
Author: dr. Afiah Salsabila
6 Mar 2026
Topik: Ilmiah, Anemia, Anemia Defisiensi Besi , Lucky Iron Fish
Latar Belakang
Belakangan ini media sosial diramaikan oleh perbincangan mengenai lucky iron fish, sebuah alat masak berbentuk ikan yang diklaim dapat membantu meningkatkan kadar besi dan menurunkan angka anemia. Produk ini merupakan inovasi yang dipatenkan dan dikembangkan oleh sekelompok peneliti dari Kanada untuk mengatasi tingginya prevalensi defisiensi besi di Kamboja, negara dengan beban anemia yang signifikan pada perempuan dan anak. Inovasi ini kemudian dikenal luas sebagai solusi sederhana untuk meningkatkan asupan besi melalui proses memasak. (1,2)
Defisiensi besi merupakan masalah kesehatan global yang berdampak luas. Pada populasi anak, kekurangan besi tidak hanya menyebabkan anemia, tetapi juga dapat berkaitan dengan gangguan pertumbuhan, peningkatan risiko infeksi, hingga gangguan perkembangan kognitif dan perilaku. Pada ibu hamil, defisiensi besi berhubungan dengan risiko intrauterine growth restriction (IUGR) dan luaran kehamilan yang buruk. Intervensi standar berupa suplementasi tablet besi terbukti efektif, namun sering kali terkendala kepatuhan karena efek samping gastrointestinal seperti mual, konstipasi, dan rasa tidak nyaman. Selain itu, kelompok yang paling berisiko justru sering kali memiliki keterbatasan akses terhadap makanan kaya besi atau suplementasi teratur. (3)
Dalam konteks ini, lucky iron fish ditawarkan sebagai alternatif suplementasi besi yang murah dan mudah diakses. Bentuk ikan dipilih karena secara budaya di Kamboja ikan melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan, sehingga diharapkan meningkatkan penerimaan masyarakat dan kepatuhan penggunaan . (5)
Mekanisme Kerja dan Bukti Ilmiah
Prinsip kerja lucky iron fish relatif sederhana. Benda ini terbuat dari besi murni dan dimasukkan ke dalam air atau makanan berkuah selama proses memasak. Dengan adanya panas dan sedikit asam (misalnya tambahan perasan lemon), partikel besi akan terlepas (leaching) ke dalam cairan dan kemudian dikonsumsi bersama makanan. Proses ini serupa dengan fenomena peningkatan kandungan besi pada makanan yang dimasak menggunakan peralatan masak berbahan besi . (1,3)
Tinjauan sistematis mengenai penggunaan peralatan masak berbahan besi menunjukkan bahwa memasak dengan wadah yang mengandung besi dapat meningkatkan kandungan besi pada makanan dan berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin, terutama pada populasi dengan defisiensi besi . Konsep inilah yang menjadi dasar pengembangan lucky iron fish. (3)
Armstrong melaporkan bahwa penggunaan lucky iron fish di Kamboja menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan prevalensi anemia pada populasi pengguna dalam periode intervensi tertentu . (1) Liputan NPR juga menggambarkan bagaimana intervensi ini diterapkan pada masyarakat pedesaan dengan keterbatasan sumber daya, sebagai pendekatan sederhana yang relatif murah dan dapat diterima secara budaya . (2)
Bagaimana Bukti Ilmiahnya?
Secara ilmiah, penggunaan peralatan masak berbahan besi maupun iron ingot seperti lucky iron fish menunjukkan potensi dalam meningkatkan kadar hemoglobin dan menurunkan prevalensi anemia defisiensi besi pada populasi tertentu. Beberapa studi dalam tinjauan sistematis Sharma et al. melaporkan peningkatan hemoglobin yang bermakna secara statistik, bahkan hingga 1,7 g/dL dalam periode 12 bulan pada anak usia 2-5 tahun di Etiopia. (4)
Namun demikian, hasil penelitian masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tidak semua studi menemukan peningkatan hemoglobin yang signifikan, dan beberapa uji acak terkontrol melaporkan perubahan yang minimal. Sejumlah faktor kemungkinan memengaruhi variasi ini, antara lain prevalensi malaria atau infeksi parasit yang dapat menyebabkan hemolisis dan menghambat pemulihan anemia, kepatuhan penggunaan, perbedaan pola makan, serta tingkat keasaman makanan yang memengaruhi jumlah besi yang terlepas dan diserap. (4)
Dari segi keamanan, penelitian menunjukkan bahwa ketika besi berbentuk ikan ini direbus, tidak terdapat kontaminan seperti arsenik, boron, aluminium, atau kadmium yang terdeteksi. (5)
Apakah Dapat Menggantikan Makanan Kaya Besi?
Berdasarkan penelitian yang ada, jumlah besi elemental yang “dihibahkan” dari alat masak besi atau ingot besi seperti lucky iron fish sangat bervariasi dari studi ke studi. Penelitian-penelitian yang dikumpulkan hingga saat ini juga menunjukkan bahwa jumlah besi yang masuk ke makanan juga sangat bergantung pada durasi masak, suhu air yang dipakai untuk masak, tingkat keasaman makanan, serta apakah sumber makanan berasal dari sumber hewani atau nabati. (4)
Dalam situasi low-resource setting, ketika akses terhadap makanan kaya besi dan suplementasi rutin terbatas, lucky iron fish dapat dipertimbangkan sebagai bentuk suplementasi tambahan yang sederhana dan relatif murah. Konsep ini sejalan dengan upaya fortifikasi berbasis komunitas untuk menurunkan beban anemia pada populasi rentan. Namun, sumber besi terbaik tetap berasal dari makanan utuh, terutama sumber heme seperti daging merah, hati, dan unggas, yang memiliki bioavailabilitas lebih tinggi dibandingkan besi non-heme. Selain itu, makanan utuh menyediakan makronutrien dan mikronutrien lain yang dapat membantu penyerapan zat besi, serta esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan anak secara umum. (4) Dengan itu, bisa disimpulkan kalau bukti ilmiah menunjukkan kalau penggunaan lucky iron fish tidak bisa menjadi solusi tunggal untuk pengobatan maupun pencegahan defisiensi besi, karena pola makan yang seimbang dan suplementasi dengan tablet besi masih menjadi intervensi utama terhadap kondisi medis ini.
Bagi dokter anak di Indonesia, penting untuk bersikap kritis namun terbuka terhadap inovasi semacam ini. Edukasi kepada keluarga perlu menekankan bahwa alat ini bukan “obat ajaib”, melainkan suatu alat yang bisa dicoba sebagai bagian dari strategi komprehensif yang mencakup perbaikan pola makan, suplementasi bila diperlukan, dan tata laksana penyebab dasar anemia.
Kesimpulan dan Penutup
Lucky iron fish merupakan inovasi berbasis komunitas yang dirancang untuk meningkatkan asupan besi melalui proses memasak, dengan dasar ilmiah bahwa besi dari alat masak dapat meningkatkan kandungan besi makanan dan kadar hemoglobin pada populasi defisiensi. Bukti menunjukkan potensi manfaat pada anemia defisiensi besi, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya. Namun, intervensi ini tidak menggantikan kebutuhan akan diet seimbang dan evaluasi medis yang tepat. Dalam praktik pediatri, pendekatan individual dan berbasis diagnosis tetap menjadi kunci dalam tata laksana anemia pada anak.
Daftar Pustaka