
Author: dr. Afiah Salsabila
12 Jan 2026
Topik: Panduan, Berita
Latar Belakang
Pembaruan Dietary Guidelines for Americans (DGA) 2025–2030 tengah menjadi topik hangat di kalangan profesional kesehatan dan pemerhati nutrisi global. Diskursus ini meluas hingga media sosial dan komunitas ilmiah karena perubahan pendekatan visual yang cukup drastis, yakni diperkenalkannya kembali food pyramid dalam bentuk piramida terbalik. Visual ini berbeda secara konseptual dari pendekatan MyPlate yang telah digunakan sejak 2011 dan menjadi rujukan banyak negara, termasuk Indonesia melalui pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan . (1–3)
Piramida terbalik ini menempatkan kelompok pangan yang selama ini dianggap sebagai pendukung, justru pada posisi utama. Perubahan tersebut memicu beragam respons dari pakar medis dan nutrisi. Sebagian menyambutnya sebagai koreksi terhadap pola makan modern yang tinggi pangan ultra-proses, sementara sebagian lain mengkritisi potensi implikasi metabolik dan tantangan implementasi di masyarakat awam . (1,2)
Latar Belakang Penyusunan Piramida Terbalik
Panduan DGA 2025–2030 dikembangkan dalam konteks meningkatnya beban penyakit kronik terkait pola makan di Amerika Serikat, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Dokumen resmi menekankan bahwa pola makan modern yang didominasi karbohidrat olahan, gula tambahan, dan pangan ultra-proses berkontribusi besar terhadap krisis kesehatan tersebut . (1)
Visual piramida terbalik menempatkan protein, produk susu, dan lemak sehat pada bagian teratas sebagai komponen yang perlu diprioritaskan dalam pola makan harian. Di bawahnya terdapat kelompok sayur dan buah, sementara whole grains ditempatkan pada bagian paling bawah dengan porsi relatif lebih kecil. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran fokus ke pangan padat gizi (nutrient-dense foods) dan pembatasan karbohidrat olahan . (1,2) Piramid baru ini bisa dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Panduan visual DGA 2025-2030
Banyak pihak yang menyambut baik pendekatan ini karena dinilai lebih selaras dengan bukti mengenai peran protein dalam regulasi nafsu makan, komposisi tubuh, dan kontrol glikemik. Selain itu, penekanan pada produk susu utuh dan lemak alami dipandang sebagai upaya mengoreksi stigma lama terhadap lemak dalam diet. (2)
Kritik dan Kontroversi Ilmiah
Di sisi lain, publikasi panduan visual baru ini juga memunculkan sejumlah kritik dari ahli ilmu kedokteran dan gizi. Salah satu perhatian utama adalah potensi peningkatan asupan lemak jenuh, terutama bila interpretasi piramida terbalik tidak disertai edukasi yang memadai. Beberapa pakar mengkhawatirkan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular bila diterapkan tanpa kontrol kualitas dan kuantitas lemak . (2)
Selain itu, piramida makanan dinilai kurang intuitif dibandingkan MyPlate, yang secara visual lebih mudah dipahami dan langsung diaplikasikan oleh masyarakat awam. Lihat MyPlate pada Gambar 2. MyPlate juga telah diadaptasi secara luas, termasuk oleh Kementerian Kesehatan RI menjadi “Isi Piringku”, sehingga memiliki keunggulan dalam aspek edukasi publik dan konsistensi pesan kesehatan . (3)
Gambar 2. Diagram MyPlate
Perlu dicatat bahwa food pyramid sebenarnya tidak sepenuhnya ditinggalkan dalam DGA 2020–2025, namun tidak lagi digunakan sebagai visual utama. Kembalinya piramida pada edisi 2025–2030 menandai perubahan strategi komunikasi, yang masih memerlukan evaluasi efektivitas di tingkat populasi . (1)
Rekomendasi Protein dan Implikasinya pada Anak
DGA 2025–2030 juga merekomendasikan asupan protein yang relatif lebih tinggi dibandingkan edisi sebelumnya, dengan kisaran sekitar 1,2–1,6 g/kgBB/hari untuk populasi umum dewasa. Alasan yang dikemukakan meliputi peran protein dalam pemeliharaan massa otot, kesehatan metabolik, dan rasa kenyang . (1)
Dalam konteks populasi anak, rekomendasi ini tidak dapat diterapkan secara langsung. Prinsip utama tetap mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan tahap perkembangan anak. Pada bayi dan balita, termasuk periode MPASI, asupan protein harus disesuaikan dengan kesiapan oral-motor, fungsi ginjal, serta kebutuhan pertumbuhan, dengan tetap mengedepankan variasi sumber pangan dan keseimbangan makronutrien . (3)
Kesimpulan dan Penutup
Dietary Guidelines for Americans 2025–2030 menghadirkan perubahan konseptual dan visual yang signifikan melalui pengenalan piramida terbalik. Pendekatan ini menekankan pangan padat gizi, protein, produk susu, dan pembatasan pangan ultra-proses, namun juga memunculkan diskusi kritis terkait asupan lemak jenuh dan kemudahan implementasi. Bagi dokter anak di Indonesia, pembaruan ini perlu disikapi secara kritis dan kontekstual, dengan tetap menjadikan AKG nasional, prinsip tumbuh kembang anak, dan kesiapan MPASI sebagai landasan utama dalam edukasi nutrisi keluarga.
Daftar Pustaka