
Hasil Studi LEAP Mengubah Paradigma Pencegahan Alergi Kacang pada Anak
Author: dr. Afiah Salsabila
22 Des 2025
Topik: Alergi makanan, Alergi Kacang, Ilmiah
Latar Belakang
Alergi kacang tanah (peanut allergy) merupakan isu besar dalam alergi anak karena cenderung menetap sampai dewasa dan berisiko menimbulkan reaksi berat. Dalam satu dekade terakhir, prevalensi alergi kacang tanah pada anak di negara Barat dilaporkan meningkat dua kali lipat, dan tren serupa mulai terlihat di Afrika serta Asia. Lantas, bagaimana cara mencegahnya? Penelitian Studi LEAP (Learning Early About Peanut allergy) menjadi titik balik. Hasil temuan penelitian ini menantang paradigma lama yang menekankan untuk selalu “hindari makanan alergenik” pada bayi berisiko tinggi. Berikut rangkuman dari penelitian tersebut.
Apakah Studi LEAP?
Penelitian yang dilakukan di Inggris ini adalah sebuah uji klinis acak terkontrol, open-label yang meneliti dampak intervensi pengenalan kacang tanah secara dini untuk mencegah terbentuknya alergi kacang. Studi ini merekrut 640 bayi usia 4 hingga <11 bulan yang tergolong kelompok risiko tinggi, yaitu memiliki eksim berat, alergi telur, atau keduanya. Peserta dibagi menjadi dua kelompok intervensi: konsumsi kacang tanah atau menghindari kacang tanah sampai usia 60 bulan (5 tahun).
Agar intervensi terlaksana secara lebih aman, peserta dikelompokkan berdasarkan hasil uji cukit kulit, atau juga dikenal sebagai skin-prick test (SPT) terhadap ekstrak kacang tanah. Terdapat dua kohort: SPT negatif (tidak ada wheal) dan SPT positif ringan (wheal 1–4 mm). Luaran utama adalah proporsi anak yang mengalami alergi kacang tanah pada usia 60 bulan, dinilai terpisah pada masing-masing kohort. Tiap kohort dibagi menjadi dua kelompok intervensi: kelompok konsumsi kacang dan kelompok yang menghindari kacang. Kelompok konsumsi kacang dengan SPT negatif diberikan dosis tunggal 2g kacang, sementara itu yang SPT positif diberikan kacang 3.9 g secara inkremental.
Pada bayi dengan penyakit atopik risiko tinggi, konsumsi kacang tanah yang dilakukan secara berkelanjutan sejak usia dini, yaitu dalam 11 bulan pertama kehidupan, terbukti menurunkan kejadian alergi kacang tanah secara signifikan pada usia 60 bulan dibandingkan strategi penghindaran. Intervensi ini dilaporkan aman, dapat ditoleransi dengan baik, dan memiliki efektivitas yang tinggi. Dalam analisis intention-to-treat, pengenalan kacang tanah sejak dini berhubungan dengan penurunan risiko alergi kacang tanah sebesar 86% pada anak yang tidak menunjukkan sensitisasi awal berdasarkan uji tusuk kulit, serta penurunan sebesar 70% pada anak yang sudah menunjukkan sensitisasi ringan saat masuk studi. Temuan ini menegaskan bahwa manfaat pengenalan dini kacang tanah berlaku baik sebagai pencegahan primer maupun sekunder, serta mendukung pergeseran paradigma pencegahan alergi makanan dari pendekatan penghindaran menuju induksi toleransi imun melalui paparan oral dini dan berkelanjutan.
Dari sisi patogenesis, studi LEAP memperkuat konsep bahwa toleransi imun dapat dipengaruhi oleh rute paparan. Peneliti membahas hipotesis bahwa paparan lingkungan melalui kulit yang mengalami dermatitis (misalnya eksim) dapat mempermudah sensitisasi, sedangkan paparan oral dini yang teratur cenderung “mengajari” sistem imun untuk toleran. (1) Secara imunologis, kelompok konsumsi menunjukkan peningkatan antibodi spesifik kacang tanah IgG4 yang dominan, sedangkan kelompok menghindari lebih banyak menunjukkan peningkatan IgE spesifik kacang tanah. (1) Rasio IgG4:IgE yang lebih rendah serta wheal SPT yang lebih besar berasosiasi dengan alergi kacang tanah pada usia 60 bulan.
Dari perspektif keamanan, tidak ada perbedaan bermakna dalam kejadian efek samping serius antara kelompok konsumsi dan menghindari. (1) Namun, penting dicatat bahwa sebagian kecil bayi tidak dapat melanjutkan konsumsi karena reaksi pada baseline oral food challenge atau muncul gejala alergi selama intervensi—ini menegaskan perlunya seleksi dan pengawasan klinis pada kelompok risiko tinggi.
Untuk pencegahan alergi kacang tanah pada bayi berisiko tinggi, LEAP mendukung pengenalan kacang tanah sejak usia bayi, dimulai pada rentang 4–11 bulan, setelah penilaian risiko dan evaluasi sensitisasi (misalnya melalui SPT). (1) Pada bayi yang lolos tantangan awal dan aman untuk konsumsi, target paparan dalam LEAP adalah minimal 6 gram protein kacang tanah per minggu, dibagi dalam tiga kali atau lebih per minggu, dan dilanjutkan sampai usia 60 bulan. (1)
Bentuk pemberian yang digunakan di LEAP terutama berupa makanan ringan berbasis kacang tanah (seperti Bamba) atau selai kacang halus, bukan kacang utuh, untuk menghindari risiko tersedak. (1) Untuk praktik sehari-hari, prinsipnya adalah memperkenalkan bentuk yang aman sesuai usia dan memastikan konsumsi teratur, bukan hanya “coba-coba sesekali”.
Kesimpulan
Studi LEAP mengubah cara pandang pencegahan alergi makanan pada anak, khususnya alergi kacang tanah. Pada bayi berisiko tinggi, pengenalan kacang tanah secara dini dan teratur terbukti menurunkan kejadian alergi kacang tanah pada usia 5 tahun dibandingkan strategi menghindari. Pesan klinisnya jelas: pada bayi berisiko tinggi, pendekatan “tunda dan hindari” tidak lagi menjadi default; yang lebih penting adalah stratifikasi risiko, penilaian sensitisasi, dan pengenalan oral yang terkontrol serta berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Du Toit G, Roberts G, Sayre PH, et al. Randomized trial of peanut consumption in infants at risk for peanut allergy. N Engl J Med. 2015;372(9):803–813. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4416404/
