
Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama
31 Agu 2017

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
3 Agu 2025
Topik: Hepatitis, Hepatitis B, Hepatitis Akut
Jenewa, 28 Juli 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan kepada pemerintah dan mitra global untuk segera mempercepat upaya eliminasi virus hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat. WHO juga menyoroti perlunya penguatan langkah pencegahan dan pengobatan guna menekan angka kematian akibat kanker hati.
“Setiap 30 detik, satu orang meninggal akibat penyakit hati berat atau kanker hati yang berhubungan dengan hepatitis. Padahal kita memiliki alat=alat untuk menghentikan hepatitis,” tegas Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Hepatitis D Kini Ditetapkan Sebagai Karsinogen
Dalam perkembangan terbaru, International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan hepatitis D sebagai karsinogen pada manusia—setara dengan hepatitis B dan C. Hepatitis D hanya menyerang individu yang telah terinfeksi hepatitis B dan terbukti meningkatkan risiko kanker hati dua hingga enam kali lipat dibanding infeksi hepatitis B saja.
Penetapan ini menjadi langkah penting dalam upaya global meningkatkan kesadaran, memperluas skrining, dan mempercepat akses terhadap terapi hepatitis D yang kini mulai berkembang. WHO sendiri telah menerbitkan panduan skrining dan diagnosis hepatitis B dan D pada 2024, serta memantau hasil klinis dari terapi baru yang menjanjikan untuk hepatitis D.
Beban Hepatitis Global: Penyakit Kronik yang Luput dari Perhatian
Hepatitis virus—terutama tipe B, C, dan D—menyebabkan infeksi hati kronik yang dapat berkembang menjadi sirosis, gagal hati, atau kanker hati. Saat ini, lebih dari 300 juta orang di dunia hidup dengan infeksi hepatitis B, C, atau D, dan lebih dari 1,3 juta di antaranya meninggal setiap tahun akibat komplikasi berat seperti sirosis dan kanker.
Ironisnya, sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi. Meski hepatitis C kini dapat disembuhkan dengan pengobatan oral dalam 2–3 bulan, dan hepatitis B dapat dikendalikan dengan terapi seumur hidup, cakupan diagnosis dan pengobatan masih sangat rendah. Hepatitis D, yang pengobatannya terus berkembang, memerlukan perhatian khusus sebagai komorbiditas dari hepatitis B.
Kemajuan dan Tantangan di Tahun 2025
WHO melaporkan adanya kemajuan signifikan di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs). Hingga 2025, jumlah negara yang memiliki rencana aksi nasional hepatitis meningkat dari 59 menjadi 123. Sebanyak 129 negara telah menerapkan kebijakan skrining hepatitis B pada ibu hamil—naik dari 106 negara pada 2024. Selain itu, vaksin dosis lahir hepatitis B kini telah diperkenalkan di 147 negara, meningkat dari 138 pada 2022.
Namun, laporan Hepatitis Global 2024 menunjukkan bahwa hanya 13% penderita hepatitis B dan 36% penderita hepatitis C yang telah terdiagnosis pada 2022. Tak hanya itu, dengan angka pengobatan hanya mencapai 3% untuk hepatitis B dan 20% untuk hepatitis C—jauh di bawah target 2025 yaitu 60% diagnosa dan 50% pengobatan.
Integrasi layanan hepatitis ke sistem kesehatan primer masih belum merata. Dari seluruh negara, hanya 80 yang mengintegrasikan layanan hepatitis dalam layanan primer, 128 dalam program HIV, dan hanya 27 yang menggabungkan hepatitis C ke layanan reduksi dampak buruk (harm reduction).
WHO memperkirakan, bila target eliminasi hepatitis 2030 tercapai, dunia dapat menyelamatkan 2,8 juta nyawa dan mencegah 9,8 juta infeksi baru. Namun, menurunnya dukungan donor menuntut negara-negara untuk berinvestasi lebih besar secara domestik, memperkuat integrasi layanan, memperbaiki data epidemiologi, menurunkan harga obat, serta menghapus stigma.
Kemitraan dan Kampanye Global: “Hepatitis: Let’s Break It Down”
Sebagai bagian dari peringatan tahun ini, WHO bermitra dengan Rotary International dan World Hepatitis Alliance untuk menguatkan advokasi global dan lokal. Kampanye bertema “Hepatitis: Let’s Break It Down” menyerukan aksi nyata untuk menanggapi meningkatnya beban kanker hati akibat hepatitis kronis. Selain itu, kampanye ini mendorong langkah-langkah konkret untuk mengatasi hambatan struktural seperti stigma, kurangnya pendanaan, dan akses layanan yang tidak merata.
Melalui webinar bersama dan aksi komunitas, WHO menekankan pentingnya peran masyarakat sipil dan komunitas lokal—bersama pemerintah—dalam mempercepat pencapaian eliminasi hepatitis secara global.
Referensi
World Health Organization. WHO urges action on hepatitis, announcing hepatitis D as carcinogenic [Internet]. Geneva: WHO; 2025 Jul 28 [cited 2025 Aug 1]. Available from: https://www.who.int/news/item/28-07-2025-who-urges-action-on-hepatitis-announcing-hepatitis-d-as-carcinogenic

31 Agu 2017

29 Jan 2018

5 Feb 2018


Radhita Rara / Dhia Priyanka (Editor)
22 Apr 2022