
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
17 Mar 2026
Topik: Car Booster, Car Seat, Lebaran, Ilmiah
Lebaran tinggal menunggu hari, sebagian orang telah mulai mudik. Jutaan orang melakukan perjalanan jarak jauh secara bersamaan, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Kondisi ini menyebabkan kepadatan lalu lintas yang signifikan dan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya. Meskipun pada tahun terakhir dilaporkan terjadi penurunan angka kematian hingga sekitar 32% dibandingkan tahun sebelumnya. Data dari Korps Lalu Lintas Polri menunjukkan bahwa kecelakaan selama periode arus mudik masih menjadi perhatian penting. (1)
Secara global, cedera lalu lintas atau road injury merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak dan remaja. Diperkirakan hampir 220.000 balita, anak, dan remaja usia 0–19 tahun meninggal setiap tahun akibat kecelakaan di jalan. Bahkan pada kelompok balita, angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas dilaporkan dua kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia anak yang lebih besar. Selain menyebabkan kematian, road injury juga termasuk dalam lima belas penyebab utama disabilitas pada anak dan remaja di dunia. (2)
Oleh karena itu, menjelang musim mudik, dokter anak memiliki peran penting dalam mengedukasi orang tua mengenai langkah-langkah keselamatan selama perjalanan agar mudik tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus aman bagi anak.
Rekomendasi Keselamatan Berkendara Menurut IDAI
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa pencegahan cedera lalu lintas harus dimulai dari kepatuhan terhadap standar keselamatan berkendara. Salah satu aspek penting adalah memastikan bahwa remaja yang mengendarai kendaraan telah memenuhi syarat usia serta memiliki legalitas berkendara berupa surat izin mengemudi (SIM). Kepemilikan SIM menunjukkan bahwa pengendara telah memahami rambu lalu lintas serta prinsip keselamatan dasar saat berkendara. (2)
Selain itu, pengemudi yang melakukan perjalanan mudik dianjurkan memanfaatkan fasilitas rest area apabila mulai merasa lelah atau mengantuk. Kelelahan merupakan salah satu faktor yang paling sering berkontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas. Tak hanya itu, pengendara dilarang untuk menggunakan gawai atau alat komunikasi yang dapat mengalihkan perhatian pengendara dari jalan. (2)
Dalam kondisi tertentu, keluarga juga dapat mempertimbangkan penggunaan moda transportasi alternatif yang disediakan pemerintah atau perusahaan transportasi untuk mengurangi risiko perjalanan jarak jauh menggunakan kendaraan pribadi.
Keselamatan Anak pada Kendaraan Roda Dua
Keselamatan anak selama perjalanan juga sangat dipengaruhi oleh jenis kendaraan yang digunakan. Pada kendaraan roda dua, anak berusia di bawah enam tahun tidak dianjurkan untuk ikut berkendara karena kemampuan menjaga keseimbangan tubuh masih terbatas. (2)
Pada anak yang lebih besar, penggunaan perlengkapan keselamatan tetap wajib diperhatikan. Anak yang dibonceng harus menggunakan helm berstandar SNI dengan ukuran yang sesuai dengan lingkar kepala anak. Selain itu, jumlah penumpang tidak boleh melebihi dua orang, dan posisi anak harus berada di belakang pengendara. (2)
Penggunaan Sabuk Pengaman dan Car Seat pada Kendaraan Roda Empat
Pada kendaraan roda empat, perlindungan anak harus menjadi prioritas utama. Penggunaan sabuk pengaman merupakan langkah dasar yang wajib dilakukan oleh seluruh penumpang. Namun pada anak kecil, penggunaan sabuk pengaman saja tidak cukup karena ukuran tubuh anak belum sesuai dengan desain sabuk pengaman kendaraan yang dirancang untuk orang dewasa. (2)
Penggunaan kursi keselamatan anak atau car seat menjadi komponen penting dalam mencegah cedera serius pada anak saat terjadi kecelakaan. IDAI merekomendasikan penggunaan car seat maupun booster seat sesuai dengan usia dan tahap pertumbuhan anak. (2)
Pada bayi baru lahir hingga usia dua tahun, disarankan menggunakan car seat yang menghadap ke belakang (rear-facing car seat) dan dipasang pada kursi penumpang belakang. Posisi ini memberikan perlindungan optimal terhadap kepala, leher, dan tulang belakang bayi saat terjadi benturan. (2)
Pada anak usia dua hingga lima tahun, penggunaan car seat yang menghadap ke depan (forward-facing car seat) dengan sabuk pengaman tetap dianjurkan dan dipasang pada kursi belakang kendaraan. (2)
Selanjutnya, pada anak usia di atas lima tahun, penggunaan booster seat diperlukan hingga anak dapat menggunakan sabuk pengaman kendaraan dengan posisi yang benar. Posisi yang tepat adalah ketika lap belt berada pada paha bagian atas, bukan di perut, serta shoulder belt berada di antara bahu dan dada, bukan di leher atau wajah. (3)
Anak sebaiknya tetap duduk di kursi belakang kendaraan hingga setidaknya berusia dua belas tahun karena posisi ini memberikan perlindungan terbaik, terutama pada kendaraan yang dilengkapi dengan airbag di kursi depan. Selain itu, orang tua tidak dianjurkan memangku anak selama perjalanan karena posisi tersebut sangat berbahaya apabila terjadi pengereman mendadak atau tabrakan.
Penutup
Keselamatan anak selama perjalanan mudik sangat bergantung pada kesadaran orang tua dalam menerapkan prinsip keselamatan berkendara. Dokter anak memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada keluarga mengenai penggunaan perlengkapan keselamatan yang sesuai dengan usia anak, termasuk penggunaan helm, sabuk pengaman, car seat, dan booster seat. Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim mudik, pendekatan pencegahan melalui edukasi keselamatan berkendara menjadi strategi penting untuk menurunkan angka cedera pada anak. Upaya sederhana seperti memastikan anak menggunakan perlindungan yang tepat serta menjaga kondisi pengemudi tetap prima dapat memberikan perlindungan signifikan terhadap keselamatan anak selama perjalanan jarak jauh.
Referensi