Dampak Jangka Panjang Terlambat Bicara
22 Jul 2017

Author: dr. Afiah Salsabila
9 Agu 2025
Topik: Telur Ayam, Telur, Telur, Alergi, Alergi Telur
Telur ayam merupakan salah satu sumber protein hewani utama dalam pola makan anak-anak Indonesia. Selain mengandung protein berkualitas tinggi, telur juga merupakan sumber vitamin B, D, dan kolin yang penting bagi perkembangan otak dan sistem saraf. Namun, pada sebagian anak, konsumsi telur dapat memicu reaksi imunologis yang abnormal, dikenal sebagai alergi telur. Oleh karena itu, alergi terhadap telur tidak hanya menimbulkan risiko reaksi alergi akut, tetapi juga dapat berdampak terhadap status nutrisi anak jika tidak ditangani secara adekuat. Anak dengan alergi telur yang tidak mendapatkan pengelolaan diet yang tepat memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan gizi dan gangguan tumbuh kembang. (1)
Epidemiologi
Alergi telur ayam merupakan salah satu alergi makanan tersering pada anak. Prevalensi global diperkirakan antara 1,2–2,9% pada usia 2 tahun, dan dapat mencapai 10% tergantung populasi dan metode diagnosis. (1). Di Indonesia, angka pasti belum diketahui, tetapi data dari RSCM menunjukkan bahwa alergi makanan ditemukan pada 4,6% anak selama kurun 1987–1996, dengan telur sebagai salah satu alergen utama. (2). Walaupun demikian, 80% anak akan mengalami toleransi spontan dalam 3–5 tahun (1).
Komponen Alergen dalam Telur Ayam
Protein utama yang menjadi alergen pada telur terdapat terutama di bagian putih telur, antara lain ovomucoid (Gal d 1), ovalbumin (Gal d 2), dan ovotransferrin (Gal d 3). Meski lebih jarang, protein kuning telur seperti α-livetin (Gal d 5) juga dapat menimbulkan reaksi alergi. (1) Alergi telur umumnya dimediasi oleh IgE, dan dapat menimbulkan gejala kulit (urtikaria, eksim), saluran cerna (muntah, diare), hingga sistemik seperti anafilaksis. (2)
Dampak Alergi Telur pada Anak
Dari sisi gizi, eliminasi telur dari diet dapat mengurangi asupan protein, vitamin D, kolin, dan asam lemak esensial yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Studi menunjukkan bahwa anak dengan alergi telur lebih berisiko mengalami gangguan pertumbuhan jika diet tidak diatur secara tepat. Selain itu, keterbatasan sosial, seperti larangan membawa bekal atau makan di pesta ulang tahun, dapat menurunkan kualitas hidup, meningkatkan kecemasan, dan bahkan berdampak psikososial seperti bullying. (1)
Diagnosis Alergi Telur
Diagnosis alergi telur ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan spesifik IgE dan skin prick test dapat mengindikasikan sensitisasi dengan alergen, namun diagnosis pasti memerlukan uji eliminasi dan double-blind placebo-controlled food challenge (DBPCFC). (2) Anak dengan dermatitis atopik derajat sedang hingga berat yang belum pernah terpapar telur memiliki risiko tinggi mengalami reaksi saat paparan pertama dan perlu dievaluasi sebelum introduksi telur. (1)
Rekomendasi Terkini untuk Pencegahan dan Tatalaksana
Selama beberapa dekade, pendekatan konservatif menyarankan penundaan introduksi makanan alergenik, termasuk telur, pada anak berisiko alergi. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa pengenalan telur yang terlalu telat justru dapat meningkatkan risiko alergi.
Menurut berbagai pedoman dunia, seperti EAACI, ASCIA, dan AAAAI, pengenalan telur sebaiknya dimulai sejak usia 4–6 bulan dalam bentuk matang (well-cooked), bukan mentah, sebagai bagian dari makanan pendamping ASI (1). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam rekomendasi pencegahan primer alergi juga menyarankan pemberian telur matang sebagai bagian dari makanan padat sejak 6 bulan, khususnya pada anak yang tidak menunjukkan gejala atopik aktif. Tak hanya itu, IDAI juga menyatakan bahwa restriksi makanan tertentu tidak menurunkan risiko pada alergi terhadap makanan tersebut, termasuk pada telur. (3)
Beberapa uji klinis acak terkontrol menunjukkan bahwa pemberian telur matang dalam jumlah kecil secara bertahap sejak usia dini dapat menurunkan kejadian alergi telur, khususnya pada anak dengan risiko atopik. Misalnya, studi oleh Natsume dkk. menunjukkan penurunan signifikan kejadian alergi telur dari 38% menjadi 8% pada anak yang mendapat telur masak secara bertahap sejak usia 6 bulan. (4) Namun, penting untuk dicatat bahwa pemberian telur pertama kali pada anak berisiko tinggi perlu dilakukan dengan pengawasan tenaga medis.
Untuk anak yang sudah terdiagnosis alergi telur, pendekatan eliminasi tetap menjadi terapi utama. Pengawasan status gizi dan pertumbuhan sangat penting pada pasien yang menjalani diet eliminasi jangka panjang. Pemeriksaan ulang secara berkala disarankan karena sebagian besar anak akan mengalami toleransi seiring waktu. Pada anak yang tidak mengalami resolusi spontan, imunoterapi oral menjadi pendekatan yang menjanjikan, meskipun masih memerlukan pengawasan ketat dan belum tersedia luas di Indonesia (1).
Kesimpulan
Alergi telur adalah kondisi yang sering ditemukan pada praktik klinis anak, dengan dampak yang tidak hanya terbatas pada aspek medis, tetapi juga gizi dan sosial. Dokter anak memegang peran sentral dalam deteksi dini, edukasi keluarga, serta pemantauan pertumbuhan anak dengan alergi telur. Meskipun sebagian besar kasus akan sembuh secara spontan, pemahaman yang baik mengenai diagnosis dan manajemen, serta mengikuti rekomendasi terkini, akan membantu mencegah komplikasi jangka panjang, baik dari sisi klinis maupun kualitas hidup pasien.
Daftar Pustaka
22 Jul 2017

26 Jan 2018

29 Jan 2018

28 Apr 2022