
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
10 Jun 2026
Topik: Ilmiah, Latihan Beban
Latar Belakang
Lucy Milgrim adalah seorang atlet powerlifting asal Long Island, New York, yang belakangan ini menjadi perbincangan luas di media sosial. Dengan berat badan hanya sekitar 58 pounds (26 kilogram), Lucy berhasil mengangkat barbell seberat 180 pounds (82 kilogram) dalam suatu kompetisi powerlifting, setara dengan lebih dari tiga kali berat badannya sendiri sebelum usianya genap 10 tahun. Video angkatan tersebut viral di Instagram dengan lebih dari 67 juta penonton dan 3,7 juta likes, menjadikannya salah satu momen olahraga paling banyak ditonton dalam beberapa tahun terakhir. (1.2)
Lucy mulai latihan kekuatan sejak usia 8 tahun, terinspirasi oleh kebiasaan orang tuanya yang berlatih di gym rumah mereka. Ayahnya, Brett Milgrim, seorang pengacara sekaligus pelatih gulat, menjadi pelatih powerlifting-nya secara langsung. Hingga saat ini, Lucy telah memiliki tiga rekor Amerika dalam cabang powerlifting dan sekaligus merupakan atlet gulat berprestasi. Akun Instagram dan TikTok yang dikelola orang tuanya telah meraih lebih dari 232.000 pengikut, dan Lucy kini telah disponsori oleh merek pakaian gulat Combat X. (1)
Pencapaian luar biasa ini memang memukau, namun tidak lepas dari kekhawatiran publik. Di kolom komentar media sosial, tidak sedikit yang mempertanyakan keamanan latihan beban dengan intensitas seperti yang dilakukan Lucy, bahkan mengkhawatirkan dampaknya terhadap pertumbuhan tinggi badan. Apakah latihan beban, khususnya yang seintens ini, dapat menghambat pertumbuhan atau membahayakan lempeng pertumbuhan anak? Apakah yang dilakukan Lucy dapat dibenarkan secara medis? Berikut ini tinjauan berdasarkan bukti ilmiah terkini, khususnya panduan yang dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics (AAP).
Mengapa Latihan Beban Semakin Diperlukan?
Dalam clinical report terbarunya yang diterbitkan pada Pediatrics edisi Juni 2020 dan dikonfirmasi ulang pada November 2024, AAP menegaskan bahwa latihan resistensi (resistance training) bukan sekadar opsional, melainkan semakin menjadi kebutuhan. Data menunjukkan adanya penurunan dalam ukuran kebugaran otot anak-anak dan remaja dari waktu ke waktu. Kondisi ini menegaskan bahwa kekuatan otot yang memadai tidak dapat diasumsikan tercapai hanya melalui aktivitas fisik sehari-hari. Paradigma telah bergeser: kekhawatiran utama bukan lagi apa yang terjadi jika anak mengangkat beban, melainkan apa yang akan terjadi jika anak tidak mendapat latihan kekuatan yang cukup. (3)
Manfaat Latihan Beban yang Terdokumentasi
Manfaat latihan resistensi pada anak dan remaja telah terdokumentasi secara ekstensif. Selain peningkatan kekuatan otot, program latihan beban yang terstruktur terbukti meningkatkan kebugaran kardiovaskular, komposisi tubuh, kepadatan mineral tulang, profil lipid darah, sensitivitas insulin pada anak dengan kelebihan berat badan, serta kesehatan mental. Dari sisi fungsional latihan beban dapat meningkatkan performa vertical jump, sprint, dan daya tahan fisik secara umum. Tak hanya itu, program prehabilitasi berbasis latihan resistensi terbukti menurunkan risiko cedera ligamentum krusiatum anterior (ACL) dan cedera overuse lainnya, terutama saat dikombinasikan dengan latihan pliometrik dan proprioseptif. (3)
Kapan Anak Boleh Mulai Latihan Beban?
AAP menyatakan bahwa anak dapat memulai latihan resistensi dengan beban dari berat badan sendiri sejak usia 5–7 tahun, selama mereka mampu mengikuti instruksi dengan baik. Pada kelompok usia ini, bentuk latihan yang sesuai meliputi gerakan seperti frog jumps, bear crawls, crab walks, dan kangaroo hops. Prinsip utama yang ditekankan bukanlah usia kronologis semata, melainkan kesiapan neurologis dan psikologis anak untuk mengikuti instruksi, serta ketersediaan supervisi yang memadai dari instruktur yang kompeten. (3)
Training Age dan Progressive Overload yang Aman
AAP memperkenalkan konsep training age, yaitu akumulasi waktu formal seseorang dalam menjalani latihan resistensi, sebagai acuan dalam merancang program latihan yang tepat. (1) Konsep ini berlaku paralel dengan resistance training skill competency (RTSC), yang mengukur kemampuan teknis individu dalam menjalankan gerakan-gerakan latihan. Seorang anak dengan training age yang lebih panjang dan RTSC yang lebih tinggi dapat secara aman menjalani program yang lebih kompleks dan berintensitas lebih tinggi. (3)
Dalam hal progressive overload, AAP merekomendasikan peningkatan beban yang dilakukan secara bertahap dan berbasis teknik—bukan sekadar menambah berat secara sewenang-wenang. (1) Program latihan yang efektif umumnya berlangsung minimal 8 minggu dengan frekuensi 2–3 sesi per minggu. Periode istirahat antar sesi pun penting: pemula disarankan istirahat 1 menit antar set, meningkat menjadi 2–3 menit seiring intensitas bertambah. AAP juga menegaskan bahwa atlet harus beristirahat dari latihan kompetitif setidaknya 1–2 hari per minggu untuk memfasilitasi pemulihan fisik dan psikologis. (3)
Penting untuk digarisbawahi bahwa hingga saat ini tidak terdapat batasan berat absolut yang ditetapkan secara spesifik—baik dalam kilogram maupun sebagai persentase berat badan—yang berlaku universal bagi anak dalam konteks latihan beban maupun olahraga kompetitif. (1) AAP tidak merumuskan angka batas beban tertentu karena kapasitas angkat seorang anak sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor individual yang kompleks, meliputi usia biologis, training age, RTSC, status nutrisi, serta kematangan muskuloskeletal. Dengan demikian, besaran beban yang aman tidak dapat ditentukan semata-mata berdasarkan usia kronologis atau rasio terhadap berat badan. Pendekatan yang direkomendasikan adalah teknik-driven progression: beban hanya ditambah ketika anak telah mampu menyelesaikan jumlah repetisi yang ditargetkan dengan teknik yang sempurna dan tanpa keluhan nyeri. Hal ini menempatkan penilaian klinis dan pengamatan pelatih yang kompeten—bukan angka absolut—sebagai penentu utama progresivitas yang aman. (3)
Poin-poin Keselamatan yang Harus Diperhatikan
Beberapa kondisi medis memerlukan konsultasi atau bahkan kontraindikasi absolut sebelum anak memulai program latihan beban. Sebagai panduan klinis, AAP menetapkan kondisi-kondisi berikut:
Pertama, konsultasi wajib diperlukan pada anak dengan hipertensi yang tidak terkontrol, gangguan kejang yang tidak terkontrol, serta riwayat kanker yang mendapat kemoterapi anthracycline (doxorubicin, daunorubicin, idarubicin), mengingat risiko kardiotoksisitas dan gagal jantung kongestif akut selama latihan. Kedua, kontraindikasi absolut berlaku pada anak dengan kardiomiopati hipertrofik, hipertensi pulmonal, dan sindrom Marfan, di mana latihan resistensi dapat memicu dekompensasi hemodinamik yang mengancam jiwa. (3)
Di luar kondisi-kondisi tersebut, keselamatan latihan beban sangat bergantung pada tiga pilar utama: supervisi oleh instruktur yang kompeten, teknik gerak yang benar, dan progresivitas yang terencana. Rasio instruktur terhadap peserta perlu disesuaikan dengan kompleksitas program dan tingkat RTSC peserta. (3)
Risiko Cedera: Lebih Rendah dari Olahraga Lain
Data konsisten menunjukkan bahwa tingkat cedera dalam program latihan resistensi yang terstruktur dan tersupervisi dengan baik lebih rendah dibandingkan cedera yang terjadi pada olahraga lain atau bahkan permainan bebas di sekolah. (1) AAP menekankan bahwa sebagian besar laporan cedera terkait latihan beban yang tercatat dalam National Electronic Injury Surveillance System (NEISS) Amerika Serikat terjadi pada penggunaan peralatan gym di rumah tanpa pengawasan dan dengan perilaku tidak aman—bukan dari program terstruktur di bawah supervisi profesional. (3)
Mitos: Latihan Beban Menyebabkan Pendek
Kekhawatiran bahwa latihan beban akan menghambat pertumbuhan tinggi badan anak merupakan salah satu miskonsepsi yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. AAP secara tegas menyangkal hal ini: program latihan resistensi yang dirancang dengan tepat tidak menunjukkan dampak negatif pada pertumbuhan linier, kesehatan lempeng epifisis, maupun sistem kardiovaskular. Sebaliknya, pada anak prapubertas, peningkatan kekuatan yang terjadi melalui latihan beban terutama dimediasi oleh mekanisme neurologis—yakni peningkatan rekrutmen motor neuron—tanpa disertai hipertrofi otot bermakna. Hipertrofi otot baru akan terjadi secara signifikan selama dan setelah masa pubertas seiring dengan meningkatnya kadar androgen. Kekhawatiran historis ini bermula dari dekade 1970–1980-an ketika bukti ilmiah masih sangat terbatas, dan sejak saat itu telah banyak penelitian yang membantahnya secara meyakinkan. (3)
Satu catatan penting yang perlu disampaikan kepada pasien dan orang tua adalah bahwa latihan beban yang berlebihan tanpa pemulihan yang adekuat—terutama pada anak yang kekurangan gizi—memang berpotensi meningkatkan risiko cedera dan gangguan pertumbuhan. Namun ini bukan akibat dari latihan beban itu sendiri, melainkan akibat dari overtraining yang tidak terkelola dengan baik. (3)
Kembali ke Kasus Lucy: Sudahkah Dilakukan dengan Benar?
Dengan mencocokkan profil Lucy terhadap standar yang ditetapkan AAP, dapat disimpulkan bahwa program latihan Lucy telah memenuhi sebagian besar prinsip keamanan yang direkomendasikan. Lucy memiliki training age hampir dua tahun sebelum mencapai prestasi angkatan 82 kilogram tersebut. Ia dilatih langsung oleh ayahnya yang merupakan pelatih gulat berpengalaman dan secara konsisten menjaga fokus pada teknik gerak yang benar. Lebih dari itu, orang tuanya mengungkapkan bahwa Lucy secara rutin diperiksa oleh dokter anak dan berada di bawah pengawasan ketat. Motivasinya pun bersumber dari dorongan intrinsik—ia sendiri yang meminta dilatih setelah mengamati orang tuanya berolahraga, bukan karena paksaan eksternal. (2)
Faktor yang paling meyakinkan dari sudut pandang klinis adalah bahwa Lucy menikmati proses latihannya. Ayahnya menegaskan ia tidak pernah harus mendorong Lucy untuk berlatih atau mencoba angkatan yang lebih berat—semua itu datang dari inisiatif Lucy sendiri. (1,2) AAP menekankan bahwa selama anak menikmati aktivitas latihan dan berada dalam lingkungan yang aman, tidak ada alasan klinis untuk melarangnya.
Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa Lucy merupakan kasus yang sangat spesifik: seorang anak dengan bakat genetik luar biasa, motivasi intrinsik yang kuat, training age yang signifikan, serta akses ke sistem pelatihan dan pemantauan medis yang ketat. Mayoritas anak tidak berada dalam situasi yang sama. Ini berarti bahwa angkatan seberat tiga kali berat badan—sebagaimana yang dilakukan Lucy—tidak serta merta menjadi target yang realistis atau aman bagi anak lain yang baru memulai program latihan beban.
Bagi sebagian besar anak, program latihan resistensi yang dimulai dari gerakan berat badan yang sederhana, dengan progresivitas yang terencana, di bawah supervisi instruktur kompeten, dan dengan pemantauan rutin oleh dokter anak, sudah lebih dari cukup untuk memberikan manfaat kesehatan yang bermakna.
Kesimpulan
Fenomena Lucy Milgrim membuka diskusi klinis yang penting mengenai peran latihan resistensi dalam tumbuh kembang anak. Bukti ilmiah yang ada, sebagaimana dirangkum oleh AAP dalam clinical report 2020 yang dikonfirmasi ulang tahun 2024, secara konsisten menunjukkan bahwa latihan beban bukan hanya aman, tetapi juga bermanfaat bagi anak-anak dan remaja—dengan syarat dilakukan di bawah supervisi yang kompeten, menggunakan teknik yang benar, dan dengan progresivitas yang terencana. (1)
Kasus Lucy secara khusus menunjukkan bagaimana latihan intensitas tinggi pun dapat dijalankan dengan bertanggung jawab ketika seluruh elemen keselamatan terpenuhi: training age yang memadai, instruktur berpengalaman, pemantauan medis berkala, serta motivasi yang sepenuhnya berasal dari anak itu sendiri. Kekhawatiran publik mengenai risiko pertumbuhan terhambat akibat latihan beban tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat, dan merupakan mitos yang telah lama dibantah oleh literatur pediatri modern.
Sebagai dokter anak, peran kita adalah menjadi mitra yang terinformasi bagi orang tua dan pelatih: membantu mengidentifikasi anak-anak yang memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum memulai program latihan beban, mengedukasi mengenai pentingnya teknik dan supervisi, serta memantau tanda-tanda overtraining. Tidak semua anak akan menjadi Lucy Milgrim—dan memang tidak harus demikian. Namun setiap anak, tanpa terkecuali, dapat dan seharusnya mendapat manfaat dari program latihan kekuatan yang disesuaikan dengan usianya, karena kekuatan yang memadai adalah fondasi dari kesehatan jangka panjang.
Referensi
1. Kolata G. Kid fitness influencers: Should parents be worried? The New York Times. 2026 May 30. Available from: https://www.nytimes.com/2026/05/30/well/move/kid-fitness-influencers.html
2. Dastagir AE. Lucy Milgrim, the child powerlifter who did a 180-pound deadlift. USA Today. 2026 Mar 21. Available from: https://www.usatoday.com/story/sports/2026/03/21/lucy-milgrim-child-powerlifter-180-pound-deadlift/89192484007/
3. Stricker PR, Faigenbaum AD, McCambridge TM, AAP Council on Sports Medicine and Fitness. Resistance Training for Children and Adolescents. Pediatrics. 2020;145(6):e20201011. doi:10.1542/peds.2020-1011 [Reaffirmed November 2024].