
Author: dr. Afiah Salsabila
29 Okt 2025
Topik: Faringitis, Viral, bakteri, Tatalaksana
Latar Belakang
Faringitis akut merupakan salah satu penyebab tersering anak dibawa ke fasilitas layanan primer dan menjadi alasan utama penggunaan antibiotik di populasi pediatrik. Sekitar 2–5% dari seluruh kunjungan anak ke poliklinik disebabkan oleh faringitis, dengan mayoritas etiologinya bersifat viral. Namun, sekitar 20–30% kasus pada anak di atas lima tahun disebabkan oleh Streptococcus β-hemolitikus grup A (GABHS), yang memiliki potensi menimbulkan komplikasi serius seperti demam rematik akut dan glomerulonefritis pascastreptokokus. (1,2)
Pembedaan antara faringitis bakterial dan viral penting untuk menghindari overuse antibiotik, yang berkontribusi terhadap resistansi antimikroba dan menurunkan efektivitas terapi jangka panjang. (3) Meskipun secara klinis keduanya dapat tampak serupa, identifikasi etiologi menjadi kunci dalam pengambilan keputusan tatalaksana yang rasional.
Etiologi dan Epidemiologi
Faringitis viral paling sering disebabkan oleh adenovirus, rhinovirus, coronavirus, parainfluenza, dan Epstein–Barr virus (EBV). Sementara itu, faringitis bakterial paling sering disebabkan oleh GABHS, dan jarang oleh Streptococcus grup C/G atau Arcanobacterium haemolyticum. (1,4)
Prevalensi GABHS meningkat pada anak usia sekolah (5–15 tahun) dan menurun pada usia di bawah tiga tahun. Data global menunjukkan bahwa sekitar seperempat kasus sakit tenggorokan pada anak memiliki etiologi streptokokus, dengan variasi tergantung faktor sosial ekonomi dan tingkat kepadatan penduduk. (1)
Sementara itu, faringitis viral cenderung terjadi sepanjang tahun, terutama pada musim hujan dan musim dingin, dengan penularan melalui droplet dan kontak erat di sekolah maupun rumah tangga. (2)
Faktor Risiko dan Patogenesis
Faktor risiko faringitis viral mencakup paparan terhadap anak lain yang sedang sakit, imunitas rendah, serta kurangnya ventilasi di ruangan tertutup. Sebaliknya, faktor risiko faringitis bakterial meliputi kepadatan populasi, status sosial ekonomi rendah, dan riwayat keluarga dengan demam rematik. (1,2)
Pada faringitis viral, infeksi dimulai dengan invasi epitel faring oleh virus yang menginduksi respon inflamasi lokal berupa vasodilatasi dan peningkatan sekresi mukus. Sedangkan pada faringitis GABHS, bakteri berikatan dengan epitel tonsil melalui protein M dan menghasilkan toksin pirogenik streptokokus, yang menimbulkan inflamasi supuratif serta aktivasi sistem imun humoral. (1,3)
Respons imun silang terhadap protein M yang homolog dengan jaringan miokard dapat menyebabkan komplikasi demam rematik akut (ARF) melalui mekanisme molecular mimicry. (1)
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Secara klinis, perbedaan antara faringitis viral dan bakterial sering kali tumpang tindih. Namun, tanda khas faringitis viral meliputi batuk, rinore, suara serak, konjungtivitis, atau ulkus oral. Sebaliknya, faringitis GABHS biasanya disertai demam tinggi, tonsil hipertrofi dengan eksudat purulen, nyeri tenggorokan berat, dan limfadenopati servikal anterior yang nyeri tekan. (1,2)
Tabel 1. Rangkuman perbedaan antara faringitis bakterial dan faringitias viral
Namun, tidak ada tanda klinis tunggal yang patognomonik. Oleh karena itu, berbagai skor klinis seperti Centor, McIsaac, atau FeverPAIN digunakan untuk menilai probabilitas infeksi GABHS dan menentukan perlunya pemeriksaan lanjutan. (1)
Pemeriksaan penunjang mencakup rapid antigen detection test (RADT) dan kultur tenggorok. RADT memiliki sensitivitas 82–95% dan spesifisitas hingga 99%. (1,3) Kultur tetap menjadi baku emas namun memerlukan waktu 24–48 jam. Pemeriksaan serologi (anti-streptolisin O) tidak berguna dalam diagnosis akut karena titer meningkat baru setelah beberapa minggu. (1)
Komplikasi
Komplikasi faringitis viral umumnya ringan dan jarang menyebabkan sekuela serius. Sebaliknya, faringitis bakterial dapat menyebabkan komplikasi supuratif (abses peritonsil, sinusitis, otitis media) maupun non-supuratif seperti demam rematik akut dan glomerulonefritis pascastreptokokus. (1,2)
Demam rematik merupakan komplikasi imunologis serius yang dapat menimbulkan kerusakan katup jantung permanen, terutama pada anak dengan predisposisi genetik dan lingkungan padat. (1)
Tatalaksana
Pendekatan tatalaksana sangat bergantung pada etiologi. Pada faringitis viral, terapi bersifat suportif: istirahat, hidrasi, analgesik antipiretik (parasetamol atau ibuprofen), dan irigasi salin untuk meredakan gejala. Antibiotik tidak dianjurkan karena tidak mempercepat penyembuhan dan justru meningkatkan risiko resistansi. (2)
Sebaliknya, faringitis bakterial akibat GABHS memerlukan antibiotik untuk mencegah komplikasi dan memperpendek durasi gejala. (1,3) Rekomendasi global (IDSA, WHO, AAP) menyarankan penisilin V atau amoksisilin selama 10 hari sebagai terapi lini pertama. Pada pasien alergi β-laktam, alternatif adalah cefalosporin generasi pertama atau makrolid (eritromisin, klaritromisin) dengan mempertimbangkan resistansi lokal. (1,4)
Di beberapa negara dengan insidensi demam rematik tinggi, seperti wilayah Pasifik dan Asia Selatan, WHO masih merekomendasikan pengobatan empiris berbasis skor klinis tinggi (Centor ≥3) tanpa menunggu hasil kultur, untuk mencegah ARF. (1)
Durasi terapi 10 hari terbukti menurunkan kolonisasi faring dan risiko kekambuhan. Namun, pada negara dengan risiko ARF rendah, terapi 5–7 hari dapat dipertimbangkan dengan pemantauan ketat. (1)
Selain terapi antibiotik dan suportif, kortikosteroid dapat dipertimbangkan sebagai terapi adjuvan pada faringitis akut untuk meredakan nyeri tenggorokan yang berat, terutama pada pasien dengan kesulitan menelan akibat inflamasi orofaring yang signifikan. Meta-analisis acak terkontrol menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis tunggal, seperti dexamethasone 0,6 mg/kg (maksimum 10 mg) per oral atau intramuskular, dapat mempercepat perbaikan gejala dan meningkatkan proporsi pasien dengan resolusi nyeri total dalam 24–48 jam dibandingkan terapi standar saja, tanpa peningkatan efek samping serius. (4)
Pada populasi pediatrik, penggunaan kortikosteroid direkomendasikan hanya untuk anak usia ≥5 tahun dengan nyeri tenggorokan akut, baik akibat etiologi viral maupun bakterial, yang tidak disertai mononukleosis infeksiosa atau imunosupresi. (4) Pemberian berulang atau dalam jangka panjang tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko efek samping sistemik. Dengan demikian, pemberian kortikosteroid sebaiknya dilakukan satu kali dosis di fasilitas kesehatan dan bukan untuk penggunaan mandiri di rumah.
Kesimpulan dan Penutup
Faringitis pada anak merupakan kondisi umum dengan etiologi dominan viral, namun penting untuk mengenali kasus akibat GABHS karena potensi komplikasinya yang berat. Diagnosis yang akurat membutuhkan kombinasi penilaian klinis dan konfirmasi mikrobiologis.
Pemberian antibiotik sebaiknya hanya pada kasus yang terkonfirmasi atau sangat dicurigai GABHS untuk menurunkan risiko komplikasi imunologis dan resistansi antimikroba. Sementara itu, edukasi kepada orang tua mengenai gejala faringitis viral dan pentingnya tidak menggunakan antibiotik sembarangan perlu terus diperkuat.
Pendekatan berbasis bukti dan sesuai pedoman nasional serta internasional menjadi kunci untuk mencapai keseimbangan antara pencegahan komplikasi bakterial dan pengendalian resistansi antibiotik di populasi anak Indonesia.
Daftar Pustaka