
Diet Ketogenik pada Anak dengan Epilepsi: Efektivitas, Mekanisme, dan Pertimbangan Klinis
Author: dr. Afiah Salsabila
19 Feb 2026
Topik: epilepsy, Diet Ketogenik, Ilmiah
Latar Belakang
Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronik yang ditandai oleh kecenderungan terjadinya kejang berulang akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Pada populasi anak, epilepsi menjadi salah satu penyakit saraf yang memerlukan penanganan jangka panjang dan pemantauan berkelanjutan. Meskipun sebagian besar pasien dapat mencapai kontrol kejang dengan obat antiepilepsi, sekitar 20–30% anak mengalami epilepsi resisten obat, yaitu kondisi di mana kejang tetap terjadi meskipun telah diberikan dua regimen obat yang adekuat dan sesuai. . (2)
Pada kelompok inilah terapi tambahan menjadi penting untuk dipertimbangkan. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang telah lama digunakan dan kembali mendapat perhatian adalah diet ketogenik. Diet ini bukan terapi baru, tetapi telah digunakan sejak awal abad ke-20 sebelum era obat antiepilepsi modern. Pertanyaannya adalah, sejauh mana diet ketogenik efektif dan pada siapa terapi ini direkomendasikan?
Epilepsi dan Mekanisme Dasarnya
Secara patofisiologis, epilepsi terjadi akibat ketidakseimbangan antara aktivitas neuron eksitatorik dan inhibitorik. Peningkatan aktivitas glutamat sebagai neurotransmiter eksitatorik atau penurunan fungsi gamma-aminobutyric acid (GABA) sebagai neurotransmiter inhibitorik dapat memicu hipereksitabilitas neuron. Gangguan kanal ion, disfungsi mitokondria, perubahan metabolisme energi otak, serta faktor genetik turut berperan dalam epileptogenesis. (1)
Penanganan utama epilepsi pada anak adalah pemberian obat antiepilepsi yang disesuaikan dengan tipe kejang dan sindrom epilepsi. Namun pada kasus resisten obat, diperlukan pendekatan lain seperti pembedahan epilepsi, stimulasi saraf vagus, maupun diet ketogenik. (2)
Diet Ketogenik dan Mekanisme Kerja
Diet ketogenik adalah pola makan tinggi lemak, protein sedang, dan sangat rendah karbohidrat yang bertujuan menginduksi keadaan ketosis. Dalam kondisi ini, tubuh menghasilkan badan keton seperti beta-hidroksibutirat dan asetoasetat sebagai sumber energi utama menggantikan glukosa. (1)
Beberapa mekanisme diduga berperan dalam efek antikejang diet ketogenik. Badan keton dapat meningkatkan transmisi GABAergik dan menurunkan eksitabilitas neuron. Selain itu, diet ini diperkirakan dapat memperbaiki fungsi mitokondria, meningkatkan stabilitas metabolisme energi sel saraf, mengurangi stres oksidatif, serta memodulasi jalur inflamasi. Perubahan komposisi mikrobiota usus juga diduga berkontribusi terhadap efek protektif melalui sumbu usus–otak. (1)
Dengan demikian, diet ketogenik bekerja melalui berbagai jalur biologis yang saling berkaitan dalam menurunkan kecenderungan terjadinya kejang.
Bukti Ilmiah Mengenai Efektivitasnya
Tinjauan sistematis Cochrane terbaru menunjukkan bahwa diet ketogenik efektif dalam menurunkan frekuensi kejang pada anak dengan epilepsi resisten obat. Proporsi anak yang mengalami penurunan kejang sebesar ≥50% secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang menjalani diet ketogenik dibandingkan kelompok kontrol. Sebagian kecil pasien bahkan dapat mencapai kondisi bebas kejang. (2)
Ulasan ilmiah lainnya juga menyatakan bahwa diet ketogenik menunjukkan manfaat konsisten pada berbagai sindrom epilepsi, termasuk sindrom Dravet dan epilepsi mioklonik-atoni. Respons terhadap terapi umumnya mulai terlihat dalam beberapa minggu hingga bulan pertama. (1)
Meskipun demikian, kualitas bukti dari penelitian satu ke penelitian lainnya bervariasi, dengan ukuran sampel yang relatif kecil pada beberapa studi dan variasi jenis diet yang digunakan. Namun secara keseluruhan, diet ketogenik diakui sebagai terapi berbasis bukti untuk epilepsi resisten obat pada anak. (2)
Kandidat yang Sesuai dan Pertimbangan Klinis
Diet ketogenik paling direkomendasikan pada anak dengan epilepsi resisten obat, terutama pada sindrom tertentu seperti sindrom Dravet, epilepsi mioklonik-atoni, dan defisiensi transporter glukosa tipe 1. Pada defisiensi GLUT1, diet ketogenik bahkan menjadi terapi lini pertama karena gangguan utama terletak pada transport glukosa ke otak. (1)
Namun terdapat sejumlah pertimbangan klinis yang harus diperhatikan. Diet ketogenik memerlukan pengawasan ketat oleh tim multidisipliner yang terdiri dari dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya. Efek samping yang dapat muncul meliputi konstipasi, hiperlipidemia, gangguan pertumbuhan, batu ginjal, serta defisiensi mikronutrien. Oleh karena itu, pemantauan profil lipid, fungsi ginjal, status nutrisi, serta pertumbuhan anak, dan kondisi klinis secara menyeluruh sangat penting selama terapi. (1,2)
Selain aspek medis, faktor psikososial juga perlu diperhatikan. Diet yang restriktif dapat menjadi beban bagi keluarga dan anak, sehingga kesiapan dan dukungan keluarga merupakan faktor kunci keberhasilan terapi.
Kesimpulan dan Penutup
Diet ketogenik merupakan intervensi nonfarmakologis yang terbukti efektif pada anak dengan epilepsi resisten obat dan memiliki dasar mekanisme biologis yang kuat dalam menurunkan eksitabilitas neuron. Bukti ilmiah menunjukkan penurunan frekuensi kejang yang bermakna pada sebagian besar pasien yang tepat indikasi.
Meskipun demikian, terapi ini memerlukan seleksi pasien yang cermat, pemantauan ketat, serta pendekatan lintas disiplin untuk meminimalkan risiko dan memastikan keberhasilan jangka panjang. Bagi dokter anak, pemahaman komprehensif mengenai indikasi, mekanisme kerja, serta potensi efek samping diet ketogenik sangat penting dalam pengambilan keputusan klinis yang berbasis bukti dan berorientasi pada kepentingan terbaik pasien.
Daftar Pustaka
- D’Andrea Meira I, Romão TT, Pires do Prado HJ, Krüger LT, Pires MEP, da Conceição PO. Ketogenic diet and epilepsy: what we know so far. Front Neurosci. 2019;13:5.
- Martin-McGill KJ, Bresnahan R, Levy RG, Cooper PN. Ketogenic diets for drug‐resistant epilepsy. Cochrane Database Syst Rev. 2020;6:CD001903.
