
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
30 Des 2025
Topik: leptospirosis, Ilmiah, Panduan
Latar Belakang
Leptospirosis adalah penyakit zoonotik yang disebabkan oleh bakteri Leptospira spp. yang dapat menyerang berbagai organ dan menyebabkan komplikasi serius pada manusia. Penyakit ini paling sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, terutama setelah musim hujan atau banjir. Pada anak-anak, leptospirosis dapat menimbulkan tantangan diagnostik yang kompleks karena gejalanya yang mirip dengan infeksi penyakit tropis lainnya, seperti demam berdarah atau malaria. Leptospirosis dapat menimbulkan berbagai komplikasi, mulai dari penyakit ringan hingga kegagalan organ multi, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik. (1)
Etiologi dan Epidemiologi
Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans, yang memiliki beberapa serovar yang berperan dalam infeksi pada manusia. Infeksi ini dapat terjadi melalui kontak langsung dengan air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Leptospira dapat bertahan hidup dalam ginjal hewan pengerat, dan melalui urine hewan tersebut, bakteri ini dapat masuk ke lingkungan sekitar. Kasus leptospirosis pada anak sering kali terkait dengan aktivitas luar ruangan seperti bermain di air yang tercemar. (2)
Leptospirosis banyak ditemukan di daerah tropis, terutama selama musim hujan, dan insidensinya hampir sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan daerah beriklim temperate. Penyakit ini sering tidak terlaporkan karena gejalanya yang menyerupai banyak penyakit lain. Namun, berdasarkan data yang ada, leptospirosis dapat terjadi lebih sering pada populasi yang tinggal di daerah yang terkena banjir atau memiliki sanitasi buruk. Infeksi ini lebih umum di kalangan petani, pekerja yang terpapar hewan, serta individu yang tinggal di daerah perkotaan dengan banyak tikus. Meski demikian, penyakit ini masih menjadi masalah besar di negara berkembang, terutama di kawasan tropis dan subtropis yang memiliki risiko tinggi terkena infeksi. (3).
Faktor Risiko dan Patogenesis
Faktor risiko utama leptospirosis pada anak mencakup kontak dengan lingkungan yang tercemar, seperti di daerah yang terkena banjir atau di mana populasi tikus tinggi. Bakteri Leptospira memasuki tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Infeksi ini dapat menyebabkan peradangan pada berbagai organ, termasuk ginjal, hati, dan paru-paru. Pada anak-anak, sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya berkembang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap komplikasi serius. (1)
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Leptospirosis dapat muncul dalam dua sindrom klinis: anikterik dan ikterik. Sindrom anikterik bersifat self-limited dan biasanya mirip penyakit flu dengan gejala akut yang meliputi sakit kepala, demam, nyeri otot, ruam, dan gangguan pencernaan. Bentuk ini jarang fatal dan menyumbang sekitar 90% kasus leptospirosis. Sindrom ini juga dapat kambuh beberapa hari kemudian dalam tahap imun, yang dapat menyebabkan meningitis aseptik. Sedangkan fase ikterik, yang dikenal sebagai penyakit Weil, merupakan infeksi berat dengan gejala demam, gagal ginjal, jaundice, perdarahan, dan gangguan pernapasan, serta dapat melibatkan jantung, sistem saraf pusat, dan otot. Membedakan leptospirosis dari kondisi lain seperti infeksi saluran pernapasan viral, demam dengue, malaria, tifoid, serta campak atau rubela sangat penting, terutama jika ada riwayat paparan yang spesifik. Gejala ini juga dapat ditemukan pada infeksi lain, seperti demam berdarah atau tifus. (3)
Microscopic agglutination test (MAT) adalah pemeriksaan standar emas untuk deteksi leptospira, namun aksesnya sangat terbatas. Pemeriksaan laboratorium seperti tes serologi untuk mendeteksi antibodi IgM terhadap Leptospira atau PCR untuk mendeteksi DNA bakteri dalam darah. Darkfield microscopy juga dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi bakteri. (2)
Dalam kasus yang lebih parah, terutama pada anak-anak dengan organ yang terlibat seperti ginjal atau hati, dapat terjadi gagal ginjal akut, hepatitis, atau bahkan gangguan pernapasan. Pulmonary hemorrhage syndrome (PHS) adalah salah satu komplikasi yang dapat muncul pada leptospirosis yang parah. (1)
Untuk membedakan antara bentuk ringan yang bisa ditangani rawat jalan dan bentuk parah yang memerlukan rawat inap, faktor yang harus diperhatikan adalah adanya keterlibatan organ seperti ginjal (gagal ginjal akut), hati (hepatitis), dan paru-paru (hemoptisis atau ARDS). Anak yang menunjukkan tanda-tanda gagal organ atau gangguan hemodinamik sebaiknya segera dirawat di rumah sakit. (2)
Tatalaksana
Tatalaksana leptospirosis pada anak bergantung pada tingkat keparahan penyakit. Pada kasus ringan yang tidak melibatkan organ vital, pengobatan dengan antibiotik oral seperti doxycycline atau amoxicillin sudah cukup untuk menangani infeksi. Dosis doxycycline pada anak-anak adalah 2 mg/kg/hari, dibagi dalam 2 dosis, dengan dosis maksimum 200 mg/hari, diberikan secara oral selama 7 hari. Sedangkan amoxicillin dapat diberikan dengan dosis 500 mg dua kali sehari selama 7 hingga 10 hari. (2). Untuk kasus yang lebih berat, terutama yang melibatkan ginjal, hati, atau paru-paru, pengobatan dengan antibiotik intravena seperti penicillin G atau ceftriaxone disarankan. Berikut pilihan antibiotik beserta dosisnya untuk pengobatan berat:
Keputusan untuk Rawat Inap
Penting untuk membedakan pasien yang memerlukan rawat inap dan yang dapat ditangani secara rawat jalan. Anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda gagal ginjal akut, ikterus, atau gangguan pernapasan, serta yang mengalami penurunan kesadaran atau gejala sistemik lainnya, perlu dirawat inap di rumah sakit. Sementara itu, anak dengan gejala ringan tanpa keterlibatan organ dapat dipantau di rumah dengan kunjungan rutin untuk memantau perkembangan penyakit. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Leptospirosis adalah penyakit zoonotik yang memerlukan perhatian khusus pada anak-anak, terutama di daerah dengan sanitasi buruk dan rawan banjir. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk menghindari komplikasi serius, seperti gagal ginjal, hepatitis, dan gangguan pernapasan. Tatalaksana antibiotik yang tepat, baik untuk bentuk ringan maupun berat, serta dukungan terapi untuk organ yang terlibat dapat meningkatkan prognosis anak yang terinfeksi. Selain itu, pencegahan melalui penghindaran kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi dan pemberian profilaksis pada kelompok berisiko tinggi, seperti petani dan pekerja di lingkungan berisiko, dapat membantu mengurangi insiden leptospirosis. (2)
Referensi