
Author: dr. Afiah Salsabila
23 Okt 2025
Topik: hipoglikemia, Tatalaksana, tatalaksana awal, Panduan
Latar Belakang
Hipoglikemia pada anak adalah kondisi dimana kadar glukosa darah menurun ke tingkat yang cukup rendah untuk menyebabkan gangguan fungsi tubuh. Hipoglikemia dapat terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan penggunaan insulin atau obat-obatan penurun glukosa pada anak-anak yang menderita diabetes mellitus (DM) atau kondisi metabolik lainnya. Kejadian ini sering kali terjadi pada anak-anak dengan diabetes tipe 1, terutama pada mereka yang menjalani terapi insulin atau yang tidak mendapatkan pengaturan gula darah yang optimal. Pada anak-anak, gejala hipoglikemia dapat berkembang dengan cepat dan berpotensi mengancam jiwa jika tidak diatasi dengan cepat dan tepat . (1,2)
Pentingnya mempelajari hipoglikemia pada anak terletak pada potensi dampaknya terhadap kualitas hidup anak, terutama dalam hal perkembangan fisik dan kognitif mereka. Terutama pada anak yang lebih muda, episode hipoglikemia dapat menyebabkan gangguan kognitif yang dapat memengaruhi prestasi akademis serta keterlibatan sosial mereka. (1,2)
Etiologi dan Epidemiologi
Hipoglikemia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pemberian insulin yang berlebihan, konsumsi makanan yang tidak cukup, peningkatan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan penyesuaian dosis insulin, atau ketidaksesuaian antara pengaturan makanan dan aktivitas. Pada anak-anak dengan DM tipe 1, insidens hipoglikemia sering kali meningkat karena usaha untuk mencapai nilai glukosa darah yang mendekati normal . (1,2)
Di negara berkembang, dengan keterbatasan akses kesehatan dan kurangnya pengawasan terhadap pola makan dan pengobatan, insiden hipoglikemia lebih tinggi. Selain itu, anak-anak yang memiliki kontrol metabolik yang buruk, riwayat hipoglikemia sebelumnya, dan anak-anak yang tidak mengikuti jadwal pengobatan insulin dengan benar lebih berisiko mengalami episode hipoglikemia yang lebih sering . (2)
Patogenesis dan Manifestasi Klinis
Hipoglikemia terjadi ketika kadar glukosa darah turun di bawah 70 mg/dL (4 mmol/L), yang dapat mengganggu fungsi normal otak dan menyebabkan gejala neurologis. Gejala awal hipoglikemia termasuk tremor, berkeringat, palpitasi, dan rasa lapar. Jika tidak ditangani dengan cepat, gejala tersebut dapat berkembang menjadi kebingungan, pusing, gangguan penglihatan, hingga penurunan kesadaran, kejang, atau bahkan koma. (1,2)
Gejala hipoglikemia pada anak dapat lebih bervariasi dibandingkan orang dewasa, dengan anak-anak yang lebih muda sering tidak dapat mengenali gejala tersebut, yang mengarah pada kejadian hipoglikemia yang lebih parah jika tidak segera ditangani. Respons hormonal terhadap hipoglikemia, yang melibatkan hormon seperti katekolamin, kortisol, dan hormon pertumbuhan, juga dapat terjadi pada kadar glukosa yang lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa . (2)
Derajat Keparahan dan Komplikasi yang Dapat Terjadi
Hipoglikemia pada anak dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan derajat keparahannya: ringan/sedang dan berat. Hipoglikemia ringan atau sedang terjadi ketika kadar glukosa darah turun tetapi anak masih dapat mengatasi gejala tersebut dengan intervensi oral, seperti pemberian glukosa. Pada hipoglikemia berat, gejala neuroglikopenia seperti koma atau kejang terjadi, dan intervensi medis seperti pemberian glukagon atau infus glukosa diperlukan. (2)
Komplikasi jangka panjang akibat hipoglikemia berulang dapat termasuk gangguan kognitif yang dapat menghambat perkembangan anak. Selain itu, hipoglikemia berat yang tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan bahkan kematian . (2)
Tatalaksana
Tatalaksana hipoglikemia pada anak harus disesuaikan dengan derajat keparahan kondisi tersebut. Menurut pedoman dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), tatalaksana hipoglikemia dibagi menjadi dua kategori, yaitu ringan/sedang dan berat .
Hipoglikemia Ringan/Sedang: Penanganan awal untuk hipoglikemia ringan atau sedang melibatkan pemberian sumber glukosa yang cepat diserap, seperti tablet glukosa, jus manis, atau permen. Dosis yang diberikan biasanya sekitar 0,3 g/kg berat badan, yang setara dengan 9 g glukosa untuk anak seberat 30 kg, dan 15 g untuk anak dengan berat 50 kg. Bentuk glukosa dapat berupa Setelah pemberian glukosa, kadar glukosa darah harus diperiksa kembali setelah 10-15 menit, dan jika gejala tidak membaik, pemberian glukosa dapat diulang . Lakukan pengecekan ulang 20-30 menit kemudian untuk memastikan bahwa target gula darah sudah tercapai dan tidak terlampaui.
Hipoglikemia Berat: Pada hipoglikemia berat, segera bawa anak ke instalasi gawat darurat rumah sakit. Dalam kondisi ini, pemberian glukosa secara oral tidak memungkinkan karena biasanya anak mengalami penurunan kesadaran dan bahkan kejang. Pada panduan IDAI, oleskan selai, gula, atau madu pada bagian dalam pipi selama di perjalanan. Idealny, anak juga dapat diberikan injeksi glukagon (intramuskular/subkutan) di perjalanan dengan dosis 0,5 mg pada anak usia <5 tahun dan 1,0 mg, atau 10-30 mcg/kg untuk anak usia >5 tahun. Namun, sayangnya glukagon belum tersedia di Indonesia. (2)
Di rumah sakit, segera berikan dekstrosa 10% intravena dengan dosis 2 mL/ kgBB diikuti infus dekstrosa untuk menstabilkan kadar glukosa darah antara 100-180 mg/dL (5,6-10 mmol/L). Selanjutnya lakukan pemantauan klinis ketat dan monitor kadar glukosa darah untuk mencegah hipoglikemia untuk terulang. Bila hipoglikemia terulang, segera berikan tambahan karbohidrat ekstra dan/ atau infus dekstrosa 10% 2-5 mg/ kg/menit (1,2-3 ml/kg/jam). (2)
Kesimpulan
Hipoglikemia adalah kondisi yang sering terjadi pada anak dengan diabetes, namun dapat juga terjadi pada anak dengan kondisi metabolik lainnya. Diagnosis dan pengelolaan hipoglikemia yang tepat sangat penting untuk mencegah kerusakan jangka panjang, baik fisik maupun kognitif. Tatalaksana hipoglikemia pada anak harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, dan perhatian yang lebih besar harus diberikan pada anak-anak yang lebih muda yang mungkin tidak dapat mengenali gejala hipoglikemia pada tahap awal. Dengan pengelolaan yang tepat, termasuk pemantauan glukosa darah yang rutin, hipoglikemia dapat dikendalikan untuk mendukung kualitas hidup anak-anak yang terkena .
Referensi