
Author: dr. Afiah Salsabila
14 Jan 2026
Topik: Breath-Holding Spell, Ilmiah, Anemia Defisiensi Besi
Latar Belakang
Breath-holding spell merupakan salah satu kondisi yang paling sering menimbulkan kepanikan pada orang tua dan pengasuh. Dalam praktik sehari-hari, episode ini sering terjadi secara tiba-tiba, misalnya saat anak mengalami frustasi, marah, atau nyeri. Anak biasanya mulai menangis keras, kemudian mendadak berhenti bernapas, kemudian wajahnya tampak pucat atau kebiruan, disertai penurunan kesadaran yang berlangsung singkat. Tidak jarang orang tua mengira kondisi ini sebagai kejang atau gangguan jantung, sehingga membawa anak ke fasilitas kesehatan dengan kecemasan tinggi . (1)
Breath-holding spell bukan merupakan gangguan pernapasan primer, melainkan fenomena refleks yang berkaitan dengan regulasi otonom dan respons emosional anak. Pemahaman yang tepat mengenai kondisi ini sangat penting bagi dokter anak untuk memberikan edukasi yang menenangkan sekaligus membedakan breath-holding spell dari kondisi neurologis atau kardiologis yang lebih serius.
Definisi dan Gambaran Klinis
Breath-holding spell didefinisikan sebagai episode paroksismal non-epileptik yang ditandai dengan penahanan napas secara involunter setelah menangis atau stimulasi emosional tertentu, yang dapat diikuti oleh perubahan warna kulit dan penurunan kesadaran sementara. Kondisi ini umumnya mulai terjadi sebelum anak berusia 18 bulan dan berhenti pada usia 6 tahun. (1)
Secara klinis, breath-holding spell diklasifikasikan menjadi dua bentuk utama, yaitu tipe sianotik dan tipe pallid. Tipe sianotik merupakan bentuk yang paling sering ditemukan dan biasanya dipicu oleh kemarahan atau frustrasi, ditandai dengan tangisan kuat diikuti apnea ekspirasi dan sianosis. Tipe pallid lebih jarang, sering dipicu oleh nyeri atau ketakutan mendadak, dan ditandai dengan pucat, bradikardia, serta sinkop singkat akibat refleks vagal . (1)
Patofisiologi dan Faktor Risiko
Mekanisme terjadinya breath-holding spell belum sepenuhnya dipahami, namun diyakini melibatkan disfungsi sementara sistem saraf otonom. Pada tipe sianotik, apnea ekspirasi dan hipoksia sementara berperan dalam munculnya gejala, sedangkan pada tipe pallid, peningkatan tonus vagal dapat menyebabkan penurunan denyut jantung dan perfusi serebral . (1)
Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi, termasuk riwayat keluarga breath-holding spell, temperamen anak yang mudah frustasi, serta defisiensi besi. Hubungan antara defisiensi besi dan breath-holding spell cukup konsisten dilaporkan, dan suplementasi besi terbukti dapat menurunkan frekuensi dan keparahan episode, bahkan pada anak tanpa anemia berat . (1)
Implikasi Klinis dan Komplikasi
Secara umum, breath-holding spell bersifat jinak dan tidak menyebabkan kerusakan neurologis jangka panjang. Episode biasanya berlangsung kurang dari satu menit dan akan berhenti spontan. Pada sebagian kecil kasus, episode dapat disertai gerakan tonik atau klonik singkat akibat hipoksia serebral, yang sering kali disalahartikan sebagai kejang epileptik . (1)
Meskipun jarang, komplikasi yang dapat muncul meliputi trauma akibat jatuh saat sinkop serta dampak psikososial pada keluarga akibat kecemasan berulang. Tidak terdapat bukti bahwa breath-holding spell meningkatkan risiko epilepsi atau gangguan jantung di kemudian hari . (1)
Tata Laksana dan Edukasi Orang Tua
Penatalaksanaan utama breath-holding spell adalah edukasi dan menenangkan orang tua. Sarankan orang tua untuk melakukan hal-hal berikut jika anak mengalami episode breath-holding spell:
Kesimpulan dan Penutup
Breath-holding spell merupakan kondisi paroksismal non-epileptik yang sering terjadi pada anak usia dini dan bersifat jinak. Meskipun tampak dramatis dan menakutkan, kondisi ini tidak berhubungan dengan kerusakan neurologis jangka panjang. Peran dokter anak sangat penting dalam mengenali breath-holding spell, membedakannya dari kondisi serius lain, serta memberikan edukasi yang tepat untuk mengurangi kecemasan keluarga dan mencegah intervensi yang tidak perlu.
Daftar Pustaka