
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
25 Jun 2026
Topik: Milestone Anak, Ilmiah, Perkembangan Sosial Emosional Anak
Hampir setiap orang dewasa mengenali wajahnya sendiri ketika berdiri di depan cermin tanpa perlu berpikir dua kali. Kemampuan ini terasa begitu alamiah sehingga jarang disadari bahwa kemampuan tersebut memerlukan proses perkembangan kognitif dan sosial-emosional yang bertahap. Pada bayi dan anak kecil, kemampuan mengenali diri sendiri sebagai entitas yang terpisah dari lingkungan, yang dikenal sebagai self recognition, muncul melalui rangkaian tahapan yang dapat diamati dan, pada beberapa kasus, memiliki implikasi klinis penting bagi tenaga kesehatan yang menangani tumbuh kembang anak.
Self recognition didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengenali bahwa representasi visual, seperti pantulan pada cermin atau gambar, merupakan dirinya sendiri dan bukan individu lain. Kemampuan ini dipandang sebagai manifestasi awal dari konsep diri (self-concept) yang lebih abstrak, dan menjadi dasar bagi kapasitas kognitif yang lebih kompleks di kemudian hari . (1) Secara fungsional, self recognition berperan sebagai prasyarat bagi munculnya emosi yang bersifat self-conscious, seperti rasa malu dan rasa bersalah, serta menjadi fondasi bagi theory of mind, yakni kemampuan memahami bahwa orang lain memiliki pikiran dan perspektif yang berbeda dari diri sendiri . Lebih lanjut, self recognition turut berkontribusi terhadap perkembangan pengetahuan emosional (emotional knowledge), yaitu kemampuan memantau keadaan mental diri sendiri sekaligus memahami keadaan emosional orang lain . (2)
Instrumen klasik yang digunakan untuk menilai self recognition pada bayi dan anak adalah rouge test, atau yang dikenal pula sebagai mirror-mark test. Pada uji ini, peneliti secara diam-diam menempatkan tanda berupa noktah rouge pada hidung, pipi, atau dahi anak tanpa sepengetahuannya, kemudian mengamati respons anak ketika dihadapkan pada cermin. Karena tanda tersebut tidak dapat dirasakan secara taktil dan hanya dapat dilihat melalui bantuan cermin, perilaku anak yang mengarahkan tangan ke tanda tersebut, bukan ke arah cermin, dimaknai sebagai indikasi bahwa anak telah memahami citra di cermin adalah dirinya sendiri . (1) Pencapaian ini umumnya mulai tampak pada paruh kedua tahun kedua kehidupan.
Meskipun rouge test telah lama menjadi tolok ukur utama, sejumlah temuan terbaru menunjukkan bahwa self recognition tidak terbatas pada pencapaian perilaku tunggal tersebut. Penelitian menggunakan event-related potential (ERP) pada bayi usia 6 hingga 8 bulan menemukan adanya pola aktivitas neural yang berbeda secara signifikan ketika bayi dihadapkan pada wajahnya sendiri dibandingkan wajah individu lain, jauh sebelum bayi tersebut mampu menunjukkan respons perilaku eksplisit pada rouge test . (3) Temuan ini mengindikasikan bahwa prekursor self recognition pada tingkat neural dapat muncul lebih awal daripada manifestasi perilakunya, sehingga keberhasilan maupun kegagalan pada rouge test semata tidak dapat dijadikan satu-satunya parameter ada atau tidaknya kesadaran diri pada anak. Selain itu, kemampuan ini juga dibangun dari pengalaman sensorimotor multimodal, termasuk pengalaman menyentuh tubuh sendiri serta mengoordinasikan rangsang yang dirasakan dan dilihat secara bersamaan pada bagian tubuh tertentu . (1)
Pemahaman mengenai tahapan self recognition penting bagi tenaga kesehatan dalam menilai perkembangan sosial-emosional anak secara menyeluruh. Keterlambatan atau ketidakmunculan self recognition pada usia yang seharusnya dapat menjadi salah satu indikator kewaspadaan terhadap gangguan perkembangan, termasuk pada domain kognitif dan sosial. Namun demikian, klinisi perlu berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil rouge test secara kaku, mengingat kegagalan pada uji ini tidak selalu mencerminkan absennya konsep diri, sebagaimana ditemukan pada populasi dengan keterbatasan sensorik tertentu maupun pada konteks budaya tertentu . (1) Selain itu, karena self recognition berkaitan erat dengan kemunculan emosi self-conscious dan kemampuan regulasi emosi, asesmen terhadap kemampuan ini dapat menjadi bagian dari evaluasi holistik kesiapan emosional anak, khususnya pada anak dengan riwayat risiko neonatal atau gangguan keterikatan (attachment) dengan pengasuh utama . (2)
Sebagai kesimpulan, self recognition merupakan tonggak perkembangan sosial-emosional yang kompleks, tidak muncul secara instan, dan tidak dapat direduksi hanya pada satu bentuk uji perilaku semata. Pemahaman yang komprehensif mengenai tahapan biologis, neural, dan perilaku dari self recognition memungkinkan tenaga kesehatan untuk melakukan penilaian tumbuh kembang anak secara lebih akurat dan kontekstual, sekaligus menghindari kesimpulan prematur yang hanya didasarkan pada satu jenis instrumen evaluasi.
Daftar Pustaka
1. Adolph KE, Tamis-LeMonda CS. Self-recognition: From touching the body to knowing the self. Curr Biol. 2024 Mar 25;34(6):R239-R241. doi: 10.1016/j.cub.2024.02.007. PMID: 38531315.
2. Lewis M, Minar NJ. Self-Recognition and Emotional Knowledge. Eur J Dev Psychol. 2022;19(3):319-342. doi: 10.1080/17405629.2021.1890578. Epub 2021 Feb 25. PMID: 35832838; PMCID: PMC9272979.
3. Rigato S, De Sepulveda R, Richardson E, Filippetti ML. This is me! Neural correlates of self-recognition in 6- to 8-month-old infants. Child Dev. 2024 Sep-Oct;95(5):1797-1810. doi: 10.1111/cdev.14102. Epub 2024 Apr 13. PMID: 38613367.