
Author: dr. Afiah Salsbila
6 Apr 2026
Topik: Covid-19, Berita, Cicada
Belakangan ini, muncul pemberitaan mengenai varian COVID-19 baru yang dijuluki “Cicada”. Apakah kita perlu khawatir? Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut bebrapa hal yang kita perlu ketahui tentang perkembangan virus jenis ini.
COVID-19 “Cicada” merujuk pada COVID-19 varian BA 3.2. Seperti semua subvarian SARS-CoV-2 yang muncul sejak November 2021, BA.3.2, merupakan turunan dari subvarian Omicron, khususnya yang merupakan bagian dari garis keturunan BA.3 yang sebelumnya hanya beredar dalam jumlah kecil pada akhir 2021 hingga awal 2022 dan kemudian akhirnya menghilang. Kemunculan kembali BA.3 dalam bentuk BA.3.2 pada akhir 2024 menjadi hal yang tidak terduga, yang mengindikasikan kemungkinan evolusi virus secara “tersembunyi”. Perkembangan yang terjadi diam-diam ini diperkirakan terjadi pada individu dengan infeksi kronik atau kondisi imunokompromais. Julukan “Cicada” diambil dari serangga Cicada, yang lebih dikenal di Indonesia sebagai tonggeret, yang memiliki kebiasaan muncul kembali setelah periode panjang berada di bawah tanah. (1)
COVID-19 Cicada Memiliki 70 Mutasi DIbandingkan dengan Strain Wuhan
Varian BA.3.2 menunjukkan karakteristik yang cukup unik. Varian ini memiliki lebih dari 50 mutasi pada protein spike dibandingkan BA.3, dan lebih dari 70 mutasi dibandingkan strain awal Wuhan. Pola mutasi ini mengarah pada fenomena yang disebut sebagai saltation event, yaitu lompatan evolusioner yang terjadi secara tiba-tiba, bukan bertahap. Kondisi ini umumnya terjadi pada infeksi yang berlangsung lama, di mana virus beradaptasi terhadap tekanan sistem imun.
Strain BA 3.2 Dapat Menghindar dari Kekebalan Adaptif Tubuh
Menurut penelitian terbaru, BA.3.2 dapat sebagian menghindari antibodi yang terbentuk dari vaksinasi atau infeksi sebelumnya. Hal ini bisa terjadi karena Sebagian besar dari mutasi yang terjadi terkonsentrasi pada protein spikes di sehingga dapat memberikan virus kemampuan yang lebih baik dalam memasuki sel serta menghindari respons imun. Walaupun demikian, vaksin COVID-19 yang ada masih dapat diharapkan dalam memberikan perlindungan terhadap penyakit berat. (1)
Apa Langkah Selanjutnya?
WHO telah mengklasifikasikan BA.3.2 sebagai Variant Under Monitoring sejak 5 Desember 2025. Status ini menunjukkan bahwa varian tersebut sedang dipantau lebih lanjut meski sejauh ini belum menjadi potensi risiko kesehatan masyarakat yang tinggi, dibandingkan dengan varian lainnya,(1)
Situasi di Indonesia
Di Indonesia, hingga saat ini belum ditemukan kasus varian “Cicada”. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa varian yang dominan justru adalah XFG (57%), LF.7 (29%), dan XFG 3.4.3 (14%), yang semuanya dikategorikan memiliki risiko rendah. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa situasi epidemiologi di Indonesia relatif terkendali, meskipun kewaspadaan tetap diperlukan. Edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya vaksinasi, pemantauan gejala, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi pilar utama pencegahan. (2)
Kesimpulan
Varian BA.3.2 atau “Cicada” merupakan contoh bagaimana SARS-CoV-2 terus berevolusi. Meskipun memiliki banyak mutasi, bukti saat ini menunjukkan bahwa varian ini tidak menyebabkan peningkatan keparahan penyakit maupun lonjakan kasus yang signifikan. Dalam konteks Indonesia, belum adanya deteksi varian ini serta dominasi varian berisiko rendah memberikan ruang optimisme. Namun demikian, pemantauan berkelanjutan dan kesiapsiagaan sistem kesehatan tetap menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pandemi yang masih berlangsung.
Daftar Pustaka