
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
18 Des 2025
Topik: Smartphone, Bahaya Gadget, Gadget, Remaja, Ilmiah
Penggunaan smartphone pada anak dan remaja semakin menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perangkat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sarana belajar, hiburan, dan interaksi sosial. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran yang semakin besar mengenai dampak smartphone terhadap kesehatan fisik dan mental anak, khususnya bila digunakan atau dimiliki sejak usia dini.
Kekhawatiran terhadap smartphone berkaitan dengan paparan layar yang intens, perubahan pola tidur, berkurangnya aktivitas fisik, serta paparan konten digital yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah bergeser dari sekadar mengukur durasi screen time menjadi dampak kepemilikan smartphone, serta usia paling baik untuk memilikinya. (1,2)
Bukti paling kuat hingga saat ini berasal dari analisis data Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study yang melibatkan 10.588 anak dan remaja di Amerika Serikat. Penelitian ini menganalisis hubungan antara kepemilikan smartphone, usia pertama kali memiliki smartphone, serta luaran kesehatan pada awal masa remaja, khususnya depresi, obesitas, dan kurang tidur. Analisis dilakukan dengan model regresi logistik yang telah disesuaikan terhadap berbagai faktor perancu, termasuk status sosioekonomi, kepemilikan perangkat lain, perkembangan pubertas, dan pemantauan orang tua. (1)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia 12 tahun, anak yang telah memiliki smartphone memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, obesitas, dan kurang tidur dibandingkan anak yang belum memiliki smartphone. Kepemilikan smartphone dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi sebesar 31%, obesitas sebesar 40%, dan kurang tidur sebesar 62%. Selain itu, semakin kecil usia anak saat pertama kali memiliki smartphone, semakin tinggi pula risiko obesitas dan kurang tidur yang ditemukan. Setiap satu tahun lebih awal kepemilikan smartphone meningkatkan risiko obesitas dan gangguan tidur secara bermakna. (1)
Kemudian, dilakukan observasi lanjutan pada kelompok anak yang tidak memiliki smartphone pada usia 12 tahun. Di antara anak-anak pada kelompok tersebut,, mereka yang memperoleh smartphone dalam satu tahun berikutnya menunjukkan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental tingkat klinis dan kurang tidur dibandingkan rekan sebaya yang tetap tidak memiliki smartphone. Hubungan ini tetap signifikan meskipun telah dikontrol terhadap kondisi kesehatan mental dan pola tidur sebelumnya, sehingga memperkuat dugaan adanya hubungan temporal antara kepemilikan smartphone dan luaran kesehatan. (1)
Beberapa mekanisme dapat menjelaskan hubungan ini. Kepemilikan smartphone memungkinkan akses tanpa batas terhadap media sosial dan konten digital, yang dapat memengaruhi regulasi emosi, meningkatkan stres psikososial, serta mengganggu ritme sirkadian akibat paparan cahaya biru dan penggunaan perangkat pada malam hari. Selain itu, waktu yang dihabiskan dengan smartphone sering kali menggantikan aktivitas fisik, yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas. Meskipun penelitian ini tidak mengevaluasi jenis aplikasi atau pola penggunaan secara spesifik, kepemilikan smartphone tampak menjadi penanda penting dari paparan digital yang lebih intens. (1,2)
Dalam konteks rekomendasi klinis, temuan ini tidak berarti bahwa smartphone harus sepenuhnya dilarang. Peneliti menekankan bahwa smartphone juga dapat memberikan manfaat, seperti memperkuat koneksi sosial, mendukung pembelajaran, dan meningkatkan rasa aman dalam komunikasi. Namun, bukti ilmiah ini mendukung pendekatan yang lebih hati-hati dan terstruktur. Menunda kepemilikan smartphone hingga anak lebih matang secara perkembangan, disertai dengan aturan penggunaan yang jelas dan pemantauan orang tua yang konsisten, tampaknya merupakan strategi yang lebih aman. Pengaturan penggunaan smartphone, khususnya pembatasan di malam hari dan di kamar tidur, juga penting untuk melindungi kualitas tidur dan kesehatan mental anak. (1,2)
Sebagai kesimpulan, bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa kepemilikan smartphone pada usia dini, terutama sebelum usia remaja awal (sekitar 13 tahun), berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, obesitas, dan kurang tidur.. Bagi dokter anak di Indonesia, temuan ini memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk mendampingi orang tua dalam mengambil keputusan yang lebih bijak terkait penggunaan smartphone pada anak. Pendekatan yang seimbang, mempertimbangkan manfaat dan risiko, serta menekankan kesiapan perkembangan anak, menjadi kunci dalam melindungi kesehatan anak di era digital. (1,2)
Daftar Pustaka