Dampak Jangka Panjang Terlambat Bicara
22 Jul 2017

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
15 Sep 2025
Topik: Batuk Akut, Pilek, Batuk Pilek, Rhinitis Alergi, Riwayat Alergi, Rinitis Vasomotor
Latar Belakang
Rinorea, atau keluarnya sekret hidung adalah gejala yang sering dijumpai pada praktik sehari-hari. Penyebab tersering adalah infeksi virus saluran pernapasan atas (common cold), namun kondisi non-infeksi seperti rinitis alergi (RA) dan rinitis vasomotor (RVM) juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Kesamaan manifestasi klinis sering menimbulkan kebingungan diagnostik, padahal pendekatan tatalaksana berbeda. Oleh karena itu, membedakan etiologi rinorea penting untuk mencegah penggunaan obat yang tidak perlu, seperti antibiotik pada kasus viral, atau salah penatalaksanaan pada rhinitis alergi. (1-4)
Definisi dan Etiologi
Common cold adalah infeksi virus akut saluran napas atas, bersifat self-limited, ditandai rinorea, nasal congestion, sakit tenggorokan, dengan atau tanpa batuk dan demam ringan. Rhinovirus merupakan penyebab utama, meski virus lain seperti RSV, adenovirus, dan coronavirus juga berperan. Anak-anak lebih rentan karena imunitas yang belum berkembang dan kontak erat dengan teman sebaya. (1)
Rinitis alergi adalah inflamasi mukosa hidung akibat reaksi imun terhadap alergen inhalan, dengan gejala khas bersin berulang, rinorea jernih, hidung gatal, dan obstruksi hidung. Sering disertai gejala okular seperti mata gatal dan berair. Riwayat atopi, termasuk asma dan dermatitis atopik, sering ditemukan. (3)
Rinitis vasomotor adalah kondisi non-alergi, non-infeksi, yang ditandai rinorea kronis dengan pencetus berupa perubahan suhu, kelembapan, paparan asap, atau bau menyengat. Tidak ada dasar imunologis atau infeksi, sehingga diagnosis ditegakkan dengan eksklusi. (4)
Persamaan Klinis
Semua kondisi dapat menimbulkan rinorea dan hidung tersumbat. Baik salesma maupun rinitis alergi sering disertai bersin, meskipun pada rinitis alergi lebih dominan. Ketiganya jarang menimbulkan temuan objektif berat pada pemeriksaan fisik, sehingga diagnosis sangat bergantung pada anamnesis dan pola klinis. (1-4)
Perbedaan Klinis dan Mekanisme
Pada common cold, gejala muncul akut, biasanya 1–3 hari setelah terpapar virus. rinorea awalnya jernih, kemudian dapat menjadi kuning atau hijau akibat infiltrasi neutrofil, tanpa selalu menandakan infeksi bakteri (1). Mekanisme utamanya adalah pelepasan sitokin (IL-8, IL-1β, IL-6) dari sel epitel hidung yang terinfeksi, yang menarik neutrofil dan meningkatkan permeabilitas vaskular, menghasilkan gejala kongesti dan sekret (1). Durasi penyakit rata-rata 5–7 hari pada dewasa dan 10–14 hari pada anak. (1,2)
Pada rinitis alergi, awitan gejala bisa terjadi secara musiman (seasonal) atau menetap (perennial), dengan dominasi gejala bersin paroksismal, rinore jernih berair, hidung gatal, dan mata berair. Mekanisme melibatkan reaksi hipersensitivitas tipe I, dimediasi IgE, dengan pelepasan histamin, leukotrien, dan prostaglandin dari sel mast. Hasilnya adalah vasodilatasi dan peningkatan sekresi mukus. (3)
Pada rinitis vasomotor, gejala biasanya kronis tanpa pola musiman, tanpa pencetus alergen jelas, dan tidak ada riwayat atopik. Mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, namun diduga akibat disregulasi otonom pada vaskularisasi mukosa hidung, yang menyebabkan hiperrespons terhadap iritan non-spesifik seperti perubahan suhu atau kelembapan. (4)
Perbedaan dalam Tatalaksana
Common cold adalah penyakit self-limiting, sehingga terapi fokus pada pendekatan suportif seperti irigasi saline dan istirahat yang cukup. Antibiotik tidak dianjurkan karena etiologinya adalah virus, dan sudah dibuktikan tidak mempercepat penyembuhan. (2)
rinitis alergi memerlukan kontrol lingkungan untuk menghindari alergen, serta terapi farmakologis seperti kortikosteroid intranasal antihistamin oral generasi kedua. Antagonis leukotrien dapat diberikan sebagai terapi lini kedua. Imunoterapi dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala berat yang tidak terkendali dengan obat-obatan yang telah disebutkan. (3)
rinitis vasomotor ditatalaksana dengan menghindari pencetus (udara dingin, asap, bau menyengat). Terapi farmakologis termasuk ipratropium intranasal untuk gejala rinorea dominan, dan kortikosteroid intranasal bila ada gejala kongesti. Tidak ada peran antihistamin karena mekanisme bukan alergi. (4)
Kesimpulan
Membedakan common cold, rinitis alergi, dan rinitis vasomotor penting karena meskipun gejalanya mirip, mekanisme dasar dan penatalaksanaannya berbeda. Anamnesis terperinci mengenai onset, pola gejala, durasi, serta faktor pencetus menjadi kunci dalam menegakkan diagnosis yang tepat.
Referensi