
Author: dr. Afiah Salsabila
25 Nov 2025
Topik: Demam, Demam Dengue, Fever of Unknown Origin
Fever of unknown origin (FUO) merupakan tantangan klinis yang cukup kompleks. Saat ini, definisi FUO yang diterima secara luas adalah demam ≥38,3°C setidaknya satu kali per hari selama lebih dari delapan hari pada anak yang telah menjalani anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium tingkat pertama tanpa diperoleh penyebab yang jelas.
Berdasarkan etiologinya, FUO dibagi menjadi empat kategori, yaitu: (1) infeksi, (2) inflamasi/autoimun, (3) neoplasma, dan (4) miscellaneous. Infeksi merupakan penyebab terbesar disusul penyakit inflamasi dan neoplastik. Tren global juga menunjukkan bahwa negara berkembang memiliki porsi penyebab infeksi yang lebih tinggi, termasuk tuberkulosis, HIV, malaria, dan bruselosis, seiring keterbatasan akses layanan diagnostik. Faktor usia turut berperan, dimana bayi cenderung didominasi infeksi bakteri, sedangkan pada usia prasekolah lebih sering disebabkan infeksi virus; kelompok usia lebih besar memiliki kemungkinan lebih tinggi menderita penyakit autoimun atau neoplasma .
Pendekatan evaluasi FUO harus dimulai dengan anamnesis yang rinci. Durasi, pola demam, pengaruh antipiretik, dan cara pengukuran suhu dapat memberikan petunjuk awal mengenai etiologi. Riwayat perjalanan, konsumsi susu tidak pasteurisasi, kontak hewan, riwayat berenang di air tawar, penggunaan alat medis implan, hingga riwayat imunisasi sangat relevan untuk memetakan kemungkinan infeksi spesifik . Manifestasi sistemik seperti penurunan berat badan, keringat malam, pruritus, dan astenia berpotensi menjadi indikator penyakit neoplastik atau inflamasi kronis. Tidak kalah penting, anamnesis harus diulang secara berkala karena orang tua sering mengingat informasi baru setelah evaluasi awal.
Pemeriksaan fisik yang sangat teliti dan berulang menjadi pilar lain dalam pendekatan FUO. Banyak tanda khas yang baru muncul beberapa hari setelah evaluasi pertama, bahkan hingga 25% tanda klinis bermakna muncul setelah pemeriksaan awal . Lesi kulit karakteristik seperti ruam salmon pada systemic juvenile idiopathic arthritis, malar rash pada lupus, atau petekie pada vaskulitis dan endokarditis dapat mengarahkan diagnosis. Hepatosplenomegali, limfadenopati persisten, kelainan kardiak baru, nyeri tulang fokal, atau tanda iritasi meningeal merupakan red flags yang memerlukan investigasi lanjutan. Pada bayi dan balita, manifestasi klinis sering subtil sehingga pemeriksaan fisik berulang menjadi sangat penting.
Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dasar meliputi darah lengkap, laju endap darah, C-reactive protein, prokalsitonin, serta analisis urin. Kelainan hematologi seperti anemia, limfositosis, eosinofilia, atau sitopenia multipel dapat mengarah pada dugaan infeksi tertentu, penyakit inflamasi, atau neoplasia. Adanya radang hebat meningkatkan kemungkinan adanya infeksi bakteri atau penyakit inflamasi. Ferritin sangat tinggi—misalnya >10.000 µg/L— dapat mensinyalir adanya hemophagocytic lymphohistiocytosis (HLH) .
Pencitraan awal yang dapat dilakukan terdiri dari foto toraks dan ultrasonografi abdomen untuk mendeteksi abses, massa intraabdominal, kelainan ginjal, atau limfadenopati mediastinal . Ekokardiografi perlu dipertimbangkan terutama bila ada kecurigaan endokarditis atau penyakit Kawasaki, termasuk bentuk inkomplet. Jika hasil pemeriksaan awal tidak menjelaskan penyebab, maka langkah evaluasi berikutnya harus bersifat terarah, didasarkan pada kecurigaan klinis. Pemeriksaan tingkat kedua dapat mencakup CT, MRI, PET/CT, kultur jaringan, aspirasi sumsum tulang, atau biopsi kelenjar getah bening sesuai indikasi .
Dari sisi tatalaksana, antipiretik hanya digunakan untuk kenyamanan anak dan perlu dipastikan tidak memengaruhi perjalanan penyakit. Pemakaian terapi empiris, khususnya antibiotik dan antiinflamasi harus dihindari bila anak berada dalam kondisi klinis baik, karena dapat menutupi gejala penting yang dapat mengarahkan ke diagnosis yang tepat. Kotikosteroid tidak boleh diberikan sebelum etiologi infeksi dan neoplasma tersingkirkan. Pendekatan multidisipliner yang melibatkan ahli penyakit infeksi, reumatologi, hematologi-onkologi, hingga radiologi, seringkali diperlukan untuk mencapai keputusan diagnosis yang akurat dan tidak berkepanjangan.
Secara umum prognosis FUO pada anak lebih baik dibandingkan dewasa. Sebagian besar kasus akan sembuh spontan atau memperoleh diagnosis definitif, dengan angka mortalitas jauh lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya . Meskipun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi kondisi berat seperti HLH, vasculitis sistemik, atau keganasan.
FUO pada anak tetap menjadi area penting dalam praktik pediatri yang menuntut ketelitian tinggi, repetisi pemeriksaan, dan pemahaman mendalam mengenai spektrum etiologi. Dengan pendekatan sistematis dan terstruktur, sebagian besar penyebab FUO dapat diidentifikasi atau dikelola dengan baik, sehingga beban penyakit dan kecemasan keluarga dapat diminimalkan.
Referensi
Trapani S, Fiordelisi A, Stinco M, Resti M. Update on Fever of Unknown Origin in Children: Focus on Etiologies and Clinical Approach. Children. 2024;11:20.