
Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak
28 Jan 2018

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
9 Agu 2025
Topik: Program Imunisasi, Imunisasi Booster, Vaksinasi anak sekolah, Bulan Imunisasi Anak Sekolah
Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular. Di Indonesia, upaya imunisasi tidak berhenti pada masa bayi. Seiring pertambahan usia, kekebalan tubuh anak terhadap beberapa penyakit dapat menurun, sehingga pemberian dosis penguat (booster) menjadi krusial. Untuk menjawab kebutuhan ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan melaksanakan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), sebuah program nasional yang menyasar anak usia sekolah dasar.
Apa Itu BIAS?
BIAS adalah singkatan dari Bulan Imunisasi Anak Sekolah, sebuah kegiatan imunisasi rutin yang dilaksanakan dua kali setahun di seluruh Indonesia. Program ini menyasar anak-anak sekolah dasar dan sederajat, serta anak usia sekolah yang tidak sekolah melalui pelayanan di fasilitas kesehatan. Tujuan utama BIAS adalah memberikan perlindungan tambahan terhadap penyakit-penyakit infeksius yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yaitu campak, rubela, difteri, tetanus, dan kanker leher rahim.
Mengapa Anak Usia Sekolah Perlu Imunisasi Tambahan?
Banyak orang tua mengira bahwa imunisasi hanya perlu dilakukan pada masa bayi. Padahal, beberapa vaksin memerlukan dosis penguat pada usia yang lebih besar untuk memastikan kekebalan tetap optimal. Selain itu, ada jenis imunisasi tertentu yang baru diberikan pada usia sekolah, seperti vaksin HPV untuk pencegahan kanker serviks. Anak usia sekolah juga mulai lebih aktif secara sosial, sehingga risiko penularan penyakit menular meningkat.
Imunisasi melalui BIAS memberikan keuntungan ganda: perlindungan individu terhadap penyakit berbahaya dan pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Penyakit yang Dicegah Melalui BIAS
Ada lima penyakit utama yang menjadi target BIAS:
Keduanya disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular. Campak dapat menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis, bahkan kematian. Sementara itu, rubela yang menginfeksi ibu hamil di trimester pertama dapat menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada janin, seperti katarak, tuli, dan kelainan jantung bawaan.
2. Difteri dan Tetanus
Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae, bakteri yang menghasilkan toksin dan menyerang saluran napas bagian atas, dapat menyebabkan sesak napas berat hingga kematian. Tetanus disebabkan oleh toksin dari Clostridium tetani yang masuk melalui luka dan menyebabkan kejang otot yang parah. Kedua penyakit ini bersifat mematikan dan membutuhkan perlindungan imunisasi lanjutan.
3. Kanker Leher Rahim (Serviks)
Sebanyak 95% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). Imunisasi HPV diberikan pada anak perempuan sebagai pencegahan primer terhadap kanker serviks di masa depan. Vaksin ini paling efektif diberikan sebelum anak aktif secara seksual, dan usia sekolah dasar adalah waktu yang ideal untuk memulainya.
Jadwal BIAS Tahun 2025
Pelaksanaan BIAS dilakukan dua kali setahun, yakni pada bulan Agustus dan November. Jadwal pelaksanaan untuk tahun 2025 dapat dilihat di tabel berikut:
*Kelas 6 dan Kelas 9 ditujukan untuk anak yang belum pernah mendapatkan Imunisasi HPV sebelumnya (Imunisasi Kejar).
**HPV hanya diberikan kepada anak perempuan.
Jadwal ini dapat disesuaikan secara teknis oleh masing-masing daerah, tergantung pada kesiapan sumber daya dan situasi lokal. Namun prinsipnya, seluruh anak usia sekolah yang memenuhi kriteria harus mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal.
Pelaksanaan di Lapangan
BIAS dilaksanakan di sekolah, madrasah, dan pesantren. Bagi anak-anak yang tidak bersekolah, pelaksanaan imunisasi dilakukan di puskesmas, posyandu, atau fasilitas kesehatan lainnya. Guru UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) bekerja sama dengan petugas puskesmas dalam pelaksanaan dan pencatatan imunisasi.
Sebelum imunisasi dilakukan, orang tua diminta mengisi formulir skrining kesehatan. Anak juga dianjurkan sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah agar dalam kondisi optimal saat menerima suntikan. Imunisasi dalam program BIAS relatif aman, namun bisa menimbulkan keluhan ringan seperti demam atau nyeri di lokasi suntikan. Orang tua dianjurkan untuk tetap tenang dan melaporkan keluhan yang tidak membaik ke puskesmas terdekat.
Penutup
Program BIAS merupakan wujud nyata komitmen pemerintah Indonesia dalam melindungi anak-anak dari penyakit infeksius yang berbahaya. Sebagai dokter anak, memahami pentingnya program ini dan berperan aktif dalam pelaksanaannya adalah langkah krusial dalam menjaga kesehatan masyarakat sejak usia dini. Dengan cakupan yang luas dan pelaksanaan yang terintegrasi di sekolah, BIAS adalah jembatan penting menuju generasi Indonesia yang lebih sehat dan terlindungi.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Leaflet BIAS. 2025. Jakarta: KEMENKES. Link: https://ayosehat.kemkes.go.id/leaflet---leaflet-bias-2025-pdf

28 Jan 2018


Radhita Rara / dr. Lucyana Alim Santoso Sp.A (Editor)
24 Mei 2022


Tim PrimaKu
26 Jul 2022


Tim PrimaKu
3 Agu 2022