
Gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah
5 Feb 2018

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
7 Jun 2025
Topik: Tatalaksana, Ilmiah
Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi (S. typhi), atau sebagian kecil disebabkan oleh Salmonella paratyphi (A, B, C). Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, di mana sanitasi dan kebersihan masih kurang optimal. [1,2,3]
Epidemiologi
Menurut data WHO, demam tifoid menyebabkan sekitar 11-20 juta kasus dan 128.000-161.000 kematian setiap tahun di dunia, dengan sekitar 70% kasus berada di Asia. Di Indonesia, prevalensi demam tifoid tercatat mencapai lebih dari 50.000 kasus per tahun dengan angka kematian sekitar 2% dari total penderita. Kelompok usia paling banyak terkena adalah anak-anak usia 5-15 tahun, dengan angka insiden mencapai 180 per 100.000 penduduk pada kelompok ini. [1] Penyakit ini tersebar merata di perkotaan maupun pedesaan dan sangat erat kaitannya dengan higiene pribadi, sanitasi lingkungan yang buruk, dan kualitas air minum yang tercemar.
Patogenesis
Penularan demam tifoid terjadi melalui rute fekal-oral, terutama melalui konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh kotoran penderita. Setelah masuk melalui mulut, bakteri Salmonella typhi akan melewati lambung, sebagian akan dimusnahkan oleh asam lambung, namun yang lolos akan menetap dan berkembang biak di usus halus, khususnya ileum dan jejunum. [1,2]
Bakteri menginvasi sel epitel usus dan masuk ke lamina propria, dimana mereka difagositosis oleh makrofag. Namun, bakteri dapat bertahan dan berkembang biak di dalam makrofag, kemudian menyebar ke aliran darah dalam proses yang disebut bakteremia primer, kemudian menyebar ke organ retikuloendotelial seperti hati, limpa, dan sumsum tulang. Di hati, bakteri berkembang biak dalam kandung empedu dan kemudian diekskresikan kembali ke usus melalui cairan empedu, menyebabkan siklus infeksi berulang dan penyebaran kuman melalui feses. [1]
Proses ini menimbulkan reaksi inflamasi sistemik yang memunculkan gejala seperti demam tinggi, nyeri kepala, malaise, nyeri otot, dan gangguan gastrointestinal. Respon imun yang kurang optimal dapat menyebabkan bakteri tetap bertahan dan berkembang menjadi kronik, sehingga pasien bisa menjadi carrier yang menularkan bakteri tanpa gejala. [1,2]
Manifestasi Klinis
Demam tifoid biasanya memiliki masa inkubasi antara 7 hingga 14 hari, dengan rentang yang bisa mencapai 3 hingga 60 hari. Gejala khas yang paling sering muncul adalah demam yang naik secara bertahap (pola step-ladder) dengan suhu tubuh mencapai 39-40°C dan menetap selama dua minggu. Gejala lain yang umum ditemukan adalah sakit kepala, anoreksia, nyeri otot, nyeri perut, mual, muntah, serta gangguan saluran cerna berupa konstipasi atau diare. Pada anak-anak, gejala bisa kurang spesifik dan kadang disertai gangguan kesadaran seperti delirium atau agitasi ringan. [1,2]
Beberapa tanda patognomonik khas tifoid meliputi coated tongue (lidah kotor dengan pinggiran hiperemis) dan rose spots, yaitu lesi makulopapular berukuran 2-4 mm yang biasanya muncul di dada dan abdomen pada 5-30% kasus, walaupun jarang ditemukan pada ras Asia. Komplikasi berat dapat terjadi pada minggu kedua atau ketiga, seperti hepatitis tifoid, ileus paralitik, miokarditis, psikosis, peritonitis akibat perforasi usus, pneumonia, dan komplikasi hematologis seperti anemia atau trombositopenia. [1,2]
Diagnosis
Diagnosis demam tifoid berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang laboratorium sangat penting untuk memastikan diagnosis dan mencegah komplikasi.
Selain itu, pemeriksaan penunjang lain seperti foto toraks (untuk komplikasi pneumonia) dan foto abdomen (untuk mendeteksi perforasi usus) dapat dilakukan sesuai indikasi klinis. [2]
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan demam tifoid terdiri atas terapi medikamentosa dan non-medikamentosa.
Komplikasi
Komplikasi demam tifoid biasanya muncul pada minggu kedua atau ketiga penyakit. Komplikasi serius seperti perforasi usus, perdarahan gastrointestinal, ensefalopati tifoid (delirium hingga koma), pneumonia, dan sepsis dapat meningkatkan angka kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah hepatitis tifoid, pankreatitis, osteomielitis, dan gangguan koagulasi. [2]
Pencegahan
Pencegahan demam tifoid bertumpu pada peningkatan sanitasi lingkungan dan hygiene pribadi, terutama perilaku cuci tangan dengan sabun, pengolahan air minum yang aman, serta pengelolaan limbah yang baik. Vaksinasi tifoid juga direkomendasikan terutama untuk kelompok berisiko dan turis yang akan bepergian ke daerah endemik. Vaksin polisakarida Vi dapat diberikan mulai usia 2 tahun dan harus diulang setiap 3 tahun, sementara vaksin oral Ty21a yang belum banyak digunakan di Indonesia dapat diberikan pada usia di atas 6 tahun dengan interval tertentu. [2]
Kesimpulan
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi dengan prevalensi tinggi di Indonesia, terutama pada anak usia sekolah. Penularan melalui rute fecal-oral menjadikan hygiene dan sanitasi lingkungan sebagai kunci utama pencegahan. Diagnosis ditegakkan melalui gambaran klinis yang khas dan pemeriksaan penunjang seperti kultur darah dan uji serologi. Penatalaksanaan utama adalah terapi antibiotik yang disesuaikan dengan profil resistensi bakteri, disertai terapi suportif dan edukasi pencegahan. Komplikasi serius harus dikenali dan ditangani segera untuk mengurangi mortalitas. Upaya preventif termasuk vaksinasi dan peningkatan higiene sangat penting untuk mengendalikan penyakit ini di Indonesia.
Referensi