
Ditinjau oleh

dr. Afiah Salsabila
30 Nov 2025
Topik: Jantung, penyakit jantung bawaan, Patent Ductus Arteriosus
Patent ductus arteriosus (PDA) merupakan salah satu kelainan kardiovaskular yang dapat ditemukan pada bayi baru lahir, terutama pada bayi prematur. Ductus arteriosus adalah struktur fisiologis pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dan aorta desenden, memungkinkan darah melewati paru-paru yang belum berfungsi. Setelah lahir, meningkatnya oksigenasi dan menurunnya kadar prostaglandin memicu penutupan ductus secara bertahap. Pada sebagian bayi, terutama yang lahir prematur, mekanisme ini gagal sehingga ductus tetap terbuka dan menyebabkan aliran darah abnormal dari sirkulasi sistemik ke pulmonal .
Penyakit PDA penting dipahami karena dapat menyebabkan gangguan hemodinamik dengan konsekuensi sistemik yang luas. Pada bayi cukup bulan, PDA biasanya kecil dan tidak signifikan secara klinis. Namun pada bayi prematur, PDA sering menjadi sumber morbiditas yang serius; bayi prematur memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gagal napas, gangguan perfusi organ, dan komorbiditas yang dapat memperberat kondisi seperti necrotising enterocolitis dan perdarahan intraventrikular . Dengan meningkatnya angka kelangsungan hidup bayi prematur ekstrem, pemahaman yang tepat mengenai penilaian dan tatalaksana PDA menjadi semakin relevan dalam praktik pediatri modern.
Patogenesis dan Faktor Risiko PDA
PDA terjadi ketika mekanisme penutupan ductus arteriosus gagal. Pada bayi prematur, ketidakmatangan otot polos ductus dan sensitivitas rendah terhadap peningkatan oksigen menjadi faktor utama. Selain prematuritas, terdapat faktor risiko lain seperti paparan obat maternal (magnesium sulfat, obat anti-kejang, atau NSAID tertentu), diabetes maternal, sepsis neonatal, dan gangguan saluran napas .
Bayi dengan berat lahir <1000 gram atau usia gestasi <30 minggu memiliki risiko PDA hingga 70% pada hari pertama kehidupan. Sebaliknya, pada bayi cukup bulan, lebih dari 90% ductus menutup secara spontan dalam empat hari pertama . Variasi risiko ini menempatkan NICU sebagai ruang paling sering ditemui PDA signifikan.
Manifestasi Klinis PDA
Presentasi klinis PDA sangat bergantung pada besar dan arah shunt, atau pirau. PDA kecil sering tidak bergejala dan hanya terdeteksi melalui murmur insidental. PDA sedang hingga besar dapat menimbulkan tanda kelebihan beban volume ventrikel kiri, termasuk bounding pulse, tekanan nadi lebar, takipnea, dan tanda gagal jantung. Pada bayi prematur, gejalanya sering lebih subtil namun berdampak luas: kebutuhan ventilator meningkat, distensi abdomen, penurunan urin, atau tanda perfusi buruk. Dalam kasus lebih berat, steal sirkulasi dapat mengganggu perfusi organ vital dan meningkatkan risiko NEC maupun perdarahan otak .
Diagnosis
Diagnosis PDA mengandalkan kombinasi temuan klinis dan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan fisik, murmur “continuous machinery” di area infraklavikular kiri menjadi temuan klasik, meski tidak selalu terdengar pada bayi prematur dengan tekanan pulmonal tinggi. Foto toraks dapat menunjukkan kardiomegali dan peningkatan vaskularisasi pulmonal pada shunt besar .
Ekokardiografi merupakan standar emas untuk menilai PDA. Echo tidak hanya mengidentifikasi ductus yang tetap terbuka, tetapi juga menilai signifikansi hemodinamik melalui ukuran ductus, kecepatan aliran, pembesaran atrium kiri/ventrikel kiri, serta adanya aliran retrograd di aorta desenden. Bagi dokter anak, interpretasi “hemodynamically significant PDA (hsPDA)” sangat penting untuk menentukan tatalaksana.
Tata Laksana: Pendekatan Non-Bedah dan Bedah
Pada bayi cukup bulan dengan PDA kecil, observasi berkala cukup memadai mengingat tingginya angka penutupan spontan. Pada bayi prematur, keputusan terapi lebih kompleks. Terapi farmakologis merupakan pilihan pertama, terutama NSAID seperti indometasin dan ibuprofen. Kedua obat ini bekerja menghambat sintesis prostaglandin sehingga mendorong penutupan ductus. Efektivitasnya berkisar 66–70%, dan keduanya telah lama menjadi standar di banyak NICU .
Belakangan ini, Paracetamol muncul sebagai alternatif baru, terutama bagi bayi yang tidak dapat menerima NSAID karena risiko nefrotoksisitas atau enterokolitis. Mekanisme kerjanya berbeda, yaitu menghambat jalur peroksidase prostaglandin, dan beberapa studi menunjukkan efektivitas yang sebanding pada bayi prematur .
Bila terapi medis gagal atau bayi menunjukkan gangguan hemodinamik berat, intervensi bedah atau transkateter dapat dipertimbangkan. Penutupan transkateter kini menjadi metode unggulan pada bayi lebih besar, sementara pada bayi yang terlalu kecil atau tidak stabil, ligasi bedah tetap menjadi pilihan. Pembedahan membawa risiko, tetapi dapat menyelamatkan nyawa ketika PDA menyebabkan kompromi sistemik signifikan .
Kesimpulan dan Penutup
Penyakit PDA merupakan kondisi yang perlu diwaspadai, terutama pada bayi prematur dengan risiko komplikasi yang signifikan. Pemahaman mengenai patofisiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, serta pilihan tatalaksana sangat penting bagi dokter anak untuk membuat keputusan yang tepat. Dengan pendekatan yang sistematis—mulai dari deteksi dini, pemantauan hemodinamik, hingga pemilihan terapi yang tepat—PDA dapat dikelola secara efektif sehingga risiko jangka panjang dapat diminimalkan. Pendekatan kolaboratif interdisipliner dan edukasi keluarga turut menjadi fondasi keberhasilan manajemen PDA.
Referensi:
Gillam-Krakauer M, Mahajan K. Patent Ductus Arteriosus. [Updated 2023 Aug 8]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430758/