
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
31 Mei 2026
Topik: Picky eating, Picky Eater, ARFID, Ilmiah
Latar Belakang
Keluhan orang tua mengenai anak yang sulit makan merupakan salah satu permasalahan yang paling sering dijumpai dalam praktik dokter anak sehari-hari. Di balik keluhan tersebut, terdapat dua kondisi yang tampak serupa namun memiliki implikasi klinis yang sangat berbeda: picky eating dan Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Keduanya sama-sama menunjukkan perilaku aversif terhadap makanan, namun berbeda secara fundamental dalam hal derajat keparahan, dampak fungsional, serta pendekatan tatalaksana yang diperlukan.
Memahami perbedaan ini merupakan kompetensi klinis yang esensial bagi dokter anak. Tanpa pemahaman yang tepat, kondisi yang ringan dapat ditangani secara berlebihan, sementara kondisi yang membutuhkan intervensi multidisiplin segera justru luput dari perhatian.
Definisi Picky Eating
Picky eating, yang juga dikenal dengan istilah fussy eating, faddy eating, merupakan perilaku yang umum dijumpai pada masa kanak-kanak dini. Definisi yang paling luas diterima adalah bahwa picky eater merupakan anak yang mengonsumsi variasi makanan yang tidak memadai akibat penolakan terhadap sejumlah besar makanan, baik yang familiar maupun yang belum dikenal. Hingga saat ini belum ada definisi universal yang disepakati untuk picky eating, dan belum ada konsensus mengenai instrumen terbaik untuk mengidentifikasinya. Prevalensi picky eating bervariasi luas antara 6–50% bergantung pada desain studi dan alat penilaian yang digunakan, dengan puncak insidens terjadi sekitar usia 3 tahun dan umumnya menurun seiring bertambahnya usia. (1)
Faktor-faktor penyebab picky eating meliputi kesulitan makan sejak dini, pengenalan makanan bertekstur yang terlambat saat masa penyapihan, tekanan untuk makan, serta perilaku pilih-pilih pada usia dini, terutama bila orang tua merasa khawatir terhadap kondisi tersebut. Faktor protektif meliputi penyediaan makanan segar dan kebiasaan makan bersama anak dalam satu menu yang sama. (1) Dampak picky eating terhadap status gizi anak umumnya terbatas. Konsekuensi terhadap diet anak meliputi variasi makanan yang buruk dan kemungkinan distorsi asupan zat gizi, dengan rendahnya asupan zat besi dan seng, terkait rendahnya konsumsi daging, buah, dan sayuran, sebagai hal yang paling perlu diwaspadai. (1) Meski demikian, sebagian besar anak dengan picky eating menunjukkan pertumbuhan yang normal dan kondisi ini cenderung membaik tanpa intervensi khusus.
Definisi dan Kriteria Diagnostik ARFID
ARFID merupakan entitas yang berbeda secara kualitatif dari picky eating. ARFID merupakan diagnosis tersendiri dalam spektrum gangguan makan yang ditetapkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), yang ditandai oleh pembatasan asupan makanan yang signifikan tanpa adanya kekhawatiran terhadap citra tubuh seperti yang dijumpai pada anoreksia nervosa atau bulimia nervosa. (2) Individu dengan ARFID menunjukkan penghindaran atau pembatasan asupan makanan yang seringkali disebabkan oleh masalah sensorik, penghindaran makan berbasis rasa takut, atau nafsu makan yang rendah, sehingga mengakibatkan defisiensi nutrisi, penurunan berat badan, dan gangguan psikososial. (2)
DSM-5 menetapkan empat kriteria diagnostik ARFID yang harus dipenuhi, yaitu:
ARFID dapat terjadi pada segala usia namun umumnya muncul pada masa kanak-kanak dan dapat menetap hingga dewasa. Kondisi ini juga dapat terjadi bersamaan dengan gangguan medis atau psikiatri lain, sehingga mempersulit proses diagnosis maupun tatalaksana. Dari sisi epidemiologi, prevalensi ARFID pada populasi anak usia sekolah berkisar antara 0,35% hingga 3,2%, dengan beberapa studi menunjukkan predominansi pada jenis kelamin laki-laki terutama pada populasi pediatrik. (2)
Perbedaan Klinis: Picky Eating vs. ARFID
Perbedaan mendasar antara picky eating dan ARFID terletak pada derajat keparahan, dampak fungsional, dan ada tidaknya konsekuensi medis yang bermakna. Picky eating tidaklah sinonim dengan ARFID, yang memiliki definisi sangat spesifik dalam DSM-5 mencakup adanya defisiensi nutrisi akibat asupan makanan yang tidak adekuat, gagal tumbuh pada anak, penurunan fungsi psikologis, dan ketergantungan pada suplemen untuk mempertahankan status gizi. (1) Selain itu, perbedaan keduanya juga dapat dilihat melalui ada atau tidaknya dampak sosial yang signifikan: pada ARFID, pasien seringkali menghindari situasi sosial yang melibatkan makanan, dan keluarga mengalami tekanan bermakna di setiap waktu makan. (3)
Pada picky eating, penolakan makanan bersifat selektif namun tidak sampai menyebabkan gangguan nutrisi berat atau disfungsi sosial yang signifikan. Anak masih dapat tumbuh dalam batas normal meski dengan variasi makanan yang terbatas. Sebaliknya, ARFID ditandai oleh restriksi yang jauh lebih berat, di mana pasien dapat mengalami malnutrisi, kegagalan tumbuh kembang, bahkan memerlukan nutrisi enteral. Komorbiditas pada ARFID juga lebih kompleks, dengan asosiasi yang kuat terhadap gangguan neurodevelopmental seperti autism spectrum disorder (ASD) dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), serta gangguan anxietas dan obsessive-compulsive disorder (OCD). (2)
Pendekatan Tatalaksana
Pendekatan untuk kedua kondisi ini berbeda secara substansial. Pada picky eating, intervensi umumnya cukup berupa edukasi orang tua dan modifikasi perilaku makan di rumah. Strategi yang direkomendasikan meliputi paparan berulang terhadap makanan baru, pemodelan perilaku makan orang tua, serta penciptaan pengalaman sosial yang positif di sekitar waktu makan. Rujukan ke ahli dietisien atau psikolog pediatrik dipertimbangkan bila terdapat kekhawatiran terhadap pertumbuhan atau bila terpenuhi kriteria diagnostik ARFID. (1)
Pada ARFID, tatalaksana bersifat multidisiplin dan lebih intensif. Intervensi mencakup cognitive behavioral therapy, family-based therapy, exposure therapy, dan dalam beberapa kasus farmakoterapi. Tujuan tatalaksana meliputi pencapaian stabilitas medis, rehabilitasi nutrisi, perluasan variasi makanan, serta penanganan ketakutan atau ketidaknyamanan yang berkaitan dengan makan. Pada kasus dengan malnutrisi berat atau komplikasi medis yang mengancam jiwa, rawat inap mungkin diperlukan. Tim interprofesional yang ideal mencakup dokter anak, psikiater atau psikolog, ahli gizi, terapis okupasi, dan terapis wicara. (2)
Kesimpulan
Picky eating dan ARFID merupakan dua kondisi yang berbeda secara klinis dan tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang sama. Picky eating adalah fenomena perkembangan yang lazim dan umumnya bersifat self-limiting, sementara ARFID adalah gangguan makan yang memerlukan penegakan diagnosis formal berdasarkan kriteria DSM-5 dan tatalaksana multidisiplin yang komprehensif. Kemampuan dokter anak untuk membedakan keduanya secara akurat akan menentukan ketepatan intervensi, mencegah penanganan yang berlebihan pada kondisi ringan, sekaligus memastikan bahwa pasien dengan ARFID mendapat perhatian klinis yang memadai dan tepat waktu. Peningkatan kesadaran dan pemahaman mengenai spektrum ini merupakan langkah krusial dalam optimalisasi tumbuh kembang anak secara holistik.
Referensi