
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
22 Jan 2026
Topik: Responsive Feeding, Hunger Cues, Panduan
Latar Belakang
Responsive feeding merupakan pendekatan pemberian makan yang menempatkan interaksi antara pengasuh dan anak sebagai inti proses makan, dengan menghormati sinyal lapar dan kenyang anak serta memberikan dukungan emosional yang konsisten. WHO dan UNICEF mendefinisikan responsive feeding sebagai praktik di mana pengasuh secara aktif memperhatikan sinyal anak, merespons secara tepat waktu dan sesuai, serta menciptakan lingkungan makan yang aman, suportif, dan bebas tekanan .Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa makan bukan sekadar proses pemenuhan asupan nutrisi, melainkan juga bagian dari pembelajaran, regulasi diri, dan pembentukan hubungan emosional antara anak dan pengasuh. (1)
Responsive Feeding
Dalam praktik klinis, responsive feeding mencakup serangkaian perilaku pengasuh yang secara konsisten menghormati kapasitas anak untuk mengatur asupan makannya sendiri. Pada praktik pemberian makan yang responsif, pengasuh mendorong anak untuk makan tanpa paksaan, memberi makan secara perlahan dan sabar, serta mendukung anak untuk secara bertahap belajar makan sendiri, dengan memahami bahwa proses belajar ini dapat melibatkan kekacauan dan ketidaksempurnaan. Waktu makan juga dimanfaatkan sebagai momen interaksi dan pembelajaran, dengan kontak mata, komunikasi verbal, serta minim distraksi agar anak tetap terlibat dalam proses makan. (1)
Sebaliknya, praktik pemberian makan bisa dibilang non-responsif jika proses berlangsung dengan dominasi pengasuh dalam situasi makan, seperti memaksa anak menghabiskan makanan meskipun anak telah menunjukkan tanda kenyang, atau tetap menyuapi anak yang sebenarnya sudah mampu makan sendiri. Pendekatan ini juga mencakup kurangnya perhatian terhadap perilaku anak yang mengganggu pembentukan kebiasaan makan sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan, serta mengabaikan interaksi selama waktu makan karena distraksi seperti televisi atau gawai.(1,2) Praktik non-responsif telah dikaitkan dengan gangguan regulasi nafsu makan, peningkatan risiko picky eating yang persisten, serta kecenderungan makan berlebih pada usia selanjutnya. (3)
Sinyal Lapar dan Kenyang pada Anak Usia Dini
Salah satu komponen kunci dalam responsive feeding adalah kemampuan pengasuh mengenali dan merespons sinyal-sinyal lapar dan kenyang. sinyal lapar pada bayi dan anak kecil dapat berupa peningkatan kewaspadaan, gerakan mencari makanan, membuka mulut saat melihat makanan, atau menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas makan. Sebaliknya, sinyal kenyang meliputi memperlambat kecepatan makan, memalingkan kepala, menutup mulut, atau kehilangan minat terhadap makanan. WHO menekankan bahwa menghormati sinyal kenyang sama pentingnya dengan merespons sinyal lapar, karena hal ini mendukung perkembangan regulasi diri terhadap asupan energi . (1)
Kesimpulan dan Penutup
Responsive feeding merupakan strategi pemberian makan yang berbasis bukti dan perkembangan anak, dengan implikasi jangka panjang terhadap kesehatan fisik, perilaku makan, dan kesejahteraan psikososial. Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman dan penerapan prinsip responsive feeding menjadi komponen penting dalam upaya pencegahan malnutrisi ganda, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan menjadikan waktu makan sebagai ruang belajar, interaksi, serta pemberian kasih sayang dan dukungan, responsive feeding menempatkan relasi pengasuh–anak sebagai fondasi utama kesehatan anak sepanjang daur kehidupan . (1,2)
Daftar Pustaka