
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
20 Mei 2026
Topik: HFMD, Kuku, Ilmiah, Komplikasi
Hand, foot, and mouth disease (HFMD) merupakan penyakit infeksi virus akut yang sering ditemukan pada populasi pediatrik, terutama anak usia di bawah 5 tahun. Penyakit ini ditandai dengan demam, ulkus oral, serta lesi vesikular pada tangan, kaki, dan terkadang area gluteal. Etiologi HFMD paling sering disebabkan oleh enterovirus, terutama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus A71, meskipun serotipe lain juga dapat terlibat. (1)
Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan self-limiting dengan perbaikan gejala dalam 7–10 hari. Namun, komplikasi dapat terjadi dengan spektrum yang luas, mulai dari dehidrasi akibat stomatitis berat hingga komplikasi neurologis dan kardiopulmoner seperti ensefalitis, meningitis aseptik, edema paru neurogenik, dan gagal sirkulasi, terutama pada infeksi Enterovirus A71. (1,2)
Selain komplikasi sistemik, beberapa manifestasi terlambat juga perlu dikenali oleh dokter anak, salah satunya adalah onychomadesis atau pelepasan kuku spontan setelah HFMD. Kondisi ini sering menimbulkan kekhawatiran pada orang tua karena tampilan kuku yang tampak “copot” atau terlepas beberapa minggu setelah anak dinyatakan sembuh dari HFMD. (1)
Onychomadesis merupakan gangguan pertumbuhan kuku yang ditandai oleh terhentinya sementara aktivitas matriks kuku sehingga terjadi pemisahan lempeng kuku dari bagian proksimal. Manifestasi klinis biasanya muncul sekitar 3–12 minggu setelah episode HFMD. Kuku tangan lebih sering terkena dibandingkan kuku kaki, meskipun keduanya dapat terlibat secara bersamaan. (1,3)
Patogenesis onychomadesis pasca HFMD belum sepenuhnya dipahami. Beberapa hipotesis menyebutkan bahwa inflamasi periungual akibat infeksi virus dapat menyebabkan gangguan sementara pada matriks kuku. Selain itu, efek langsung replikasi virus terhadap matriks kuku juga diduga berperan. Pada beberapa laporan, Coxsackievirus A6 lebih sering dikaitkan dengan kejadian onychomadesis dibandingkan serotipe lain. (1,2)
Secara klinis, orang tua biasanya datang dengan keluhan kuku anak tampak retak, mengelupas, atau terlepas sebagian dari dasar kuku beberapa minggu setelah HFMD sembuh. Kondisi ini dapat melibatkan satu atau beberapa kuku. Penting bagi dokter anak untuk mengenali hubungan temporal ini agar tidak terjadi overdiagnosis terhadap kondisi lain seperti trauma, infeksi jamur, defisiensi nutrisi, atau penyakit autoimun. (2,3)
Meskipun tampak dramatis, onychomadesis pasca HFMD umumnya bersifat jinak dan tidak permanen. Pertumbuhan kuku baru biasanya terjadi spontan dalam beberapa minggu hingga bulan tanpa deformitas menetap. Literatur menunjukkan bahwa sebagian besar kasus mengalami resolusi sempurna tanpa intervensi khusus. (1,3)
Penatalaksanaan terutama bersifat suportif dan edukatif. Orang tua perlu diberikan reassurance bahwa kondisi ini merupakan komplikasi sementara yang dapat pulih sendiri. Perawatan kuku difokuskan pada menjaga kebersihan area kuku, memotong kuku yang terlepas untuk mencegah trauma tambahan, serta menghindari manipulasi berlebihan pada kuku yang sedang tumbuh kembali. Bila terdapat tanda infeksi sekunder seperti eritema, nyeri, edema, atau sekret purulen, evaluasi lebih lanjut dan terapi sesuai indikasi perlu dilakukan. (2)
Dokter anak juga perlu memahami bahwa tidak semua kasus memerlukan rujukan dermatologi. Rujukan dapat dipertimbangkan bila terdapat keterlibatan kuku berat, deformitas menetap, perjalanan klinis yang tidak khas, atau kecurigaan diagnosis banding lain. (3)
Kesimpulannya, onychomadesis merupakan salah satu komplikasi terlambat HFMD yang relatif jarang namun penting dikenali dalam praktik pediatri. Kondisi ini terjadi akibat gangguan sementara pertumbuhan matriks kuku setelah infeksi enterovirus dan umumnya muncul beberapa minggu setelah gejala HFMD membaik. Meskipun tampilan klinisnya dapat menimbulkan kecemasan, prognosis onychomadesis pasca HFMD sangat baik karena sebagian besar kasus bersifat sementara dan tidak menyebabkan kerusakan kuku permanen. Penatalaksanaan terutama berupa edukasi, reassurance, dan perawatan suportif sederhana. Pengenalan dini terhadap kondisi ini dapat membantu dokter anak memberikan konseling yang tepat kepada keluarga sekaligus menghindari pemeriksaan maupun terapi yang tidak diperlukan.
Daftar Pustaka