
Ditinjau oleh

dr. Afiah Salsabila
27 Mei 2025
Topik: Disfagia, Ilmiah
Disfagia adalah gangguan atau kesulitan dalam proses menelan yang menghambat perpindahan makanan dan minuman dari mulut ke lambung. Pada anak, disfagia dapat terjadi pada berbagai fase menelan, baik pada fase oral, orofaringeal, maupun esofageal. Gangguan ini bisa bersifat kongenital maupun didapat dan sering menyebabkan komplikasi serius seperti aspirasi, infeksi saluran pernapasan berulang, malnutrisi, dan gagal tumbuh. Proses menelan pada anak berbeda dengan orang dewasa karena mengalami perkembangan anatomi dan fisiologi yang dinamis selama tahun-tahun awal kehidupan. Disfagia pada anak berpotensi menurunkan kualitas hidup anak dan keluarganya. Tanpa penanganan yang tepat, disfagia dapat berujung pada komplikasi fatal seperti pneumonia aspirasi dan gangguan pertumbuhan. [1,2]
Penanganan disfagia pada anak harus dilakukan secara cepat dan tepat karena beberapa alasan penting. Pertama, anak dengan disfagia sangat rentan mengalami aspirasi makanan atau cairan ke saluran pernapasan, yang seringkali terjadi tanpa gejala jelas (silent aspiration), sehingga meningkatkan risiko pneumonia aspirasi dan infeksi saluran napas bawah berulang. Kedua, gangguan menelan dapat mengurangi asupan nutrisi secara efektif sehingga menyebabkan gagal tumbuh dan keterlambatan perkembangan kognitif. Ketiga, disfagia juga menimbulkan tekanan psikososial pada anak dan keluarganya karena masalah makan mengganggu interaksi sosial dan meningkatkan kecemasan. Selain itu, penyebab disfagia yang beragam dan kompleks memerlukan evaluasi menyeluruh agar terapi yang diberikan tepat sasaran dan efektif. [1,2]
Diagnosis banding disfagia pada anak sangat luas dan kompleks, mencakup berbagai kategori etiologis. Kelainan kongenital yang sering menjadi penyebab disfagia meliputi atresia atau stenosis choana yang menghambat pernapasan dan pemberian makan, kelainan labiopalatal seperti celah bibir dan langit-langit mulut (cleft lip/palate) yang mengganggu fungsi isapan dan pembentukan bolus makanan, serta gangguan struktural laring seperti laringomalacia dan paralisis pita suara yang meningkatkan risiko aspirasi saat makan. Selain itu, fistula trakeoesofageal dan atresia esofagus menyebabkan gangguan jalur makanan dan saluran pernapasan sehingga menimbulkan disfagia dan aspirasi. Anomali pembuluh darah seperti vascular rings juga dapat menekan esofagus dan menimbulkan kesulitan menelan. [1]
Penyebab infeksi dan inflamasi juga perlu dipertimbangkan, misalnya faringitis dan tonsilitis akut yang menimbulkan rasa sakit saat menelan, serta abses peritonsilar dan retrofaring yang memerlukan penanganan medis dan kadang bedah. Epiglotitis merupakan kondisi darurat yang dapat menyebabkan obstruksi jalan napas dan disfagia. Kelainan sistemik dan neurologis seperti cerebral palsy dan gangguan neuromuskular juga menjadi penyebab disfagia yang penting karena gangguan koordinasi dan kekuatan otot menelan sangat berpengaruh terhadap kemampuan makan anak. Penyakit degeneratif sistem saraf seperti leukodystrophy juga dapat menimbulkan gangguan menelan progresif. [1]
Meskipun jarang, neoplasma seperti hemangioma, limfangioma, papilloma, dan leiomioma dapat menyebabkan disfagia karena efek massa yang menghalangi jalur menelan. Selain itu, trauma pada mulut atau saluran pencernaan atas, cedera akibat zat korosif, dan benda asing yang tertelan merupakan penyebab disfagia lain yang harus diwaspadai. [1]
Anamnesis lengkap mengenai riwayat makan, gejala yang dialami, dan kondisi medis penyerta menjadi langkah awal. Pemeriksaan fisik fokus pada kepala, leher, dan neurologis yang mendukung diagnosis. Pemeriksaan instrumental menjadi kunci diagnosis, antara lain videofluoroscopic swallow study (VFSS) yang merupakan standar emas untuk menilai fungsi menelan secara dinamis dengan sinar-X. Namun, flexible endoscopic evaluation of swallowing (FEES) semakin populer karena tidak menggunakan radiasi, bisa dilakukan secara bedside, dan memungkinkan evaluasi selama pemberian makanan dan minuman nyata dalam posisi optimal. FEES dapat digunakan pada bayi dan anak usia berapa pun dengan adaptasi khusus serta memungkinkan observasi langsung anatomi dan fisiologi menelan, pengujian berbagai konsistensi makanan dan cairan, serta evaluasi efektivitas intervensi terapi. [2]
Tatalaksana disfagia pada anak disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Penyesuaian pemberian makan menjadi langkah awal penting, dengan mengatur posisi anak saat makan agar risiko aspirasi diminimalkan serta meningkatkan efisiensi menelan. Modifikasi konsistensi makanan dan cairan, seperti menggunakan makanan lembut atau puree dan cairan yang diperkental, dapat membantu anak menelan dengan lebih aman. Pada bayi, dot atau nipple dengan aliran yang disesuaikan dapat memperbaiki proses pemberian susu. [1,2]
Terapi rehabilitasi berupa latihan oral motorik dan sensorik diarahkan untuk meningkatkan koordinasi dan kekuatan otot menelan. Teknik menelan kompensatori juga dapat digunakan, termasuk perubahan posisi kepala dan tubuh saat makan serta pelatihan menelan terfokus. Pendampingan oleh ahli terapi wicara dan nutrisi sangat diperlukan agar terapi berjalan efektif dan terintegrasi.[1,2]
Pengobatan medis dan bedah juga berperan sesuai etiologi. Infeksi dan inflamasi ditangani dengan antibiotik, antifungi, atau antiviral sesuai kebutuhan. Bedah korektif diperlukan untuk kelainan struktural kongenital seperti atresia choana, fistula trakeoesofageal, atau anomali pembuluh darah yang menekan esofagus. Pada kasus disfagia berat yang mengancam nutrisi dan keamanan jalan napas, pemasangan gastrostomi dapat menjadi solusi nutrisi jangka panjang. Kondisi penyerta seperti gastroesophageal reflux disease juga harus diatasi karena dapat memperburuk disfagia.[1,2]
Monitoring berkala sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan optimal serta menyesuaikan intervensi sesuai kebutuhan. Edukasi dan dukungan kepada keluarga juga merupakan aspek yang tak kalah penting agar mereka dapat membantu proses rehabilitasi dan memberikan perawatan yang tepat di rumah.[1,2]
Secara keseluruhan, disfagia pada anak merupakan masalah klinis yang kompleks dan serius dengan implikasi jangka panjang terhadap kesehatan, pertumbuhan, dan kualitas hidup anak. Penanganannya membutuhkan pendekatan multidisipliner dengan pemahaman menyeluruh mengenai penyebab dan gangguan menelan. Pemeriksaan instrumental seperti FEES dan VFSS sangat membantu dalam diagnosis dan perencanaan terapi. Penanganan dini dan tepat sangat menentukan keberhasilan pemulihan fungsi menelan serta pencegahan komplikasi yang dapat mengancam nyawa.[1,2]
Referensi
1. Kosko JR, Moser JD, Erhart N, Tunkel DE. Differential diagnosis of dysphagia in children. Otolaryngol Clin North Am. 1998;31(3):435-451.
2. Printza A, Sdravou K, Triaridis S. Dysphagia management in children: Implementation and perspectives of flexible endoscopic evaluation of swallowing (FEES). Children. 2022;9(12):1857. https://doi.org/10.3390/children9121857