
Author: dr. Afiah Salsabila
27 Mar 2026
Topik: Ilmiah, Sejarah, Vaksin
Latar Belakang
Vaksin merupakan salah satu inovasi medis paling berdampak dalam sejarah manusia, yang telah menyelamatkan lebih banyak nyawa dibandingkan intervensi medis lainnya. Perkembangan vaksin tidak terjadi secara instan, melainkan melalui perjalanan panjang selama berabad-abad, yang ditandai dengan observasi klinis, eksperimen ilmiah, hingga kolaborasi global lintas negara. Memahami sejarah vaksin menjadi penting bagi dokter anak, tidak hanya sebagai pengetahuan dasar, tetapi juga sebagai landasan dalam menghadapi tantangan modern seperti vaccine hesitancy dan kesenjangan cakupan imunisasi. (1)
Perjalanan Awal: Variolasi hingga Vaksinasi Modern
Upaya pencegahan penyakit melalui imunisasi telah dimulai sejak abad ke-15 melalui praktik variolasi, yaitu paparan sengaja terhadap materi dari lesi cacar untuk menimbulkan kekebalan terhadap small pox. Catatan sejarah menunjukkan bahwa variolasi telah digunakan secara luas di Tiongkok (China) dan India, serta kemudian juga ditemukan dalam praktik medis tradisional di Kesultanan Ottoman (Turki).
Di Tiongkok, variolasi dilakukan dengan cara menghirup bubuk dari kerak luka cacar, sementara di India dilakukan melalui inokulasi material dari lesi ke dalam kulit. (2) Praktik di Ottoman kemudian menjadi salah satu jalur masuk variolasi ke Eropa, yang selanjutnya dipopulerkan oleh Lady Mary Wortley Montagu pada abad ke-18 setelah mengamati praktik tersebut secara langsung. (1)
Pada 1774, seorang petani bernama Benjamin Jesty mengamati bahwa para pemerah susu yang pernah terinfeksi cowpox tampak tidak tertular smallpox. Berdasarkan pengamatan tersebut, pada tahun 1774 ia melakukan menginokulasikan materi dari lesi cowpox kepada istri dan kedua anaknya. Eksperimen ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami infeksi smallpox, sehingga mendukung hipotesis awal Jesty. (2)
Dokter asal Inggris, Edward Jenner kemudian meneliti penemuan ini secara ilmiah dan menamakan prosedur ini sebagai vaccination, yang berasal dari kata vaccinia yang berarti cowpox, yang juga berasal dari kata vacca yang berarti sapi. Tak semua orang menerima keberadaan vaksin. Salah satu misinformasi yang menyebabkan hal ini adalah kepercayaan bahwa vaksin dapat menyebabkan manusia berubah menjadi sapi, menunjukkan bahwa misinformasi kesehatan bukanlah fenomena baru. (2)
Era Ilmiah: Pengembangan Vaksin dan Ekspansi Target Penyakit
Abad ke-19 dan ke-20 ditandai dengan kemajuan pesat dalam mikrobiologi dan imunologi. Louis Pasteur mengembangkan vaksin berbasis laboratorium pertama untuk kolera unggas dan rabies, membuka era baru dalam vaksinologi. (1)
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, vaksin mulai dikembangkan untuk berbagai penyakit infeksi penting pada anak. Vaksin pertusis terbukti menurunkan insidensi penyakit secara signifikan, sementara vaksin influenza, polio, dan difteri menjadi bagian penting dalam program kesehatan masyarakat. Polio, yang sebelumnya menjadi penyebab utama paralisis pada anak, berhasil ditekan melalui vaksin inaktif (Salk) dan vaksin hidup dilemahkan (Sabin), dengan eliminasi di berbagai wilayah dunia. (1)
Vaksin campak, gondongan, dan rubella kemudian dikombinasikan menjadi vaksin MMR, yang secara signifikan menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit virus sistemik. Campak sendiri merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi, dengan patogenesis yang melibatkan replikasi virus di epitel respiratori dan penyebaran sistemik, serta komplikasi seperti pneumonia dan ensefalitis. (1)
Selain itu, vaksin Haemophilus influenzae tipe b (Hib) berperan penting dalam mencegah meningitis bakterial pada anak, yang sebelumnya memiliki mortalitas tinggi dan risiko sekuela neurologis permanen. Vaksin hepatitis B menargetkan virus hepatotropik yang dapat menyebabkan infeksi kronis dan sirosis, sementara vaksin pneumokokus melindungi terhadap infeksi invasif seperti pneumonia, sepsis, dan meningitis, terutama pada kelompok usia rentan. (1)
Eradikasi dan Dampak Global
Salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah vaksinasi adalah eradikasi smallpox pada tahun 1980 melalui program global yang dipimpin oleh WHO. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa eliminasi penyakit infeksi secara global dapat dicapai melalui vaksinasi yang terstruktur dan kolaboratif. (1)
Program imunisasi global seperti Expanded Programme on Immunization (EPI) kemudian memperluas cakupan vaksinasi untuk penyakit-penyakit utama pada anak, termasuk difteri, tetanus, pertusis, polio, dan tuberkulosis. Dampaknya sangat signifikan, dengan penurunan angka kematian anak secara global lebih dari 50% dalam beberapa dekade terakhir, yang sebagian besar dikaitkan dengan peningkatan cakupan imunisasi. (1)
Era Modern: Teknologi Baru dan Tantangan Baru
Perkembangan vaksin berlanjut dengan teknologi yang semakin canggih, termasuk vaksin rekombinan, konjugat, hingga mRNA. Vaksin HPV, misalnya, menargetkan infeksi virus yang berhubungan dengan kanker serviks, sementara vaksin rotavirus mengurangi beban diare berat pada anak.(1)
Pandemi COVID-19 menjadi titik penting dalam sejarah vaksin, dengan pengembangan vaksin mRNA dalam waktu singkat yang menunjukkan potensi teknologi baru dalam respons terhadap wabah global. Namun, di sisi lain, pandemi juga memperlihatkan tantangan baru berupa ketimpangan distribusi vaksin dan meningkatnya keraguan terhadap vaksin di berbagai populasi. ( 1)
Kesimpulan dan Penutup
Sejarah vaksin menunjukkan perjalanan panjang dari praktik empiris hingga inovasi berbasis teknologi tinggi yang telah mengubah wajah kesehatan global. Vaksin tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga menurunkan morbiditas, mortalitas, dan beban ekonomi secara signifikan.
Bagi dokter anak, pemahaman terhadap sejarah ini menjadi penting dalam memberikan perspektif ilmiah yang kuat serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Di tengah tantangan modern seperti kesenjangan cakupan vaksin dan meningkatnya vaccine hesitancy, keberhasilan vaksin di masa lalu menjadi pengingat bahwa intervensi ini tetap merupakan salah satu pilar utama dalam pencegahan penyakit infeksi. Ke depan, diperlukan komitmen berkelanjutan, kolaborasi global, dan komunikasi yang efektif untuk memastikan bahwa manfaat vaksin dapat dirasakan oleh seluruh populasi anak.
Daftar Pustaka