperan dalam adhesi ke sel epitel serta modulasi respon imun. Antibodi terhadap PRN terbukti berkontribusi dalam proteksi terhadap pertusis, sehingga antigen ini dimasukkan ke dalam sebagian besar formulasi aP. (3,4)
Meta-analisis oleh Zhang dkk. menunjukkan bahwa vaksin aP dengan tiga atau lebih antigen memiliki efikasi 84–85 persen dalam mencegah pertusis tipikal, sedangkan vaksin dengan satu atau dua antigen kurang efektif, hanya sekitar 59–78 persen.(2) Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan bahwa efektivitas aP dan wP lebih tinggi jika definisi kasus pertusis dibuat lebih ketat (gejala >21 hari). (1,2)
Baik wP maupun aP memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Vaksin wP menawarkan proteksi jangka panjang dengan harga terjangkau, tetapi dengan risiko reaktogenisitas yang tinggi. Vaksin aP, sebaliknya, lebih aman dan dapat diberikan pada kelompok usia lebih luas. Data sejauh ini menunjukkan bahwa vaksin aseluler tidak hanya mampu memberikan perlindungan efektif terhadap pertusis, tetapi juga memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan, keamanan, dan penerimaan masyarakat. Hal ini menjadikan vaksin aP sebagai pilihan yang mumpuni bagi imunisasi terhadap penyakit pertusis. (1,2,5)
Referensi
Hanya Untuk Tenaga Kesehatan
©2025 Grup perusahaan GSK atau pemberi lisensinya.
GSK Indonesia, RDTX Square 19th floor, Jl. Prof. DR. Satrio No. 164, Jakarta 12930 | Tel (62-21)2553 2350.
PM-ID-INH-NLTR-250001 • AD: Nov 2025 • ED: Nov 2026