
Ditulis oleh

Tim Editorial PrimaPro, Editor: Dr. dr. Theresia Santi, Sp.A
9 Feb 2026
Topik: Ilmiah, Vaksin Dasar, measles, Campak, KLB Campak
Lonjakan kasus campak yang kembali terjadi di Indonesia pada Agustus 2025 lalu mengingatkan kita semua bahwa penyakit ini masih merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang sangat serius. [1,2] Terlebih karena karakteristik virus campak yang sangat menular dan memiliki potensi besar untuk menyebabkan komplikasi yang berat, tindakan pencegahan melalui imunisasi tepat waktu menjadi strategi yang krusial. [3.4]
Epidemiologi Campak: Tren Global dan KLB di Indonesia
Menurut laporan WHO, campak telah menyebabkan lebih dari 107.500 kematian pada tahun 2023. Dengan kemampuannya dalam bertahan di udara dan menular melalui aerosol, virus campak dapat menginfeksi banyak individu dalam waktu singkat. Setiap satu kasus campak dapat menyebabkan 14 hingga 18 kasus sekunder pada populasi yang rentan, jauh lebih tinggi dari virus SARS-CoV-2 yang umumnya “hanya” dapat menularkan sekitar 1 hingga 6 orang per kasus. [3] Dengan tingkat penularan yang tinggi, campak berpotensi menimbulkan epidemi luas dalam waktu singkat apabila kekebalan kelompok melemah. [3,5]
Sejak 2019, terjadi kembali kebangkitan kasus campak di lebih dari 25 negara dengan lebih dari 50 juta penduduk yang terdampak, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi yang rendah [6]. Pola serupa terlihat di Indonesia, di mana cakupan imunisasi lengkap turun dari 92% pada 2018 menjadi 87,8% pada 2023. Dalam rentang waktu yang sama, kasus campak juga ikut meningkat: pada 2022, kasus campak mencapai 4.800 kasus, kemudian naik menjadi lebih dari 10.600 kasus pada 2023. [2]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sempat memaparkan kalau cakupan MR1 dan MR2 pada tahun 2024 juga masih rendah, yaitu masing-masing 92% dan 82,3% pada 2024. [2] Angka ini masih di bawah target 95%, yaitu angka yang perlu dicapai untuk bisa mengeliminasi penularannya berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO). [3] Cakupan vaksinasi yang masih belum adekuat tersebut diiringi oleh 46 KLB baru hingga Agustus 2025. Salah satu daerah yang memiliki beban penyakit terberat pada KLB tersebut adalah Sumenep, dengan 2.139 kasus suspek, 205 kasus konfirmasi, dan 20 kematian. Sebanyak 53% individu yang terjangkit campak dari KLB ini berasal dari kelompok usia 1–4 tahun, dan 29% dari kelompok usia 5–9 tahun. [1,2]
Penyakit Campak: Manifestasi Klinis, Patogenesis, dan Komplikasi
Campak disebabkan oleh virus Morbillivirus dan ditandai dengan demam tinggi, batuk, coryza, konjungtivitis, serta ruam makulopapular. Virus ini memiliki tropisme luas dan mampu menyebabkan supresi imun yang berlangsung lama, sehingga dapat meningkatkan kerentanan pasien terhadap infeksi sekunder. Kelompok risiko tertinggi meliputi bayi, anak malnutrisi, ibu hamil, dan pasien imunokompromais. [3]
Komplikasi dari campak mencakup pneumonia, diare, otitis media, keratoconjungtivitis, serta komplikasi neurologis seperti acute disseminated encephalomyelitis (ADEM), measles inclusion body encephalitis (MIBE), dan subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Komplikasi SSPE bersifat fatal dan dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi primer. [3]
Efikasi dan Efektivitas Vaksin: Dasar Ilmiah Pencegahan Lonjakan Kasus
Measles-containing vaccine (MCV) terbukti memiliki efikasi sangat tinggi: sekitar 95% untuk satu dosis dan 96% untuk dua dosis. [7] Dalam kondisi KLB, efektivitas vaksin tetap kuat, tetapi sangat dipengaruhi oleh cakupan imunisasi dan tingkat paparan. Woudenberg menunjukkan bahwa vaksin MMR yang diberikan pada usia 6–14 bulan selama wabah campak di Belanda pada tahun 2013 memiliki efektivitas 94% terhadap campak yang terkonfirmasi secara laboratorium, sebelum dikontrol untuk faktor lainnya. Namun setelah mempertimbangkan status vaksinasi saudara kandung dan agama, efektivitas turun menjadi 71%. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan vaksin juga sangat bergantung pada herd immunity. [6] Javelle mencatat bahwa transmisi campak hanya dapat dihentikan bila minimal 95% populasi di bawah usia lima tahun memiliki kekebalan. [6]
Kapan Waktu yang Tepat untuk Memberi Vaksin Campak?
Jadwal Ikatan Dokter Anak Indonesia menetapkan imunisasi MR/MMR pada usia 9 bulan, 15–18 bulan, dan 5–7 tahun. [8] Muthiah menunjukkan bahwa antibodi maternal terhadap campak dapat melindungi anak melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI), namun umumnya menghilang pada usia 7–8 bulan, membuat bayi menjadi rentan kembali setelahnya. Maka imunisasi aktif perlu diberikan pada periode rentan tersebut secepatnya. [4] Pada kondisi KLB, vaksin dapat diberikan sejak usia 6 bulan sebagai dosis tambahan (outbreak response immunization), tetapi dosis ini tidak menggantikan jadwal rutin. [5,9]
Kesimpulan
Lonjakan kasus campak di Indonesia, termasuk kematian 20 anak di Sumenep, mengingatkan kita bahwa campak tetap menjadi ancaman serius ketika cakupan imunisasi menurun. Dengan tingkat penularan yang sangat tinggi dan kemampuannya untuk menyebabkan komplikasi yang berat, tindakan paling efektif menghadapi ancaman campak adalah pencegahan melalui imunisasi tepat waktu dan cakupan yang tinggi. Measles-containing Vaccines (MCV) terbukti sangat efektif, namun manfaatnya baru optimal bila diberikan sesuai jadwal dan diterima oleh sebagian besar populasi.
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan RI. Kematian 20 Anak Jadi Ancaman Serius: Pemerintah Dorong Imunisasi Massal Campak. 28 Aug 2025.
2. Kementerian Kesehatan RI. KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lengkap. 27 Aug 2025.
3. Kondamudi NP, Tobin EH, Waymack JR. Measles. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025.
4. Muthiah N, Galagoda G, Handunnetti S, Periris S, Pathirana S. Dynamics of maternally transferred antibodies against measles, mumps, and rubella in infants in Sri Lanka . Int J Infect Dis. 2021;107:129–34.
5. Woudenberg T, van der Maas NAT, Knol MJ, de Melker H, van Binnendijk RS. Hahné SJM. Effectiveness of early measles, mumps, and rubella vaccination among 6–14-month-old infants during an epidemic in the Netherlands. J Infect Dis. 2017;215:1181–87.
6. Javelle E, Colson P, Parola P, Raoult D. Measles, the need for a paradigm shift. Eur J Epidemiol. 2019;34:897–915.
7. Di Pietrantonj C, Rivetti A, Marchione P, Debalini MG, Demicheli V. Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021, Issue 11. Art. No.: CD004407. DOI: 10.1002/14651858.CD004407.pub5.
8. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak 2024. 2024
9. Varma A, Bolotin S, De Serres G, Didierlaurent AM, Earle K, Frey K, et al. What is the current evidence base for measles vaccination earlier than 9 months of age? Report from an informal technical consultation of the World Health Organization. Vaccine. 2025;57:127187. doi:10.1016/j.vaccine.2025.127187.
Hanya Untuk Tenaga Kesehatan
NP-ID-MSU-NLTR-250001 • AD: Feb 2026 • ED: Feb 2028
Supported by