
Author: dr. Afiah Salsabila
17 Des 2025
Topik: Tummy Time, Ilmiah, Stimulasi motorik, Kemampuan motorik, Motorik Kasar
Tummy time adalah salah satu aktivitas sederhana yang memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang bayi. Tummy time didefinisikan sebagai posisi bayi tengkurap saat terjaga, diletakkan di permukaan datar seperti lantai, dan selalu dalam pengawasan orang dewasa. Praktik ini menjadi semakin relevan sejak adanya perubahan besar dalam rekomendasi posisi tidur bayi pada awal 1990-an.(1)
Pada tahun 1992, American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar bayi tidur dalam posisi telentang untuk menurunkan risiko sudden infant death syndrome (SIDS). Rekomendasi ini dikenal luas sebagai kampanye Back to Sleep dan berhasil menurunkan angka kejadian SIDS hingga sekitar 40% di Amerika Serikat. Namun, seiring berjalannya waktu, ditemukan bahwa bayi yang selalu tidur telentang cenderung mengalami keterlambatan pencapaian perkembangan motorik tertentu serta peningkatan kejadian kelainan bentuk kepala akibat tekanan yang berulang. (1)
Untuk mengatasi dampak tersebut tanpa mengurangi keamanan tidur bayi, diperkenalkanlah tummy time sebagai waktu khusus bagi bayi untuk berada dalam posisi tengkurap saat terjaga. Dengan cara ini, bayi tetap tidur telentang saat tidur, tetapi mendapatkan kesempatan bergerak dan melatih otot-otot tubuhnya saat bangun. (1)
Saat ini, tummy time direkomendasikan secara luas dan telah menjadi bagian dari pedoman aktivitas fisik bayi di berbagai negara, termasuk Australia, Inggris, Kanada, dan Afrika Selatan. Tummy time juga tercantum dalam rekomendasi American Academy of Pediatrics, National Academy of Medicine, serta pedoman global WHO mengenai aktivitas fisik dan tidur pada anak usia di bawah lima tahun. Rekomendasi umum yang disepakati adalah total tummy time sekitar 30 menit per hari, yang dibagi dalam beberapa sesi singkat sepanjang hari. (1)
Meskipun rekomendasi ini sudah lama ada, pelaksanaannya di lapangan masih belum optimal. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% orang tua yang berhasil memenuhi durasi tummy time yang dianjurkan. Rendahnya kepatuhan ini menjadi perhatian karena masa bayi merupakan periode penting untuk perkembangan kontrol postur dan gerak dasar. (1)
Manfaat tummy time paling jelas terlihat pada perkembangan motorik kasar. Dalam systematic review oleh Hewitt dan kolega yang melibatkan lebih dari 4.000 bayi, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lebih sering mendapatkan tummy time mencapai tonggak perkembangan motorik lebih cepat. Kemampuan seperti mengontrol kepala, berguling, duduk, merangkak, hingga menarik berdiri dicapai lebih dini pada bayi dengan paparan tummy time yang cukup. Bahkan, pada beberapa studi, keuntungan perkembangan ini masih terlihat hingga anak berusia tiga tahun. (1)
Selain tonggak besar tersebut, tummy time juga berhubungan dengan kemampuan motorik yang lebih spesifik. Bayi yang menghabiskan waktu lebih lama dalam posisi tengkurap saat terjaga menunjukkan kontrol kepala yang lebih baik, kekuatan lengan yang lebih optimal, serta koordinasi gerak yang lebih matang. Paparan tummy time lebih dari 15 menit per hari pada usia dua bulan juga dikaitkan dengan pencapaian lebih cepat kemampuan mengangkat kepala hingga sudut 45° dan 90°, yang merupakan tanda awal kesiapan postural. (1)
Dari sisi bentuk kepala, tummy time berperan dalam menurunkan risiko brachycephaly, yaitu pemipihan bagian belakang kepala. Semakin banyak waktu bayi berada dalam posisi tengkurap saat terjaga, semakin rendah derajat brachycephaly yang ditemukan. Namun, hubungan antara tummy time dan plagiocephaly masih bervariasi antar studi. Beberapa penelitian tidak menemukan hubungan yang bermakna, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa tummy time yang sangat jarang justru dapat meningkatkan risiko plagiocephaly pada usia dini. (1)
Menariknya, terdapat temuan awal bahwa tummy time dapat berpengaruh pada status gizi bayi. Satu studi menunjukkan bahwa peningkatan durasi tummy time pada usia dua bulan, terutama di atas sekitar 12 menit per hari, berhubungan dengan penurunan BMI-z pada usia empat bulan. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa aktivitas fisik sejak dini dapat berperan dalam pengaturan komposisi tubuh bayi. (1)
Sebaliknya, efek tummy time terhadap perkembangan motorik halus belum terbukti konsisten. Sebagian besar studi tidak menemukan hubungan bermakna antara tummy time dan kemampuan motorik halus. Bukti mengenai dampak tummy time terhadap perkembangan kognitif dan komunikasi juga masih terbatas dan belum dapat disimpulkan secara pasti. (1)
Sebagai kesimpulan, tummy time merupakan intervensi yang sederhana, aman, dan murah, namun memiliki manfaat yang nyata bagi perkembangan bayi. Meskipun tidur telentang tetap harus dipertahankan untuk mencegah SIDS, dampak sampingnya terhadap perkembangan motorik dan bentuk kepala dapat dikompensasi dengan tummy time yang cukup dan teratur saat bayi terjaga. Bukti ilmiah mendukung peran tummy time dalam mempercepat perkembangan motorik kasar, membantu mencegah brachycephaly, dan berpotensi memengaruhi status BMI sejak dini. Oleh karena itu, dokter anak memiliki peran penting dalam mengedukasi orang tua agar tummy time dilakukan secara rutin dan sesuai rekomendasi, termasuk di Indonesia yang hingga kini belum memiliki data kepatuhan nasional. (1)
Daftar Pustaka
Hewitt L, Kerr E, Stanley RM, Okely AD. Tummy Time and Infant Health Outcomes: A Systematic Review. Pediatrics. 2020;145(6):e20192168. doi:10.1542/peds.2019-2168.