
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
28 Mei 2026
Topik: Pica Eating, Picky Eater, Ilmiah
Latar Belakang
Picky eating, yang dalam literatur juga disebut fussy eating, merupakan perilaku makan yang sangat umum dijumpai pada masa awal anak, khususnya antara usia satu hingga enam tahun. Hingga saat ini, belum terdapat konsensus universal mengenai definisi baku maupun instrumen diagnostik tunggal yang disepakati untuk mengidentifikasi kondisi ini. Secara operasional, picky eating dapat dipahami sebagai pola perilaku makan di mana anak menolak sejumlah besar jenis makanan, baik yang sudah dikenal maupun yang baru diperkenalkan, sehingga variasi asupan diet menjadi terbatas secara signifikan.
Pemahaman yang komprehensif mengenai faktor-faktor penyebabnya menjadi dasar penting dalam menentukan strategi pencegahan dan intervensi dini. Artikel ini merangkum bukti-bukti terkini yang relevan bagi dokter anak dalam konteks konsultasi klinis sehari-hari.
Faktor-Faktor Penyebab Picky Eating
1. Kesulitan Makan pada Masa Awal Kehidupan
Riwayat kesulitan makan sejak periode neonatal dan bayi muda, termasuk kesulitan menghisap, refluks gastroesofageal, maupun keterlambatan perkembangan oromotor , merupakan prediktor signifikan terhadap munculnya perilaku picky eating di kemudian hari. (1) Pengalaman makan yang tidak menyenangkan pada fase ini dapat membentuk asosiasi negatif terhadap makanan secara lebih luas, sehingga anak mengembangkan respons penolakan yang bersifat generalisata bahkan setelah masalah medis primernya teratasi.
2. Keterlambatan Introduksi Makanan Bertekstur (Lumpy Foods)
Periode sensitif dalam perkembangan kemampuan menerima tekstur makanan diperkirakan berlangsung antara usia empat hingga tujuh bulan. Introduksi makanan bertekstur yang dilakukan terlambat, melewati jendela periode sensitif ini, berkaitan erat dengan peningkatan risiko penolakan makanan di usia selanjutnya. Anak yang terlambat terpapar tekstur selain puree cenderung memiliki ambang toleransi sensorik yang lebih rendah terhadap variasi konsistensi dan tekstur makanan, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembentukan pola picky eating.
3. Kecenderungan Selektif Awal (Early Choosiness) yang Tidak Ditangani
Perilaku selektif terhadap makanan yang muncul sejak dini dan tidak mendapatkan respons orang tua yang adekuat dapat mengalami penguatan secara bertahap. Secara khusus, kekhawatiran ibu yang berlebihan terhadap asupan makan anak, tanpa bimbingan klinis yang tepat, terbukti memperburuk pola selektif ini. Kondisi ini menciptakan siklus negatif di mana kecemasan orang tua berdampak pada strategi pemberian makan yang kontraproduktif, dan pada gilirannya memperkuat perilaku penolakan anak.
4. Tekanan untuk Makan (Pressure to Eat)
Penggunaan tekanan — baik secara verbal, emosional, maupun fisik — sebagai strategi untuk meningkatkan asupan makan anak telah diidentifikasi sebagai faktor yang justru memperparah picky eating, bukan memperbaikinya. (1) Tekanan saat makan mengurangi otonomi anak dalam mengatur asupannya sendiri (self-regulation), meningkatkan asosiasi negatif dengan situasi makan, dan pada jangka panjang dapat menurunkan variasi makanan yang bersedia diterima anak. Pola pemberian makan yang bersifat koersif ini sering kali berakar dari kecemasan orang tua terhadap kecukupan nutrisi anak, yang perlu ditangani dalam konsultasi klinis.
5. Minimnya Paparan terhadap Makanan Segar dan Beragam
Anak yang tidak terpapar secara konsisten pada makanan segar dan beragam sejak masa weaning memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan preferensi makanan yang sempit. (1) Hal ini berkaitan dengan konsep food neophobia, yaitu ketakutan terhadap makanan yang tidak familiar, yang secara fisiologis memuncak antara usia dua hingga enam tahun. Keterbatasan paparan pada masa kritis ini dapat menetap sebagai pola selektif yang sulit diubah, terutama bila tidak diintervensi sejak dini.
6. Pola Makan yang Berbeda antara Anak dan Keluarga
Kebiasaan menyajikan menu yang terpisah atau berbeda antara anak dan anggota keluarga lainnya merupakan faktor yang secara konsisten dikaitkan dengan perilaku picky eating. (1) Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi makanan yang sama dengan orang tuanya, dalam konteks makan bersama, memiliki variasi diet yang lebih baik. Pemisahan menu ini tidak hanya meniadakan kesempatan anak untuk menyaksikan model makan yang positif (parental modelling), tetapi juga memperkuat persepsi bahwa preferensi selektif anak merupakan sesuatu yang perlu diakomodasi secara permanen.
Kesimpulan
Picky eating pada anak merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor biologis, perkembangan, dan lingkungan pengasuhan. Identifikasi dini terhadap faktor-faktor risiko yang telah diuraikan di atas, meliputi riwayat kesulitan makan, keterlambatan introduksi tekstur, strategi pemberian makan yang tidak tepat, serta minimnya paparan variasi makanan, memungkinkan dokter anak untuk merancang intervensi yang lebih terarah dan berbasis bukti.
Dalam praktik klinis, penting bagi dokter anak untuk membedakan picky eating yang bersifat transien dan fisiologis dari kondisi yang memerlukan penanganan lebih intensif, seperti Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Konseling orang tua yang efektif, yang menekankan pentingnya paparan berulang terhadap makanan baru, pemodelan perilaku makan yang sehat oleh orang tua, serta penciptaan suasana makan yang positif, tetap menjadi pilar utama tata laksana picky eating di tingkat layanan primer maupun spesialistis.
Referensi
Taylor CM, Emmett PM. Picky eating in children: causes and consequences. Proc Nutr Soc. 2019 May;78(2):161-169. doi: 10.1017/S0029665118002586. Epub 2018 Nov 5. PMID: 30392488; PMCID: PMC6398579.