
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
23 Mei 2026
Topik: Tenggelam, Pertolongan Pertama Tenggelam, Panduan
Pendahuluan
Tenggelam merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat cedera tidak disengaja pada anak. WHO memperkirakan lebih dari 300.000 kematian terjadi setiap tahun secara global, dengan anak usia 1–4 tahun sebagai kelompok risiko tertinggi. Di Amerika Serikat, tenggelam menjadi penyebab kematian cedera kedua tersering pada anak usia 1–14 tahun. (1,2) Di Indonesia, tingginya paparan terhadap sungai, kolam, dan perairan terbuka menjadikan tenggelam sebagai masalah kesehatan masyarakat yang penting. Sebagian besar kejadian sebenarnya dapat dicegah melalui pengawasan adekuat dan edukasi keselamatan air. (1)
Tenggelam didefinisikan sebagai gangguan respirasi akibat submersi atau imersi dalam cairan. Hipoksia adalah mekanisme cedera utama: jalan napas yang terendam memicu laringospasme, dilanjutkan aspirasi cairan, henti napas, hingga henti jantung sekunder. (3)
Identifikasi Tenggelam
Secara definisi, tenggelam merupakan proses gangguan respirasi akibat submersi atau imersi dalam cairan. Keluaran dapat berupa kematian, morbiditas, maupun sembuh tanpa gejala sisa. Hipoksia menjadi mekanisme utama cedera pada drowning.
Ketika jalan napas terendam, terjadi serangkaian respons fisiologis yang progresif:
• Laringospasme sementara sebagai refleks protektif awal
• Aspirasi cairan ke dalam saluran napas
• Gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida di alveoli
• Hipoksia jaringan yang progresif
• Henti napas (respiratory arrest)
• Henti jantung (cardiac arrest) akibat hipoksia miokard
Mengenali Tanda Anak dalam Bahaya di Air
Salah satu tantangan terbesar dalam pencegahan drowning adalah bahwa kejadian ini hampir tidak pernah tampak seperti yang digambarkan di film atau televisi. Pemahaman tentang tanda bahaya sangat penting bagi orang tua, pengasuh, dan siapapun yang berada di dekat air.
Tanda "Water Trouble" (Kesulitan di Air, Belum Tenggelam)
Seseorang yang mengalami kesulitan di air namun belum benar-benar tenggelam dapat menunjukkan tanda-tanda berikut:
• Ekspresi wajah panik atau ketakutan
• Masih mampu melambaikan tangan atau berteriak minta tolong
• Mengapung atau menginjak-injak air namun tidak mampu bergerak maju
• Mencoba berpegangan pada sesuatu untuk membantu mengapung
Tanda Tenggelam Aktif (Active Drowning)
Berbeda dari gambaran yang sering terlihat di media, tenggelam aktif pada kenyataannya hampir tidak menimbulkan suara dan berlangsung sangat cepat:
• Kepala mendongak ke belakang berusaha menjaga mulut di atas permukaan air
• Tubuh dalam posisi vertikal, tanpa gerakan kaki yang terkoordinasi
• Tangan menekan-nekan permukaan air ke bawah di sisi tubuh
• Tidak mampu melambaikan tangan atau berteriak
• Mulut berada tepat di permukaan air, kadang-kadang tenggelam dan muncul kembali
• Mata kosong, tidak fokus, atau tertutup
• Anak kecil mungkin langsung tenggelam diam-diam ke dasar
INGAT: Tenggelam seringkali SUNYI dan CEPAT. Anak tidak selalu berteriak atau berisik. Pengawasan aktif tanpa gangguan adalah kunci.
Tata Laksana Awal Tenggelam
1. Reach or Throw, Don't Go
Prinsip keselamatan air yang ditekankan oleh American Red Cross ini menjadi landasan pertolongan pertama: jangan masuk ke air bila tidak terlatih sebagai penyelam. Korban yang panik berpotensi menarik penolong ke bawah air, menyebabkan double drowning. (4) Ada dua cara menolong yang aman dari darat:
• Reach (raih): Berlutut atau berbaring di tepi air, julurkan benda panjang — tali, handuk, dayung, cabang pohon, pool noodle, atau gagang sapu. Condongkan tubuh ke belakang agar tidak terseret. Tarik korban perlahan sambil instruksikan: "Pegang kuat, jangan lepas!"
• Throw (lempar): Bila korban terlalu jauh, lempar benda apung seperti ring buoy, life jacket, bola, atau jeriken plastik, idealnya dengan tali agar dapat ditarik. Gunakan lemparan ayun bawah (underhand throw) untuk akurasi lebih baik. Arahkan sedikit melampaui korban agar tidak mengenai tubuhnya.
Segera hubungi nomor darurat (119 / 112) bersamaan dengan upaya reach/throw. Beritahukan lokasi, usia korban, dan kondisi terakhirnya.
2. Resusitasi Jantung Paru (RJP)
Setelah korban dievakuasi dari air, nilai respons dan pernapasan segera. Pada tenggelam, henti jantung terjadi sekunder akibat hipoksia, sehingga ventilasi adalah prioritas utama, berbeda dari protokol henti jantung dewasa standar. (3)
1. Buka jalan napas: head-tilt chin-lift. Periksa ada tidaknya benda asing yang terlihat jelas.
2. 5 rescue breaths pertama: tiupkan udara selama ~1 detik sambil memastikan dada mengembang. Ini didahulukan sebelum kompresi dada.
3. Kompresi dada: bila tidak ada respons setelah rescue breaths, mulai kompresi. Kedalaman ≥1/3 diameter anteroposterior dada, kecepatan 100–120/menit, rasio 30:2 (penolong tunggal) atau 15:2 (dua penolong).
4. AED: pasang sesegera mungkin bila tersedia. Gunakan pediatric pads untuk anak <8 tahun.
5. Evaluasi tiap 2 menit: lanjutkan RJP hingga bantuan medis mengambil alih atau anak menunjukkan tanda sirkulasi spontan.
Anak yang tampak "baik-baik saja" setelah tenggelam tetap wajib dievaluasi medis. Secondary tenggelam dapat muncul 4–8 jam kemudian berupa edema paru, distress napas, atau perubahan status mental.
Strategi Pencegahan
Pencegahan memiliki dampak terbesar dalam menurunkan angka kematian. AAP dan WHO merekomendasikan pendekatan berlapis: (1,2)
• Pengawasan aktif: satu orang dewasa yang ditunjuk sebagai water watcher tanpa distraksi (tidak memegang ponsel). Pengawasan tidak dapat digantikan oleh pelampung atau lifeguard semata.
• Pelajaran berenang: AAP merekomendasikan pelajaran renang mulai usia sekitar 1 tahun sesuai kesiapan perkembangan. Kemampuan berenang tidak menghilangkan risiko tenggelam. Pengawasan tetap diperlukan.
• Pengamanan lingkungan: pagar empat sisi kolam renang setinggi ≥1,2 m dengan pintu self-closing dan self-latching. Kosongkan ember dan bak mandi saat tidak digunakan. Pasang alarm pada pintu yang langsung menuju kolam.
• Alat pelindung: life jacket berstandar saat aktivitas boating. Ban renang dan floaties bukan alat keselamatan jiwa.
• Edukasi: ajarkan anak prinsip "Reach or Throw, Don't Go", tidak berenang sendirian, dan menghormati tanda larangan berenang.
• Pelatihan RJP komunitas: orang tua, pengasuh, dan guru dianjurkan mengikuti pelatihan BLS. Akses terhadap pelatihan resusitasi meningkatkan survival korban secara bermakna.
Kesimpulan
Tenggelam pada anak adalah kondisi gawat darurat yang sebagian besar dapat dicegah. Penanganan awal yang tepat — dimulai dari prinsip Reach or Throw, Don't Go, diikuti rescue breaths yang diutamakan sebelum kompresi dada — sangat menentukan prognosis. Evaluasi pasca tenggelam harus dilakukan menyeluruh bahkan pada anak yang tampak asimtomatik. Dokter anak memiliki peran strategis dalam edukasi preventif kepada keluarga sekaligus mengenali dan menangani komplikasi pasca tenggelam secara optimal.
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. Global report on drowning: preventing a leading killer. Geneva: WHO; 2024.
2. Denny SA, Quan L, Gilchrist J, et al. Prevention of drowning. Pediatrics. 2019;143(5):e20190850.
3. Atkins DL, Berger S, Duff JP, et al. 2024 American Heart Association and American Academy of Pediatrics focused update for resuscitation following tenggelam. Circulation. 2024.
4. American Red Cross. Longfellow's WHALE Tales Water Safety for Children: Lesson 8 — Reach or Throw, Don't Go. Washington DC: American Red Cross; 2024.