
Author: dr. Afiah Salsabila
11 Okt 2025
Topik: Abusive Head Trauma, Shaken Baby Syndrome, Trauma Kepala, Ilmiah
Latar Belakang
Abusive Head Trauma (AHT), atau sebelumnya lebih dikenal dengan istilah Shaken Baby Syndrome (SBS), adalah bentuk cedera kepala yang terjadi akibat kejadian non-kecelakaan pada bayi dan anak Kondisi ini merupakan salah satu penyumbang utama morbiditas dan mortalitas pada bayi, terutama untuk yang berusia kurang dari satu tahun. Kelompok usia ini diperkirakan memiliki insidensi AHT sebanyak 25-35 kasus per 100.000 anak per tahun dengan fatalitas yang hampir mencapai seperempat dari kasus-kasus tersebut. (1)
Kondisi ini disebabkan oleh trauma pada kepala bayi yang dilakukan secara sengaja. Shaking, atau guncangan, merupakan salah satu mekanisme utama yang dapat menyebabkan trauma pada kepala bayi, maka istilah shaken baby syndrome sempat, bahkan masih populer hingga kini. Saat ini, istilah Abusive Head Trauma lebih direkomendasikan karena menekankan peristiwa kekerasan sebagai penyebab utama, bukan sekadar mekanisme guncangan, tetapi juga meliputi benturan, maupun kombinasi keduanya. (1)
Memahami AHT penting karena kegagalan mengenali kasus dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk kematian, kecacatan permanen, serta berulangnya kekerasan bila anak kembali pada lingkungan yang tidak aman (2).
Etiologi dan Faktor Risiko
Salah satu penyebab tersering AHT adalah guncangan keras yang dilakukan pengasuh atau orang dewasa ketika menghadapi tangisan bayi. Studi pada pengakuan pelaku di pengadilan menunjukkan mekanisme paling sering adalah guncangan hebat berulang, dengan deskripsi sebagai tindakan kekerasan yang dapat terjadi hingga sepuluh kali atau lebih. Faktor risiko meliputi usia bayi kurang dari satu tahun, prematuritas, kolik dengan tangisan persisten, stres psikososial keluarga, status sosial ekonomi rendah, depresi pasca persalinan pada ibu, serta pengasuh dengan kontrol emosi buruk atau riwayat kekerasan sebelumnya. (1)
Patogenesis dan Biomekanik
Bayi memiliki ukuran kepala yang relatif besar dibandingkan dengan otot leher yang masih lemah, membuat mereka sangat rentan terhadap percepatan–deselerasi kuat akibat guncangan. Mekanisme ini menimbulkan shearing injury pada jaringan otak, perdarahan subdural, perdarahan retina, cedera medula spinalis, serta edema serebri. Studi biomekanik modern menegaskan bahwa guncangan saja dapat menimbulkan cedera otak berat, meskipun dalam praktik sering disertai trauma benturan. (1)
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Diagnosis AHT menuntut kewaspadaan tinggi karena gejalanya dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Anak dapat datang dengan muntah, rewel, letargi, atau perubahan kesadaran yang sering kali disalahartikan sebagai infeksi atau gangguan metabolik. Pada kasus yang lebih berat, pasien dapat mengalami apnea, kejang, fontanel menonjol, hingga koma.
Salah satu temuan klinis penting adalah “TEN-4 bruising”, yaitu suatu aturan klinis yang membantu membedakan memar aksidental dari memar akibat kekerasan. Akronim TEN-4 berasal dari bahasa Inggris, yakni Torso, Ears, Neck – 4. Artinya, memar pada bagian torso (badan/trunkus), ears (telinga), atau neck (leher) pada anak usia di bawah 4 tahun, atau memar pada bagian tubuh manapun pada bayi di bawah usia 4 bulan, harus dicurigai sebagai tanda kekerasan. Pola memar tersebut jarang dijumpai pada trauma akibat kecelakaan biasa, karena memar akibat aktivitas sehari-hari pada anak umumnya muncul di area tulang yang menonjol seperti dahi atau tulang kering. Dengan demikian, TEN-4 bruising menjadi salah satu indikator klinis paling penting dalam evaluasi kasus AHT. (1)
Selain memar, tanda klinis lain yang sering ditemukan meliputi cedera mulut seperti laserasi frenulum, perdarahan retina multipel yang luas hingga perifer, serta perdarahan subdural multipel yang biasanya disertai edema serebri. Fraktur tengkorak dengan cedera intrakranial lebih sering ditemukan pada AHT dibandingkan trauma aksidental. Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan penunjang sangat penting. CT scan kepala merupakan modalitas awal yang berguna untuk menilai perdarahan intrakranial akut. MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi cedera parenkim otak serta perdarahan spinal yang lebih detail. Skeletal survey perlu dilakukan pada anak berusia di bawah dua tahun, karena fraktur tersembunyi dapat ditemukan pada hampir separuh kasus. Evaluasi oftalmologi wajib dilakukan untuk mendokumentasikan perdarahan retina yang khas pada AHT. (1,2)
Komplikasi
Prognosis AHT umumnya buruk. Sekitar 70% anak yang selamat mengalami disabilitas neurologis jangka panjang, termasuk ensefalopati statis, cerebral palsy, epilepsi, retardasi mental, kebutaan kortikal, gangguan perilaku, dan kesulitan belajar. Komplikasi endokrin seperti hipopituitarisme juga dapat muncul bertahun-tahun setelah trauma. (2) Mortalitas tinggi, dan survivor memerlukan perawatan multidisipliner jangka panjang.
Tata Laksana dan Pencegahan
Penatalaksanaan AHT difokuskan pada stabilisasi medis akut, evaluasi komprehensif, serta rehabilitasi jangka panjang. Tidak ada terapi farmakologis khusus atau suplementasi diet yang terbukti efektif untuk AHT. Intervensi yang tidak berbasis bukti ilmiah seperti terapi optometrik atau terapi kiropraktik tidak dianjurkan. Fokus utama tatalaksana adalah mengikuti protokol trauma kepala pediatrik, termasuk menjaga jalan napas, stabilisasi sirkulasi, pencegahan kejang, serta kontrol tekanan intrakranial. Setelah fase akut teratasi, pasien membutuhkan rehabilitasi komprehensif melalui fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara, serta dukungan psikososial dan akomodasi pendidikan. (1)
Selain penanganan medis, dokter anak juga berperan penting dalam pencegahan sekunder melalui kewajiban pelaporan (mandated reporting) kepada lembaga perlindungan anak untuk mencegah kekerasan berulang. Edukasi orang tua dan pengasuh tentang bahaya mengguncang bayi, serta pengetahuan mengenai periode tertentu dalam perkembangan anak di mana mereka akan lebih sering menangis, yaitu Period of PURPLE Crying. (1)
Period of PURPLE Crying. adalah fase normal pada bayi usia 2 minggu hingga 3–4 bulan, di mana tangisan bisa meningkat, lebih lama, dan sulit ditenangkan. Akronim PURPLE menjelaskan ciri-cirinya: frekuensi tangisan paling tinggi dan mencapai puncak di periode ini (Peak), bisa datang tiba-tiba (Unexpected), tidak mudah reda (Resists soothing), tampak seperti kesakitan (Pain-like face), berlangsung lama (Long lasting), dan sering terjadi di sore atau malam hari (Evening). Penting untuk dipahami orang tua bahwa fase ini sementara dan akan berakhir, sehingga perlu merespons dengan aman tanpa kekerasan.telah digunakan sebagai upaya preventif meskipun efektivitas terhadap penurunan insidensi AHT bervariasi. (1)
Implikasi Legal
Diagnosis AHT membawa konsekuensi hukum yang signifikan. Dokter anak sering diminta memberikan kesaksian di pengadilan dengan standar reasonable medical certainty. Salah satu tantangan adalah adanya klaim alternatif seperti jatuh, meskipun bukti ilmiah menunjukkan bahwa kematian akibat jatuh dengan ketinggian kurang dari 1,5 meter sangat jarang, yakni kurang dari 0,48 kematian per 1 juta anak per tahun. (1) Oleh karena itu, dokumentasi medis yang detail dan akurat menjadi sangat penting.
Kesimpulan
Abusive Head Trauma adalah bentuk kekerasan anak dengan dampak medis, sosial, dan hukum yang luas. Diagnosis membutuhkan kewaspadaan tinggi, pemeriksaan multidisipliner, serta dokumentasi komprehensif. Penatalaksanaan berfokus pada stabilisasi akut, rehabilitasi jangka panjang, akomodasi pendidikan, serta pencegahan kekerasan berulang melalui edukasi dan pelaporan. Dengan deteksi dini dan intervensi tepat, beban morbiditas dan mortalitas akibat AHT dapat ditekan.
Referensi