
Whippits dan Risiko Bahayanya pada Anak: Peran Dokter Anak dalam Upaya Perlindungan dan Edukasi
Author: dr. Afiah Salsabila
29 Jan 2026
Topik: Narkotika, Narkoba, Penyalahgunaan Zat, Whippits, Nitrous Oxide, Ilmiah, Remaja
Latar Belakang
Belakangan ini, istilah whippits semakin sering diperbincangkan di media sosial dan mulai muncul sebagai emerging substance yang disalahgunakan secara rekreasional, termasuk di Indonesia. Whippits merujuk pada tabung kecil berisi nitrous oxide (N₂O) yang secara legal digunakan sebagai aerosol charger untuk krim kocok. Di berbagai negara, nitrous oxide telah lama digunakan di luar indikasi medis, terutama di pesta, klub malam, dan festival musik. Survei Global Drug Survey tahun 2012 melaporkan bahwa hampir setengah responden dewasa muda di Inggris pernah menggunakan nitrous oxide secara rekreasional, dengan sekitar 10% melaporkan penggunaan dalam 12 bulan terakhir. Fenomena ini didorong oleh ketersediaan yang luas, harga yang relatif murah, serta persepsi keliru bahwa zat ini aman karena bersifat legal dan memiliki kegunaan medis. (1)
Meskipun tampak sebagai tren baru, penyalahgunaan nitrous oxide telah berlangsung sejak lama, bahkan sejak abad ke-19, yaitu era di mana “laughing gas parties” lumayan popular di kalangan anak muda. (1) Normalisasi penggunaan di ruang publik dan paparan media yang meningkat membuat risiko keterlibatan remaja dan anak menjadi semakin relevan. Oleh karena itu, pemahaman yang baik mengenai karakteristik, mekanisme kerja, dan dampak toksik nitrous oxide penting bagi dokter anak agar dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan dan edukasi keluarga.
Definisi, Jenis, dan Kegunaan Whippits
Whippits adalah tabung baja kecil yang masing-masing mengandung sekitar 8–10 gram nitrous oxide cair bertekanan. Secara legal, nitrous oxide digunakan luas di bidang medis sebagai anestetik dan analgetik, termasuk pada prosedur dental, kegawatdaruratan, dan obstetri, serta di bidang industri dan kuliner. Dalam konteks rekreasional, gas ini biasanya dilepaskan ke dalam balon lalu dihirup. Selain whippits, pengguna juga dapat mengakses tabung nitrous oxide berukuran besar yang seharusnya ditujukan untuk keperluan industri. (1)
Gambar 1. Whippits (3)
Toksikologi dan Mekanisme Kerja
Nitrous oxide bekerja terutama melalui antagonisme reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA) pada sistem saraf pusat serta aktivasi pelepasan opioid endogen. Mekanisme ini menjelaskan efek euforia, disosiasi, dan sensasi menyenangkan yang muncul sangat cepat, biasanya dalam hitungan detik, dan menghilang dalam beberapa menit. (1-3)
Pada penggunaan akut, efek samping yang sering dilaporkan meliputi pusing, disorientasi, gangguan keseimbangan, penurunan memori dan kognisi, serta kelemahan ekstremitas bawah. Dalam kondisi intoksikasi, risiko kecelakaan seperti jatuh atau tersandung meningkat. Kasus fatal juga dilaporkan akibat hipoksia atau asfiksia, terutama bila gas dihirup berulang kali atau di ruang tertutup. (1)
Penggunaan yang berulang dalam jangka waktu singkat dapat menyebabkan inaktivasi vitamin B12 melalui oksidasi kobalamin. Defisiensi vitamin B12 fungsional ini mengganggu sintesis mielin dan DNA, sehingga memicu neuropati perifer, degenerasi kombinasi subakut medula spinalis, serta anemia megaloblastik. Gejala awal sering berupa baal atau kesemutan pada jari, yang dapat berkembang menjadi gangguan berjalan dan defisit neurologis berat. (1,2)
Selain efek neurologis, penyalahgunaan nitrous oxide juga berhubungan dengan risiko kematian, meskipun kejadian ini relatif jarang. Mekanisme kematian tersering adalah hipoksia dan asfiksia. Nitrous oxide dapat menggantikan oksigen di alveoli, terutama bila dihirup berulang kali dalam waktu singkat, digunakan di ruang tertutup, atau melalui praktik rebreathing dari balon atau kantong plastik. Pada konsentrasi tinggi, nitrous oxide juga menghambat respons ventilasi normal terhadap hipoksia, sehingga pengguna tidak merasakan gejala sesak meskipun kadar oksigen darah menurun drastis. (1)
Dalam studi observasi yang dilakukan selama 30 tahun, dilaporkan sedikitnya 52 kematian yang berhubungan dengan penggunaan nitrous oxide secara rekreasional, sebagian besar disebabkan oleh asfiksia. Di Inggris, tercatat 17 kematian terkait nitrous oxide antara tahun 2006–2012. (1) Data dari Drug Abuse Warning Network (DAWN) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa nitrous oxide terlibat pada sekitar 0,15% dari seluruh kematian terkait obat, menegaskan bahwa meskipun risikonya rendah, konsekuensi yang ditimbulkan dapat bersifat fatal. Selain itu, gangguan kesadaran, disorientasi, dan gangguan koordinasi saat intoksikasi meningkatkan risiko kematian tidak langsung akibat kecelakaan, termasuk jatuh dan kecelakaan lalu lintas. (1)
Faktor Risiko Penyalahgunaan
Penyalahgunaan nitrous oxide lebih sering dilaporkan pada remaja dan dewasa muda, terutama di lingkungan dengan paparan sosial tinggi seperti pesta dan festival. Faktor risiko yang berkontribusi antara lain pengaruh teman sebaya, penggunaan alkohol atau zat lain secara bersamaan, akses yang mudah, serta kurangnya pemahaman mengenai risiko jangka panjang. Pada kelompok remaja, kerentanan neurobiologis akibat proses maturasi otak yang belum sempurna memperbesar potensi dampak neuropsikiatrik. (1,2)
Tata Laksana Intoksikasi Nitrous Oxide
Penatalaksanaan intoksikasi nitrous oxide bersifat suportif. Prioritas utama adalah memastikan jalan napas, oksigenasi, dan stabilitas hemodinamik. Pada pasien dengan gejala neurologis, pemeriksaan kadar vitamin B12 dan penanda metabolik terkait diperlukan. Terapi utama meliputi penghentian paparan nitrous oxide dan suplementasi vitamin B12, umumnya melalui pemberian parenteral. Dengan penanganan yang tepat dan dini, sebagian besar gejala dapat membaik, meskipun pemulihan neurologis dapat memerlukan waktu berbulan-bulan. (1,2)
Kesimpulan dan Penutup
Status nitrous oxide yang secara teknis legal menciptakan ilusi bahwa zat ini aman digunakan, padahal penyalahgunaannya membawa risiko medis yang nyata, terutama bagi remaja dan anak. Setiap zat memiliki kegunaan yang sah, namun penyimpangan dari indikasi medis dapat berujung pada dampak serius. Dokter anak memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran orang tua mengenai bahaya whippits, mengidentifikasi faktor risiko perilaku, serta melindungi anak dari paparan dan normalisasi perilaku berisiko. Edukasi yang konsisten dan berbasis bukti menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang dari penyalahgunaan nitrous oxide pada generasi muda.
Daftar Pustaka
- van Amsterdam J, Nabben T, van den Brink W. Recreational nitrous oxide use: Prevalence and risks. Regul Toxicol Pharmacol. 2015 Dec;73(3):790-6. doi: 10.1016/j.yrtph.2015.10.017. Epub 2015 Oct 22. PMID: 26496821.
- Cornelio VC, Lail G, Go K, Kaur K, Slowik P. Impact of Nitrous Oxide on Neuropsychiatric Impairment in Adolescents: A Scoping Review. Cureus. 2025 Aug 5;17(8):e89448. doi: 10.7759/cureus.89448. PMID: 40772002; PMCID: PMC12324979.
- Thompson AG, Leite MI, Lunn MP, Bennett DL. Whippits, nitrous oxide and the dangers of legal highs. Pract Neurol. 2015 Jun;15(3):207-9. doi: 10.1136/practneurol-2014-001071. PMID: 25977272; PMCID: PMC4453489.
