
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
13 Nov 2025
Topik: Proteinuria, Panduan, Gagal ginjal, Kesehatan ginjal, Ginjal
Latar Belakang
Proteinuria didefinisikan sebagai ekskresi protein dalam urine yang melebihi batas normal. Studi menunjukkan bahwa proteinuria persisten adalah faktor risiko independen untuk progresi penyakit ginjal kronis pada anak-anak. Etiologi proteinuria pada anak perlu dipahami oleh dokter anak karena meskipun banyak kasus bersifat jinak seperti proteinuria ortostatik atau transien, proteinuria dapat juga menandakan penyakit ginjal glomerular atau tubulointerstisial yang serius. (1)
Etiologi dan Patogenesis
Proteinuria pada anak dapat diklasifikasikan menurut mekanisme patogenesisnya: glomerular, tubular, sekretori, atau overflow. Pada proteinuria glomerular terdapat peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus atau hilangnya muatan negatif dari membran basement glomerulus sehingga protein-makromolekuler seperti albumin dan IgG mudah lolos. Proteinuria tubuler terjadi ketika ginjal mampu memfiltrasi dengan normal namun gagal mengabsorpsi protein-bermolekul kecil di tubulus proksimal. Proteinuria sekretori muncul dari oversekresi protein dalam tubulus, sedangkan overflow terjadi bila konsentrasi plasma protein kecil melebihi kapasitas reabsorpsi tubulus. Etiologi tersering pada anak mencakup proteinuria transien (fungsional) akibat demam, olahraga berat, stres atau paparan dingin; proteinuria ortostatik yang umum pada remaja laki-laki; serta proteinuria persisten yang mengarah ke penyakit ginjal struktural atau sistemik. Faktor risikonya antara lain riwayat VUR (refluks vesiko-ureteral ), infeksi saluran kemih rekuren, nefropati glomerular, hipertensi, atau riwayat keluarga penyakit ginjal. (1)
Epidemiologi
Prevalensi proteinuria pada anak sekolah mencapai hingga 10 % pada pemeriksaan rutin namun menurun menjadi sekitar 0,1 % bila diuji ulang. Prevalensi cenderung meningkat dengan usia dan lebih sering ditemukan pada remaja perempuan dibanding laki-laki. Data spesifik populasi Indonesia masih terbatas, namun temuan global tersebut menunjukkan bahwa deteksi awal melalui skrining sederhana dapat memberikan dampak klinis. (1)
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Diagnosis dimulai dengan skrining menggunakan pemeriksaan dipstick urine. Pada hasil 1+ atau lebih, direkomendasikan evaluasi lebih lanjut dengan rasio protein-urin terhadap kreatinin (UPr/Cr) pada urine pagi atau rasio protein terhadap osmolalitas. Jika UPr/Cr lebih dari 0,2 (atau >0,5 untuk anak usia 6–24 bulan) atau ditemukan sediment urin abnormal seperti hematuria, leukocyturia atau silinder sel, maka kemungkinan proteinuria persisten yang signifikan meningkat. Pada anak dengan proteinuria yang terjadi hanya setelah berdiri lama atau aktivitas fisik berat dan negatif pada urine pagi, maka proteinuria ortostatik lebih mungkin dan biasanya bukan berasal dari penyebab yang membahayakan. Manifestasi klinis sering tidak spesifik; anak mungkin tidak menunjukkan keluhan ginjal dan proteinuria ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan rutin. Namun jika disertai hipertensi, hematuria makroskopik, penurunan laju filtrasi glomerulus, maka harus dicurigai penyakit ginjal yang memerlukan evaluasi nefrologi. Penting ditekankan bahwa hasil proteinuria saja tidak cukup untuk diagnosis, melainkan harus dikaitkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. (1)
Komplikasi
Proteinuria persisten, terutama yang bersifat glomerular, meningkatkan risiko progresi ke penyakit ginjal kronis dan akhirnya gagal ginjal. Oleh sebab itu, mendeteksi dan memantau proteinuria secara tepat sangat penting untuk intervensi dini. Tanpa evaluasi yang memadai, anak dengan proteinuria dapat terlewat dan kehilangan kesempatan untuk terapi nefroprotektif. (1)
Rekomendasi Tatalaksana
Dalam praktik klinis dokter anak, alur tatalaksana dievaluasi mulai dari pemeriksaan skrining hingga rujukan ke nefrologi. Pertama, saat ditemukan proteinuria positif pada dipstick, ulangi dengan urine pagi untuk menilai UPr/Cr dan lakukan pemeriksaan lengkap termasuk tekanan darah, pemeriksaan urin lengkap, kreatinin serum dan BUN bila dicurigai penyakit ginjal. Jika UPr/Cr ≤ 0,2 dan tidak ada temuan lain, maka kemungkinan besar proteinuria ortostatik atau transien; pengamatan dengan kontrol ulang tiap 6-12 bulan cukup. (1) Namun jika UPr/Cr > 0,2 atau terdapat hematuria, hipertensi, atau penurunan laju filtrasi maka perlu rujukan ke nefrologi anak untuk evaluasi lebih lanjut termasuk ultrasonografi ginjal dan mungkin biopsi ginjal. (1) Tatalaksana terapeutik diarahkan pada penyebab dasar; misalnya pengobatan VUR, hipertensi, atau penyakit ginjal lainnya. Terapi nefroprotektif seperti ACE inhibitor (italic) atau ARB dapat dipertimbangkan bila ada disfungsi ginjal dan proteinuria yang signifikan. Pada praktik sehari-hari di Indonesia, dokter anak hendaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap proteinuria yang tampak jinak agar tidak melewatkan kasus yang memerlukan intervensi spesialis. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Proteinuria pada anak merupakan temuan yang sering namun memiliki spektrum yang luas mulai dari kondisi jinak hingga penyakit ginjal serius. Evaluasi klinis yang cermat sangat penting karena diagnosis tidak dapat dibuat hanya dari hasil pemeriksaan proteinuria saja; harus dikaitkan dengan anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Bagi dokter anak di Indonesia, pendekatan skrining yang sistematis serta rujukan tepat waktu sangat penting untuk mendeteksi dan mengelola anak dengan proteinuria persisten. Dengan demikian, potensi progresi ke gagal ginjal dapat diminimalkan dan hasil klinis jangka panjang dapat diperbaiki. (1)
Referensi
Leung AK, Wong AH, Barg SN. Proteinuria in children: evaluation and differential diagnosis. Am Fam Physician. 2017;95(4):248-254.