
Pemakaian Insulin pada Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1
Author: dr. Afiah Salsabila
9 Feb 2026
Topik: Insulin, DM tipe 1, Guideline
Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) tipe 1 merupakan penyakit kronik autoimun yang paling sering dijumpai pada anak dan remaja. Secara global, insidens DM tipe 1 terus meningkat, terutama pada kelompok usia anak. Di Indonesia, meskipun belum tersedia sistem registri nasional yang komprehensif, berbagai laporan menunjukkan peningkatan jumlah kasus DM tipe 1 anak yang terdiagnosis di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan. Sebagian besar pasien masih datang dalam kondisi lanjut, bahkan dengan ketoasidosis diabetik saat diagnosis awal, yang mencerminkan masih rendahnya deteksi dini dan kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini. Situasi ini menempatkan DM tipe 1 sebagai tantangan klinis dan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. (1, 2)
Insulin merupakan terapi utama dan bersifat life-saving bagi anak dengan DM tipe 1. Namun, pemberian insulin pada populasi pediatrik sering dianggap kompleks karena harus menyesuaikan usia, fase pertumbuhan, pola makan, aktivitas fisik, serta fluktuasi hormon, terutama selama pubertas. Oleh karena itu, pemahaman yang menyeluruh mengenai jenis insulin, regimen terapi, dan faktor klinis yang memengaruhi respons insulin sangat penting bagi dokter anak agar pengelolaan DM tipe 1 dapat berlangsung optimal dan aman. (1)
Definisi dan Patogenesis Diabetes Melitus Tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 adalah gangguan metabolik akibat defisiensi insulin absolut yang disebabkan oleh destruksi sel beta pankreas. Proses destruksi ini umumnya dimediasi oleh mekanisme autoimun, yang ditandai dengan keberadaan autoantibodi terhadap antigen sel beta seperti glutamic acid decarboxylase (GAD65), insulinoma-associated antigen-2 (IA-2), insulin autoantibody (IAA), dan zinc transporter 8 (ZnT8). Kehilangan produksi insulin menyebabkan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, yang berujung pada hiperglikemia kronik serta risiko komplikasi akut maupun kronik.(1)
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis DM tipe 1 pada anak umumnya muncul secara akut dan khas, meliputi poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, serta kelelahan. Pada anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol, dapat terjadi enuresis sekunder. Keterlambatan diagnosis masih sering ditemukan dan dapat menyebabkan ketoasidosis diabetik, suatu kondisi gawat darurat yang berpotensi fatal bila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, kewaspadaan klinis terhadap gejala klasik DM tipe 1 sangat penting dalam praktik sehari-hari dokter anak. (1,2)
Insulin pada DM Tipe 1 Anak: Jenis dan Regimen Terapi
Insulin merupakan pilar utama dalam pengelolaan DM tipe 1. Berdasarkan profil kerja, insulin dibagi menjadi insulin kerja cepat, kerja pendek, kerja menengah, dan kerja panjang atau analog basal. Insulin kerja cepat dan kerja pendek digunakan sebagai insulin prandial atau bolus untuk mengendalikan peningkatan glukosa darah postprandial, sedangkan insulin kerja menengah dan analog basal berfungsi memenuhi kebutuhan insulin basal sepanjang hari dan malam. Insulin analog basal memiliki profil kerja yang lebih stabil dan risiko hipoglikemia nokturnal yang lebih rendah dibandingkan insulin kerja menengah. Awitan dan durasi kerja berbagai tipe insulin yang tersebdia bisa dilihat di Tabel 1. (1)
Tabel 1. Jenis insulin dan waktu awitan, puncak kerja, dan lama kerjanya.
Dalam praktik klinis, beberapa regimen insulin dapat digunakan pada anak. Regimen basal-bolus, yang mengombinasikan insulin basal dengan insulin bolus sebelum makan, direkomendasikan sebagai pilihan utama karena paling mendekati pola fisiologis sekresi insulin. Regimen ini memberikan fleksibilitas yang lebih baik terhadap variasi asupan makanan dan aktivitas fisik anak. Regimen split-mix atau insulin campuran masih dapat digunakan pada kondisi tertentu, terutama bila terdapat keterbatasan sumber daya atau kendala kepatuhan, meskipun fleksibilitasnya lebih terbatas. (1)
Hal-Hal Klinis yang Perlu Diperhatikan
Aktivitas fisik berperan penting dalam memengaruhi kebutuhan insulin. Olahraga meningkatkan sensitivitas insulin dan pemanfaatan glukosa oleh otot, sehingga dapat meningkatkan risiko hipoglikemia bila tidak diantisipasi dengan penyesuaian dosis insulin atau tambahan asupan karbohidrat. Edukasi mengenai perencanaan aktivitas fisik dan pemantauan glukosa darah sebelum serta sesudah olahraga merupakan bagian integral dari pengelolaan DM tipe 1 pada anak. (1)
Dokter anak juga perlu memahami fenomena hiperglikemia pagi hari. Efek Somogyi terjadi akibat hipoglikemia nokturnal yang memicu peningkatan hormon kontra-insulin, sehingga menyebabkan hiperglikemia pada pagi hari. Sebaliknya, efek Subuh atau dawn effect disebabkan oleh peningkatan hormon pertumbuhan dan kortisol pada dini hari tanpa didahului hipoglikemia. Untuk bisa membedakan kedua kondisi ini, perlu dilakukan pemantauan glukosa darah malam hari, karena pendekatan penyesuaian insulin yang dibutuhkan berbeda: efek somogyi ditangani dengan pengurangan insulin atau penambahan makanan sebelum tidur, sementara itu dawn effect dihadapi dengan menambah dosis insulin di malam hari. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Pemakaian insulin pada anak dengan DM tipe 1 merupakan terapi esensial yang menuntut pemahaman menyeluruh mengenai patofisiologi penyakit, jenis dan regimen insulin, serta faktor klinis yang memengaruhi respons terapi. Pendekatan individual, edukasi berkelanjutan, dan pemantauan ketat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan DM tipe 1 pada anak. Dengan tata laksana insulin yang tepat, anak dengan DM tipe 1 dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta memiliki kualitas hidup yang sebanding dengan anak sehat lainnya. (1,2)
Daftar Pustaka
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Nasional Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 1 pada Anak dan Remaja. Edisi revisi. Jakarta: UKK Endokrinologi Anak dan Remaja IDAI; 2021.
- Pulungan AB, Anissa D, Imada S. Diabetes melitus tipe 1 pada anak: situasi di Indonesia dan tata laksana. Sari Pediatri. 2019;20(6):392–400.
