
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
25 Des 2025
Topik: Glomerulonefritis, GNAPS, Tatalaksana, Diagnosis, Ilmiah
Latar Belakang
Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) merupakan peradangan pada ginjal yang umumnya terjadi setelah infeksi streptokokus. Penyakit ini disebabkan oleh reaksi imunologis yang terjadi akibat infeksi bakteri Streptococcus beta hemolitikus grup A, yang mengarah pada pembentukan kompleks imun yang mengendap pada glomerulus ginjal, mengaktifkan sistem komplemen dan menyebabkan peradangan. Meskipun kebanyakan kasus dapat sembuh secara spontan dengan pemantauan, beberapa kasus dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut yang memerlukan penanganan lebih lanjut. (1)
Infeksi streptokokus yang memicu GNAPS biasanya melibatkan infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi kulit, yang terjadi sekitar 10-21 hari sebelum gejala penyakit ginjal muncul. Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak, terutama yang berusia 5 hingga 8 tahun, dengan perbandingan kasus antara anak laki-laki dan perempuan sekitar 2:1. Di Indonesia, GNAPS menjadi salah satu masalah klinis yang cukup signifikan, dengan prevalensi yang dilaporkan bervariasi di beberapa kota besar seperti Surabaya, Jakarta, dan Bandung. (1)
Etiologi dan Patogenesis
Penyebab utama dari GNAPS adalah infeksi streptokokus, yang menginduksi respons imun tubuh yang berlebihan. Setelah infeksi, tubuh menghasilkan antibodi terhadap antigen streptokokus, yang kemudian membentuk kompleks Ag-Ab yang beredar dalam tubuh. Kompleks ini dapat mengendap pada glomerulus ginjal, mengaktifkan sistem komplemen, dan menyebabkan peradangan serta kerusakan glomerulus. Dalam beberapa kasus, enzim neuraminidase yang dihasilkan oleh streptokokus juga diduga berperan dalam mengubah IgG tubuh menjadi autoantigen, yang memicu pembentukan autoantibodi terhadap IgG yang telah dimodifikasi. (1)
Epidemiologi dan Faktor Risiko
Di Indonesia, meskipun belum ada data pasti mengenai insiden GNAPS secara nasional, beberapa penelitian menunjukkan angka kejadian yang signifikan pada anak-anak, dengan puncak kejadian pada usia 6-8 tahun. Secara global, GNAPS sering ditemukan pada anak laki-laki, dengan rasio 2:1 dibandingkan anak perempuan. Faktor genetik juga diduga berperan, karena penurunan kadar HLA-D dan HLADR ditemukan pada beberapa kasus. (1)
Manifestasi Klinis
Gejala klinis GNAPS dapat bervariasi, tetapi lebih dari 50% kasus bersifat asimtomatik. Pada sebagian besar kasus, GNAPS dimulai dengan gejala infeksi saluran pernapasan atas atau faringitis streptokokus yang terjadi dua hingga tiga minggu sebelumnya. Gejala utama yang muncul adalah hematuria (baik makroskopik maupun mikroskopik), edema wajah, dan hipertensi, yang seringkali muncul mendadak dalam 3-5 hari setelah infeksi. Edema dapat menyebar ke bagian tubuh lain seperti kaki dan abdomen. Hipertensi pada GNAPS cenderung bersifat sementara dan menurun dalam 1-2 minggu setelah puncaknya. (1)
Pemeriksaan urin sangat penting untuk diagnosis, di mana terdapat hematuria, proteinuria, dan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). Pada beberapa kasus, terdapat peningkatan kadar urea dan serum kreatinin sebagai tanda penurunan fungsi ginjal. (1)
Diagnosis dan Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis GNAPS ditegakkan berdasarkan riwayat infeksi streptokokus sebelumnya, pemeriksaan klinis, dan hasil pemeriksaan urin yang menunjukkan hematuria serta proteinuria. Pemeriksaan serologis juga penting, seperti peningkatan titer antibodi streptokokus terhadap streptolisin-O (ASTO), DNase B, dan antihialuronidase. Penurunan kadar komplemen C3 adalah temuan khas, ditemukan pada sekitar 80-90% kasus dalam dua minggu pertama setelah infeksi. (1)
Rekomendasi Tata Laksana
Tatalaksana glomerulonefritis akut pasca streptokokus pada anak umumnya bersifat suportif dan simtomatik. Pengobatan difokuskan pada pengelolaan hipertensi, pemantauan fungsi ginjal, serta penurunan edema. Pada anak dengan hipertensi, pengobatan dapat meliputi penggunaan diuretik atau obat antihipertensi. Penggunaan hidralazin dan nifedipin secara sublingual atau oral dapat dipertimbangkan pada kasus hipertensi sedang, sementara pada hipertensi berat, terapi intravenous seperti hidralazin atau nitroprussid bisa digunakan. (1) Pada anak yang mengalami gagal ginjal akut, pengelolaan mencakup pembatasan cairan, serta monitoring elektrolit. Terapi antibiotik diberikan jika terdapat infeksi aktif streptokokus untuk menghindari penyebaran lebih lanjut, meskipun tidak memengaruhi perjalanan penyakit ginjal ini. Benzathine penisilin adalah pilihan antibiotik yang sering digunakan pada pasien dengan infeksi streptokokus yang aktif, sementara bagi pasien yang alergi terhadap penisilin, eritromisin menjadi alternatif. (2) Pada sebagian kecil kasus dengan gangguan ginjal berat atau sindrom nefrotik, biopsi ginjal dapat dipertimbangkan untuk menilai kelainan patologi lebih lanjut, terutama jika etiologi penyakit tidak jelas atau fungsi ginjal tidak membaik. (1)
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Sebagian besar anak dengan GNAPS dapat sembuh dengan perawatan suportif dan pemantauan ketat. Namun, dalam kasus yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut atau sindrom nefrotik, memerlukan pengobatan lebih lanjut. Komplikasi hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan organ lebih lanjut. Pemantauan jangka panjang juga penting, karena proteinuria dan hematuria yang berlangsung lebih dari 6 bulan dapat mengindikasikan kemungkinan glomerulonefritis kronik. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Glomerulonefritis akut pasca streptokokus pada anak merupakan penyakit ginjal yang sering terjadi setelah infeksi streptokokus, dengan gejala khas hematuria, edema, dan hipertensi. Penyakit ini umumnya dapat sembuh dengan perawatan yang tepat, tetapi pada sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal akut atau sindrom nefrotik. Oleh karena itu, pemantauan yang cermat dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Penyuluhan kepada orang tua dan pemantauan rutin menjadi kunci dalam memastikan prognosis yang baik bagi pasien anak dengan GNAPS. (1)
Daftar Pustaka