ANAK LAMBAN AKIBAT GANGGUAN PERKEMBANGAN KOORDINASI (GPK)

Date Added: 23 Feb 2018 | Source: IDAI

Adi, anak laki-laki umur 9 tahun, sehat, namun terkesan gerakannya lamban dan tidak dapat bersepeda bersama teman-temannya. Ia telah mencoba bermain dalam kelompok olahraga, tapi selalu gagal hingga akhirnya memilih menarik diri. Adi masih dibantu ibunya dalam berpakaian. Sekilas Adi tampak lamban dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.

Pada pertemuan antara guru dengan orangtua, gurunya juga menjelaskan kalau Adi sebenarnya anak cerdas tapi tulisannya kurang rapi, tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu dan berakibat nilai sekolahnya rendah. 

Cerita tersebut adalah gambaran ‘anak lamban’ yang tidak jarang ditemukan. Istilah anak lamban di sini sebenarnya adalah  terjemahan bebas dari “clumsy child”. Dalam terminologi terbaru, ini disebut Gangguan Perkembangan  Koordinasi (GPK), sebagai  terjemahan dari Developmental Coordination Disorder yang artinya gangguan keterampilan motor (alat gerak) yang berpengaruh terhadap kemampuan untuk melakukan tugas umum sehari-hari. Gangguan ini bukan karena kelainan visus, mental retardasi atau palsi serebral tetapi karena ketidakmampuan melakukan koordinasi antara beberapa fungsi sensoris, gerak kasar dan halus.

Anak yang mengalami GPK ini perlu mendapat perhatian orangtua dan guru sekolah dasar mengingat dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Gangguan pertumbuhan yang dimaksud di sini yaitu anak menjadi gemuk/obesitas karena menarik diri dari aktivitas fisik.

Gangguan perkembangan dapat berupa prestasi belajar/akademik yang rendah, sering gagal dalam ujian karena tulisan yang jelek dan lamban. Di dalam keluarga, kemandirian anak kurang, sering dibantu oleh anggota keluarga lain, cenderung  terjadi kecelakaan seperti menjatuhkan barang.

Gangguan perkembangan lainnya  berupa :

Mengingat dampak GPK ini terhadap tumbuh kembang anak, maka orangtua perlu mengenal gejala dan cara membantu anak.

Gejala anak lamban/GPK pada usia pra-sekolah :

Gejala anak lamban pada usia sekolah :

Aspek fisik :

Aspek belajar:

Aspek perawatan diri

Tips untuk orangtua

  1. Konsultasikan anak ke klinik tumbuh kembang bila ada kecurigaan GPK seperti: terlambat mencapai tonggak perkembangan motor (jalan, merangkak, duduk), menabrak benda, “clumsiness”, lamban, prestasi buruk dalam olahraga, tulisan tangan yang jelek. Dalam hal ini penting deteksi dini agar dapat diberikan pelatihan yang tepat sedini mungkin untuk meminimalkan gejala , di samping untuk meningkatkan kepercayaan diri.
  1. Bila terbukti anak mengalami GPK, orangtua berperan penting dalam membantu anak baik di rumah maupun di sekolah.

Hal yang dapat dikerjakan orangtua :

Guru mungkin perlu melakukan hal berikut:

Dalam edukasi fisik :

Apa penyebab GPK?

Penyebabnya belum pasti. Banyak teori /hipotesis tentang penyebab GPK. Salah satunya adalah adanya ketidakmampuan anak untuk mengintegrasikan informasi sensorik yang masuk ke otak untuk menghasilkan gerakan yang terampil.

Berapa banyak anak yang mengalami GPK?

Diperkirakan sekitar 5 - 15% pada populasi sekolah dasar dan paling sedikit  5 - 6% dari semua anak. Perbandingan rasio laki-laki : perempuan =  2 : 1.

Apakah anak GPK  juga mempunyai gangguan perkembangan lain?

Penelitian menunjukkan hampir 50% anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) mengalami GPK, demikian pula kesulitan belajar dan gangguan bahasa spesifik juga dapat disertai GPK. 

Daftar Pustaka

Penulis : Dr. Jenni K. Dahliana, Sp.A

Reviewer : DR. Dr, Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si

Ikatan Dokter Anak Indonesia