
Author: dr. Afiah Salsabila
9 Des 2025
Topik: Liputan, Diabetes Tipe 1, Diabetes anak, Diabetes remaja, Diabetes Mellitus, Diabetes, Diabetes Tipe 2, CDIC
2 Desember 2025 - Sebagai upaya untuk memperkaya ilmu dan memperluas wawasan tenaga medis di Indonesia mengenai deteksi dini dan tata laksana diabetes pada anak, Changing Diabetes in Children (CDIC) Indonesia menyelenggarakan kegiatan Meet the Expert dengan tema “Comprehensive Approaches to Pediatric Diabetes: From Early Detection to Advanced Technology” yang menghadirkan pakar diabetes anak internasional, Prof. Tatsuhiko Urakami, MD, PhD dari Nihon University, Jepang. Acara ini menjadi ruang bertukar pengetahuan bagi para dokter anak, dokter umum, tenaga kesehatan lainnya untuk memahami perkembangan terbaru dalam epidemiologi, skrining, serta teknologi manajemen diabetes pada populasi pediatrik.
Kegiatan dibuka oleh sambutan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, yang menyampaikan komitmen pemerintah dalam memperkuat program skrining kesehatan nasional, termasuk perluasan skrining diabetes anak sebagai bagian dari program nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sambutan berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, SpA. Subsp.End (K), FAAP, FRCPI(Hon.) selaku moderator dan Project Lead CDiC Indonesia. Beliau menekankan meningkatnya angka prediabetes dan diabetes pada anak serta pentingnya menyiapkan tenaga kesehatan yang mampu mengidentifikasi risiko dan memberikan tata laksana tepat sejak awal.
Melalui pemaparan materi dari Prof. Urakami, peserta mendapatkan gambaran jelas tentang bagaimana Jepang membangun sistem skrining yang rapi, terintegrasi, dan dijalankan secara konsisten selama puluhan tahun. Pemeriksaan glukosa urine di sekolah, yang dilakukan secara massal dan berjenjang, menjadi salah satu fondasi mengapa kasus diabetes pada anak dapat terdeteksi lebih dini dan ditindaklanjuti secara cepat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa skrining yang sistematis tak hanya memungkinkan diagnosis untuk dilakukan lebih awal, tetapi juga membuka peluang untuk mencegah komplikasi, mengurangi progresivitas penyakit, bahkan mengidentifikasi kasus-kasus monogenic diabetes yang kerap terlewat.
Dari sisi klinis, peserta juga belajar bahwa anak Asia memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan populasi Barat. Meski BMI tidak terlalu tinggi, akumulasi lemak visceral lebih besar membuat risiko Diabetes tipe 2 (DT2 )lebih tinggi, termasuk pada anak yang tampak tidak memiliki obesitas. Ditambah dengan fakta bahwa respons pengobatan DT2 pada anak jauh lebih buruk dibandingkan dewasa, urgensi skrining dan intervensi lebih dini menjadi semakin jelas.
Selain itu, Prof. Urakami juga memperkenalkan perkembangan teknologi terbaru dalam manajemen diabetes tipe 1, termasuk hybrid closed-loop dan automated insulin delivery (AID). Teknologi seperti MiniMed 780G memungkinkan kontrol glukosa yang lebih stabil melalui auto-basal dan auto-correction bolus, dengan proporsi pasien yang mencapai time in range (TIR) ≥70% jauh lebih tinggi dibandingkan terapi konvensional. Bagi peserta, ini menjadi pengingat bahwa tata laksana T1D kini bergerak ke arah penggunaan sistem yang lebih presisi, otomatis, dan lebih mudah digunakan, guna meningkatkan kualitas hidup anak.
Kegiatan ini memberikan serangkaian take-home message yang sangat relevan untuk praktik klinis di Indonesia. Pertama, bahwa skrining dini bukan sekadar proyek besar pemerintah, tetapi sebuah kebutuhan klinis. Kedua, keberhasilan Jepang dalam menyaring kasus-kasus DT2 pada anak menunjukkan pentingnya sistem skrining yang konsisten dan berbasis populasi, bukan hanya skrining oportunistik di mana kasus diabetes rawan tak terdeteksi. Ketiga, tata laksana diabetes anak perlu bergerak mengikuti bukti ilmiah terbaru, terutama karena respons farmakologis pada anak berbeda dengan dewasa, dan yang tidak kalah penting adalah, bahwa teknologi kini memegang peran besar dalam meningkatkan kontrol glikemik dan kualitas hidup pasien, suatu inovasi yang seyogianya perlu semakin dipertimbangkan dalam pelayanan diabetes anak di Indonesia.
Acara ini menjadi pengingat bahwa untuk menyediakan perawatan yang terbaik bagi pasien, tenaga kesehatan perlu terus membuka diri pada pendekatan baru, data terbaru, dan teknologi yang berkembang cepat. Dengan memahami pengalaman negara lain seperti Jepang dan mengadaptasinya secara kontekstual, Indonesia dapat senantiasa berada di jalur yang tepat untuk memperkuat deteksi dini, meningkatkan kualitas tata laksana, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dengan diabetes.