
Ditulis oleh

di. Afiah Salsabila
17 Mei 2026
Topik: Basic Life Support, Bayi Tersedak, Panduan
Latar Belakang
Henti jantung pada anak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membawa beban mortalitas dan morbiditas neurologis yang signifikan. Data epidemiologis menunjukkan bahwa insidens out-of-hospital cardiac arrest (OHCA) pada populasi pediatri mencapai 8,04 per 100.000 orang per tahun, dengan angka yang jauh lebih tinggi pada kelompok bayi, yakni sekitar 72,71 per 100.000 orang per tahun. Angka kelangsungan hidup (survival to discharge) secara keseluruhan masih sangat rendah, berkisar antara 6% hingga kurang dari 11%, dengan variasi antar kelompok usia. (1)
Berbeda dari henti jantung pada dewasa yang sebagian besar disebabkan oleh etiologi kardiak primer, henti jantung pada anak didominasi oleh kondisi respiratorik yang berujung pada hipoksia dan asfiksia. Hal ini memiliki implikasi terapeutik yang mendasar: intervensi awal pada jalur napas dan ventilasi adalah pilar utama resusitasi pediatri. (1) Dalam konteks ini, basic life support (BLS) yang berkualitas tinggi dan dimulai segera—baik oleh penolong awam maupun tenaga kesehatan, terbukti meningkatkan luaran klinis secara bermakna.
Merespons perkembangan bukti ilmiah terkini, American Heart Association (AHA) bersama American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan panduan terbaru pada tahun 2025, menandai pembaruan komprehensif pertama sejak 2020 dan sekaligus merupakan kolaborasi setara pertama antara kedua organisasi tersebut dalam pengembangan panduan resusitasi pediatri. (1)
Algoritma dan Pembaruan Kunci BLS Pediatri 2025
Pengenalan Dini dan Inisiasi CPR
Pengenalan segera terhadap henti jantung merupakan langkah kritis pertama. Pada bayi dan anak yang tidak responsif disertai pernapasan abnormal—termasuk gasping—penolong harus segera mengaktifkan layanan gawat darurat dan memulai CPR berkualitas tinggi yang dimulai dengan kompresi dada. (1) Untuk menghindari penundaan yang fatal, pemeriksaan nadi tidak boleh melebihi 10 detik; apabila nadi tidak terdeteksi atau meragukan, kompresi harus segera dimulai.
Komponen CPR Berkualitas Tinggi
CPR berkualitas tinggi merupakan fondasi resusitasi. Komponen kuncinya meliputi: laju kompresi yang adekuat (100–120 kompresi per menit), kedalaman kompresi yang tepat (setidaknya sepertiga diameter anteroposterior dada), minimalisasi interupsi, complete chest recoil di antara kompresi, serta menghindari ventilasi berlebihan. (1)
Pembaruan signifikan dalam panduan 2025 terdapat pada teknik kompresi untuk bayi. Teknik dua jari sepanjang sternum (2-finger along sternum technique) kini dieliminasi karena terbukti tidak efektif dalam mencapai kedalaman kompresi yang adekuat. Teknik yang direkomendasikan adalah 1-hand technique atau 2 thumb–encircling hands technique. Apabila penolong tidak dapat melingkari dada bayi, teknik heel-of-1-hand direkomendasikan sebagai alternatif. (1)
Ventilasi dan Laju Napas
Mengingat dominasi etiologi respiratorik pada henti jantung pediatri, pemberian napas buatan memiliki peran yang lebih krusial dibandingkan pada dewasa. Panduan 2025 secara eksplisit mendorong penolong awam untuk memberikan napas apabila mampu dan bersedia melakukannya pada kasus OHCA, karena bukti menunjukkan bahwa rescue breathing dikombinasikan dengan kompresi dada meningkatkan angka kelangsungan hidup. (1)
Pembaruan penting lainnya adalah rekomendasi laju napas sebesar 20–30 napas per menit untuk bayi dan anak yang: (a) menerima CPR dengan advanced airway terpasang, atau (b) menerima napas buatan dalam kondisi masih memiliki nadi. Laju ini lebih spesifik dan berbasis bukti dibandingkan rekomendasi sebelumnya. (1)
Obstruksi Jalan Napas oleh Benda Asing
Panduan 2025 mempertegas protokol penanganan foreign-body airway obstruction (FBAO) berat dengan pembedaan yang jelas berdasarkan usia. Pada bayi, direkomendasikan siklus berulang 5 back blows yang diikuti 5 chest thrusts; manuver abdominal (abdominal thrust atau Heimlich maneuver) secara tegas tidak direkomendasikan pada kelompok usia ini karena risiko cedera organ intraabdominal. Pada anak, protokolnya adalah siklus berulang 5 back blows diikuti 5 abdominal thrusts. (1)
Defibrilasi
Untuk ritme yang dapat didefibrilasi—fibrilasi ventrikel (VF) dan takikardia ventrikel tanpa nadi (pVT)—pemasangan automated external defibrillator (AED) harus dilakukan sesegera mungkin menggunakan pediatric attenuator dan pediatric pads apabila tersedia. Minimalisasi jeda peri-shock merupakan kunci keberhasilan defibrilasi, dan penundaan dalam pemberian shock pertama berkorelasi langsung dengan penurunan luaran. (1)
Kesimpulan
Panduan BLS Pediatri AHA/AAP 2025 menghadirkan beberapa pembaruan berbasis bukti yang memiliki implikasi langsung bagi praktik klinis dokter anak di Indonesia. Eliminasi teknik dua jari pada kompresi bayi, spesifikasi laju napas 20–30 kali per menit pada kondisi tertentu, diferensiasi protokol FBAO berdasarkan usia, serta penekanan kuat pada rescue breathing untuk OHCA pediatri merupakan poin-poin yang memerlukan internalisasi dan pemutakhiran kompetensi secara aktif. (1)
Secara fundamental, panduan ini menegaskan kembali bahwa etiologi respiratorik mendominasi henti jantung pada anak, sehingga optimalisasi ventilasi dan oksigenasi harus menjadi prioritas resusitasi. Kualitas CPR yang tinggi, pengenalan dini, dan defibrilasi segera pada ritme yang dapat ditangani merupakan rangkaian tindakan yang tidak dapat dipisahkan dalam rantai keselamatan (chain of survival) pediatri. Bagi dokter anak Indonesia, penguasaan dan pembaruan kompetensi BLS secara berkala bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan investasi langsung dalam penyelamatan jiwa pasien yang paling rentan.
Gambar 1. Chain of Survival
Referensi
Joyner BL, Dewan M, Bavare A, de Caen A, DiMaria K, Donofrio-Odmann J, Fosse G, Haskell S, Mahgoub M, Meckler G, Requist J, Schexnayder SM, Olech Smith M, Werho D, Raymond TT. Part 6: pediatric basic life support: 2025 American Heart Association and American Academy of Pediatrics Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2025;152(suppl 2):S424–S447. doi: 10.1161/CIR.0000000000001370.