
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
25 Mei 2026
Topik: Ilmiah, Pityriasis alba, Tinea Versicolor
Keluhan bercak putih atau hipopigmentasi pada anak sering langsung dianggap sebagai “panu” atau tinea versicolor. Padahal, tidak semua lesi hipopigmentasi disebabkan oleh infeksi jamur. Salah satu diagnosis banding yang sering ditemukan pada praktik pediatri adalah pityriasis alba, suatu dermatosis jinak yang berkaitan dengan dermatitis atopik atau kulit kering. Pembedaan keduanya penting karena tata laksana berbeda: pityriasis alba membutuhkan emolien, proteksi matahari, dan kadang obat antiinflamasi ringan, sedangkan tinea versicolor memerlukan antijamur. Kesalahan diagnosis dapat menyebabkan terapi yang tidak efektif, penggunaan obat yang tidak perlu, serta kecemasan berulang pada keluarga. (1)
Pityriasis alba merupakan kelainan kulit jinak yang terutama mengenai anak dan remaja. Lesi khas berupa makula atau patch hipopigmentasi berbatas tidak tegas, berbentuk bulat atau oval, dengan skuama halus dan kadang pruritus ringan. Lokasi tersering adalah wajah, terutama pipi, kemudian leher, lengan atas, dan badan bagian atas. Kelainan ini lebih mudah tampak pada anak dengan kulit lebih gelap atau setelah paparan matahari karena kulit sekitar menjadi lebih gelap. (2)
Etiologi pityriasis alba belum sepenuhnya jelas. Kondisi ini tidak menular dan bukan disebabkan oleh infeksi. Pada banyak kasus, pityriasis alba dianggap sebagai manifestasi ringan dermatitis atopik atau hipopigmentasi pascainflamasi akibat dermatitis nonspesifik. Secara patofisiologi, terdapat penurunan produksi melanin atau gangguan transfer melanosom, bukan hilangnya melanosit secara total. Oleh karena itu, prognosisnya baik dan repigmentasi umumnya terjadi spontan, meskipun dapat memerlukan beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun. (2)
Sebaliknya, tinea versicolor atau pityriasis versicolor merupakan infeksi jamur superfisial jinak yang disebabkan oleh Malassezia, flora normal kulit yang dapat berubah menjadi bentuk patogen. Faktor risiko mencakup iklim panas dan lembap, kulit berminyak, penggunaan produk oklusif berminyak, predisposisi genetik, serta kondisi imunokompromais. Pada anak, lesi dapat muncul di wajah, tetapi lokasi yang lebih khas adalah area seboroik seperti leher, dada, punggung atas, dan lengan proksimal. (3)
Lesi tinea versicolor dapat berupa makula hipopigmentasi, hiperpigmentasi, atau eritematosa dengan skuama halus dan batas lebih tegas dibanding pityriasis alba. Hipopigmentasi pada tinea versicolor diduga berkaitan dengan metabolit Malassezia, seperti asam azelat, yang mengganggu fungsi melanogenesis. Diagnosis biasanya klinis, tetapi pemeriksaan KOH dapat membantu dengan temuan hifa dan spora khas, sedangkan Wood’s lamp dapat menunjukkan fluoresensi kuning keemasan, kuning kehijauan, atau oranye tembaga. (3)
Gambar 1. Tinea Versicolor
Gambar 2. Tinea alba
Tata laksana pityriasis alba berfokus pada edukasi bahwa kondisi ini jinak, tidak menular, dan biasanya membaik spontan. Emolien diberikan untuk memperbaiki xerosis dan skuama. Sunscreen membantu mengurangi kontras warna antara lesi dan kulit sekitar. Bila terdapat eritema atau pruritus, kortikosteroid topikal potensi rendah seperti hidrokortison dapat digunakan singkat. Pada kasus tertentu, inhibitor kalsineurin topikal dapat dipertimbangkan, terutama bila lesi berada di wajah dan terapi antiinflamasi diperlukan lebih lama. (2)
Tata laksana tinea versicolor adalah antijamur topikal sebagai terapi lini pertama. Ketokonazol 2% sampo, selenium sulfide, atau azole topikal lain dapat digunakan sesuai luas lesi dan toleransi pasien. Pada kasus luas, rekuren, atau gagal terapi topikal, antijamur sistemik dapat dipertimbangkan dengan kehati-hatian dan indikasi yang jelas. Penting dijelaskan bahwa perubahan warna kulit dapat menetap beberapa bulan setelah jamur eradikasi, sehingga hipopigmentasi persisten tidak selalu berarti terapi gagal. (3)
Tabel 1. Ciri-Ciri Pityriasis alba vs Tinea Versicolor
Poin yang perlu dihighlight adalah perbedaan arah terapi. Pada pityriasis alba, kortikosteroid potensi rendah dapat membantu inflamasi ringan; namun pada tinea versicolor, penggunaan kortikosteroid tanpa antijamur tidak mengatasi penyebab dan dapat mengaburkan gambaran klinis. Sebaliknya, antijamur tidak diperlukan pada pityriasis alba bila KOH negatif dan gambaran klinis konsisten dengan dermatitis hipopigmentasi.
Kesimpulannya, bercak putih pada anak tidak selalu panu. Pityriasis alba dan tinea versicolor sama-sama jinak, tetapi berbeda etiologi, distribusi, pemeriksaan penunjang, dan terapi. Pemeriksaan klinis yang cermat, pertimbangan lokasi lesi, riwayat atopi, adanya skuama, serta pemeriksaan KOH bila diagnosis meragukan dapat membantu dokter anak memberikan tata laksana yang tepat dan menghindari terapi yang tidak perlu.
Daftar Pustaka