
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
15 Apr 2026
Topik: Hipotermia, Panduan, Tatalaksana
Kasus hipotermia pada anak kembali menjadi perhatian publik setelah laporan seorang balita usia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah menjadi viral. Kejadian ini terjadi ketika keluarga tersebut mencapai puncak dalam kondisi cuaca yang berubah drastis menjadi hujan deras disertai angin kencang, sehingga menyebabkan penurunan suhu lingkungan secara signifikan. Anak mengalami menggigil hebat dan penurunan kesadaran sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan dan dievakuasi oleh tim penyelamat. (1) Berikut adalah hal yang perlu diketahui sebagai dokter dan tenaga kesehatan mengenai hipotermia pada anak.
Apa Itu Hipotermia dan Kenapa Anak Lebih Rentan?
Hipotermia didefinisikan sebagai penurunan suhu inti tubuh di bawah 35°C. Berdasarkan derajat keparahan, hipotermia diklasifikasikan sebagai berikut (3-5):
Anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap hipotermia dibandingkan orang dewasa. Rasio luas permukaan tubuh terhadap massa yang lebih besar menyebabkan kehilangan panas yang lebih cepat. Selain itu, cadangan energi yang terbatas, kemampuan menggigil yang belum optimal, serta imaturitas sistem saraf pusat dalam mengatur termoregulasi membuat anak sulit mempertahankan suhu inti tubuh. (2)
Dari Kedinginan ke Kegawatan: Apa yang Terjadi pada Tubuh?
Paparan suhu dingin akan memicu vasokonstriksi perifer sebagai mekanisme kompensasi awal. Namun, pada paparan yang berlanjut, mekanisme ini menjadi tidak efektif, sehingga terjadi penurunan metabolisme seluler, gangguan fungsi enzim, serta disfungsi organ. Hipotermia yang progresif dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat, gangguan irama jantung, serta koagulopati. (2)
Konsekuensi klinis hipotermia pada anak meliputi penurunan kesadaran, hipoglikemia, bradikardia, hingga henti jantung. Pada kasus berat, dapat terjadi kerusakan neurologis permanen akibat gangguan perfusi dan hipoksia jaringan. (2)
Tata Laksana Hipotermia pada Anak Berdasarkan Grading
Tata laksana hipotermia pada anak berfokus pada stabilisasi awal serta rewarming yang terkontrol.
Pada fase awal, seluruh pasien harus menjalani stabilisasi airway, breathing, dan circulation, disertai pengukuran suhu inti tubuh. Pasien harus ditangani secara hati-hati dalam posisi supine untuk mencegah aritmia akibat mobilisasi darah perifer yang dingin. Intervensi awal meliputi pelepasan pakaian basah, selimuti pasien dengan selimut kering, pemberian oksigen hangat dan lembap (37°C), serta cairan intravena hangat (40–44°C) untuk mencegah perburukan hipotermia. (4)
Pada hipotermia ringan (32–35°C), penghangatan pasif dan aktif eksternal umumnya cukup. Pendekatan meliputi penggunaan selimut hangat dan perangkat pemanas seperti forced-air warming system, disertai pemantauan suhu inti tubuh dan irama jantung. (4)
Pada hipotermia sedang (28–32°C), diperlukan penghangatan aktif eksternal yang lebih intensif, terutama dengan forced-air warming, disertai resusitasi cairan agresif menggunakan cairan hangat (bolus awal 20 mL/kg). Pemantauan ketat diperlukan karena risiko afterdrop dan rewarming shock akibat redistribusi darah dingin dari perifer ke sirkulasi sentral. (4)
Pada hipotermia berat (<28°C), tata laksana bergantung pada status sirkulasi. Pada pasien dengan sirkulasi yang masih teraba, penghangatan aktif internal menjadi pilihan utama, termasuk lavage hangat pada pleura, atau peritoneumMetode ini lebih efektif dalam meningkatkan suhu inti tanpa memperburuk ketidakstabilan hemodinamik. (4)
Pada pasien dengan hipotermia berat disertai henti sirkulasi, metode rewarming ekstrakorporeal seperti extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) menjadi pilihan utama karena mampu memberikan dukungan sirkulasi sekaligus rewarming cepat. (4)
Selain itu, tata laksana harus mencakup koreksi hipovolemia akibat diuresis yang diakibatkan dari kondisi dingin, pemantauan ketat fungsi kardiovaskular, serta evaluasi gangguan metabolik seperti hipoglikemia. Bradikardi pada hipotermia sering bersifat fisiologis dan membaik dengan rewarming, sementara aritmia berat umumnya refrakter walaupunsuhu tubuh meningkat. (4)
Pencegahan Hipotermia pada Anak
Pencegahan hipotermia pada anak berfokus pada edukasi orang tua mengenai keterbatasan fisiologis anak dalam menghadapi suhu dingin. Anak tidak memiliki kemampuan termoregulasi sebaik orang dewasa, sehingga paparan lingkungan dingin harus dibatasi dan disesuaikan dengan usia serta kondisi anak. Penggunaan pakaian berlapis, menjaga tubuh tetap kering, serta memastikan asupan nutrisi yang cukup menjadi langkah dasar yang penting. Orang tua juga perlu mengenali tanda awal hipotermia agar dapat melakukan intervensi lebih dini.
Dalam konteks berita yang telah dipaparkan, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, SpA Subs ETIA(K), dikutip dari DetikHealth, menekankan bahwa tidak tepat mengasumsikan anak akan kuat mendaki hanya karena orang tuanya terbiasa. Menurut beliau, jika ingin mengenalkan anak pada alam, pendekatan yang dianjurkan adalah start low, go slow, dimulai dari aktivitas ringan dengan pemantauan ketat terhadap respons anak. Terlebih di lingkungan seperti gunung yang minim akses medis, risiko dapat meningkat cepat bila orang tua tidak siap. Oleh karena itu, prinsip utama yang harus dipegang adalah memastikan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama dibandingkan ambisi aktivitas.
Hipotermia: Bukan Sekadar Kedinginan, Melainkan Kondisi Kegawatan
Hipotermia pada anak merupakan kondisi kegawatan yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Kerentanan fisiologis anak terhadap kehilangan panas menjadikan mereka kelompok berisiko tinggi, terutama pada paparan lingkungan ekstrem. Sebagai respon, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa bayi dan balita merupakan kelompok dengan risiko tinggi mengalami hipotermia. IDAI juga menekankan bahwa membawa anak kecil ke lingkungan ekstrem seperti pegunungan dengan suhu rendah dan cuaca tidak stabil merupakan tindakan berisiko tinggi yang dapat berujung pada kondisi kegawatan.(1)
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa edukasi kepada orang tua terkait risiko lingkungan ekstrem pada anak harus terus diperkuat sebagai bagian dari upaya pencegahan yang komprehensif demi keselamatan anak.
Daftar Pustaka