
Implementasi WHO Guidance dalam Mengakhiri Promosi Pangan yang Tidak Tepat pada Bayi dan Anak Usia Dini
Author: dr. Afiah Salsabila
17 Des 2025
Topik: Air Susu Ibu, Makanan Bayi, Makanan kemasan, Guideline
Pemberian makan yang tepat pada bayi dan anak usia dini merupakan komponen fundamental dalam menentukan kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan jangka panjang. WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping yang aman dan bergizi sambil tetap meneruskan ASI hingga usia dua tahun atau lebih. Periode tiga tahun pertama kehidupan merupakan fase pertumbuhan yang sangat pesat dan menjadi jendela kesempatan krusial untuk membentuk pola makan sehat, yang terbukti berpengaruh terhadap risiko obesitas dan penyakit tidak menular di kemudian hari. Oleh karena itu, praktik pemberian makan yang optimal berkontribusi tidak hanya pada kesehatan individu, tetapi juga pada pencapaian target global penurunan mortalitas dini akibat penyakit tidak menular. (1)
Meskipun demikian, upaya perbaikan praktik pemberian makan bayi dan anak menghadapi tantangan besar akibat promosi pangan komersial yang tidak tepat. WHO mengidentifikasi bahwa promosi pengganti ASI dan makanan pendamping tertentu telah melemahkan keberhasilan menyusui dan praktik MPASI yang sesuai. Kekhawatiran ini mendorong World Health Assembly untuk menyerukan penghentian promosi yang tidak pantas sejak 2010, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengesahan WHO Guidance on Ending the Inappropriate Promotion of Foods for Infants and Young Children pada 2016, serta penerbitan implementation manual pada 2017 untuk mendukung penerapannya di tingkat nasional. (1)
Panduan ini secara eksplisit ditujukan kepada pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, otoritas pangan dan obat, organisasi profesi, serta pelaku industri. Bagi dokter anak, panduan ini relevan secara langsung karena promosi pangan yang menyesatkan dapat memengaruhi keputusan orang tua, menurunkan angka keberhasilan menyusui, dan menggeser pilihan pangan anak ke arah produk komersial yang kurang sesuai. WHO menegaskan bahwa praktik pemberian makan yang optimal harus dipromosikan berdasarkan prinsip pemberian MPASI bagi anak yang disusui maupun tidak disusui, dengan penekanan pada penggunaan pangan rumahan, padat gizi, dan tersedia secara lokal, sebagaimana tercantum dalam Rekomendasi 1. (1)
WHO mendefinisikan promosi pangan sebagai tidak tepat apabila mengganggu praktik menyusui, berkontribusi terhadap obesitas dan penyakit tidak menular, menciptakan ketergantungan terhadap produk komersial, atau bersifat menyesatkan. Salah satu bentuk paling signifikan adalah promosi produk yang berfungsi sebagai pengganti ASI. Dalam Rekomendasi 2, WHO menegaskan bahwa seluruh produk yang berfungsi sebagai pengganti ASI, termasuk susu lanjutan dan growing-up milk hingga usia tiga tahun, tidak boleh dipromosikan dan sepenuhnya berada dalam cakupan International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes. Ketentuan ini penting untuk mencegah kebingungan orang tua mengenai perbedaan produk berdasarkan kelompok usia dan untuk melindungi praktik menyusui berkelanjutan. (1)
Untuk pangan yang tidak berfungsi sebagai pengganti ASI, WHO menetapkan bahwa promosi hanya dapat dilakukan apabila produk memenuhi seluruh standar nasional dan internasional terkait komposisi, keamanan, dan kualitas, serta selaras dengan pedoman gizi nasional. Ketentuan ini dirumuskan dalam Rekomendasi 3, yang juga menekankan perlunya penggunaan nutrient profile model guna mengidentifikasi produk yang tidak layak dipromosikan, terutama yang mengandung gula bebas dan garam. Hal ini menjadi krusial mengingat bukti menunjukkan bahwa sebagian makanan pendamping komersial mengandung kadar gula dan garam yang tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan risiko obesitas sejak dini. (1)
Aspek pesan promosi juga diatur secara ketat. Dalam Rekomendasi 4, WHO menegaskan bahwa setiap pesan promosi harus mendukung praktik pemberian makan yang optimal, mencantumkan usia introduksi yang tepat (tidak kurang dari enam bulan), serta menegaskan pentingnya melanjutkan ASI hingga dua tahun atau lebih. Pesan promosi tidak boleh mengandung representasi visual atau narasi yang mengarah pada penggunaan sebelum usia enam bulan, merendahkan ASI, atau merekomendasikan pemberian dengan botol. Bagi dokter anak, ketentuan ini penting karena klaim kesehatan dan gizi yang berlebihan dapat menyesatkan orang tua dan mengaburkan risiko penggunaan produk secara tidak tepat. (1)
WHO juga secara khusus menyoroti praktik cross-promotion dalam Rekomendasi 5, di mana desain kemasan, warna, maskot, atau slogan produk makanan pendamping digunakan untuk secara tidak langsung mempromosikan pengganti ASI. Praktik ini dinilai berbahaya karena memperkuat asosiasi merek dan melemahkan implementasi Kode Internasional. Oleh karena itu, WHO menuntut pemisahan yang jelas antara promosi pangan pendamping dan produk pengganti ASI. (1)
Bagi klinisi, Rekomendasi 6 menjadi sangat relevan. Rekomendasi ini menegaskan bahwa perusahaan pangan bayi dan anak tidak boleh menciptakan konflik kepentingan di fasilitas kesehatan atau sistem kesehatan. Tenaga kesehatan tidak diperkenankan untuk menerima sampel gratis, insentif, atau dukungan materi. Perusahaan pangan bayi juga tidak dibolehkan untuk menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyelenggarakan acara, kontes, atau kampanye; memberikan hadiah atau kupon dalam bentuk apa pun kepada orang tua, pengasuh, dan keluarga; secara langsung maupun tidak langsung memberikan edukasi kepada orang tua atau pengasuh mengenai pemberian makan bayi dan anak usia dini di fasilitas pelayanan kesehatan, memberikan informasi apa pun kepada tenaga kesehatan selain informasi yang bersifat ilmiah dan faktual; serta mensponsori pertemuan tenaga kesehatan maupun pertemuan ilmiah. Prinsip ini penting untuk menjaga independensi klinis dokter anak dan kepercayaan masyarakat terhadap rekomendasi medis. (1)
Selain itu, WHO melalui Rekomendasi 7 mendorong implementasi penuh kebijakan pemasaran pangan dan minuman non-alkohol untuk anak, dengan penekanan pada perlindungan lingkungan tempat bayi dan anak berkumpul dari pemasaran pangan tinggi gula, garam, dan lemak. Meskipun produk tersebut tidak secara khusus ditujukan bagi bayi, konsumsi oleh anak usia dini tetap berpotensi terjadi dan perlu dibatasi. (1)
Sebagai kesimpulan, WHO Guidance on Ending the Inappropriate Promotion of Foods for Infants and Young Children memberikan kerangka komprehensif untuk melindungi praktik pemberian makan optimal pada periode paling krusial kehidupan anak. Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman dan penerapan rekomendasi ini merupakan bagian integral dari peran profesional dalam memastikan bahwa keputusan orang tua didasarkan pada informasi yang akurat, bebas dari pengaruh komersial, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak. Implementasi yang konsisten tidak hanya mendukung keberhasilan menyusui dan kualitas nutrisi anak, tetapi juga berkontribusi pada pencegahan penyakit tidak menular di masa depan. (1)
Daftar Pustaka
World Health Organization. Guidance on ending the inappropriate promotion of foods for infants and young children: implementation manual. Geneva: World Health Organization; 2017. Available from: https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/6f078f1e-baad-4872-895c-de43b91328aa/content
