AIR LIUR BERLEBIHAN PADA BAYI : BERBAHAYAKAH?

Date Added: 23 Feb 2018 | Source: IDAI

Pengeluaran air liur yang belebihan atau lebih dikenal dengan “ngeces “ pada bayi sering menjadi keluhan para ibu. Ngeces merupakan proses keluarnya air ludah dari mulut tanpa kita sadari. Air ludah sendiri merupakan hasil produksi dari kelenjar ludah. Manusia memiliki 6 kelenjar ludah yang berlokasi di dasar mulut, pipi bagian dalam dan dekat gigi bagian depan.

Air liur berlebihan merupakan gejala yang normal sampai bayi berusia 2 tahun. Kemampuan bayi dalam proses menelan dan kontrol terhadap pengeluaran air ludah ini akan menjadi sempurna seiring bertambahnya usia. Ngeces dapat juga merupakan gejala dari beberapa kondisi seperti keterlambatan perkembangan dan konsumsi obat-obatan tertentu yang berlebihan, contohnya obat psikosis.

Masa pertumbuhan gigi merupakan masa di mana ngeces menjadi lebih banyak dan sering namun proses ini sangat normal. Kondisi medis tertentu yang melibatkan kelemahan / kelumpuhan otot-otot wajah sehingga kontrol terhadap pengeluaran air liur terganggu seperti misalnya pada penderita palsi serebral. Refluks asam lambung pun ternyata juga dapat menyebabkan ngeces berlebihan.

Lalu kapan ngeces dianggap berbahaya? Yaitu bila produksinya terlalu berlebih serta mengganggu pola napas dan aktivitas sehari-hari. Produksi air liur yang berlebih dan ketidakmampuan bayi untuk mengontrolnya berisiko menimbulkan tersedak dan pneumonia aspirasi (radang paru karena tersedak). Ngeces yang berlebihan juga mengganggu penampilan sehari-hari.

Terapi okupasi dapat diberikan oleh dokter rehabilitasi medik berupa terapi okupasi untuk membantu memperbaiki kontrol postur tubuh,  posisi buka tutup dari bibir, dan proses menelan. Terapi untuk memperbaiki tonus otot dan kontrol pengeluaran air ludah juga dapat dilakukan secara berkala apabila diperlukan. Dalam kondisi yang berat, pemberian obat-obatan untuk mengurangi ngeces dapat diberikan namun harus sesuai instruksi dokter.

Penulis : Dr. Otty Mitha Sevianti, Sp.A

Reviewer : DR.Dr . Rini Sekartini, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia