
Kapan Anak Dikatakan Mengalami Pubertas?
22 Jul 2017

Author: dr. Afiah Salsabila
1 Okt 2025
Topik: Pubertas Dini, Pubertas, Constitutional Delay of Growth and Puberty, Perempuan
Latar Belakang
Pada anak perempuan, pubertas dini adalah kondisi di mana terdapat munculnya tanda-tanda pubertas sebelum usia 8 tahun Belakangan ini, insidensinya kian meningkat pada anak perempuan. Faktor sosial, gizi, paparan lingkungan, hingga pola pengasuhan berkontribusi terhadap tren ini. Pubertas dini tidak hanya berdampak biologis berupa percepatan maturasi tulang dan risiko tinggi tubuh akhir yang pendek, tetapi juga menimbulkan masalah psikososial signifikan, termasuk kecemasan, depresi, serta kerentanan terhadap perilaku seksual berisiko. (1-4)
Etiologi, Faktor Risiko, dan Patogenesis
Pada anak perempuan, pubertas dimulai ketika hipotalamus mulai mensekresikan gonadotropin secara pulsatil. Hal ini merangsang hipofisis untuk melepaskan FSH dan LH. Hormon FSH berperan dalam stimulasi pematangan oosit serta produksi estrogen dari ovarium. Estrogen inilah yang memicu tanda-tanda pubertas seperti pembesaran payudara dan perubahan fisik lainnya. Bila proses ini terjadi lebih cepat dari waktunya, muncullah kondisi yang disebut pubertas dini. (3)
Pubertas dini dapat terjadi melalui dua cara: pertama, jika terdapat aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-gonad yang menyebabkan sekresi gonadotropin terlalu cepat, disebut sebagai pubertas prekoks sentral (CPP); dan kedua, jika terjadi produksi estrogem yang independen dari aktivasi aksis tersebut, disebut sebagai pubertas prekoks perifer (PPP). Sebagian besar CPP pada anak perempuan bersifat idiopatik, namun pada sebagian kasus dapat berkaitan dengan kelainan sistem saraf pusat, misalnya hamartoma hipotalamus, glioma, atau kista araknoid. Sementara itu, penyebab PPP meliputi tumor ovarium, hiperplasia adrenal kongenital, sindrom McCune-Albright, atau paparan estrogen dari luar tubuh. (3)
Faktor risiko pubertas dini pada perempuan bermacam-macam. Menurut beberapa laporan, obesitas, riwayat keluarga dengan pubertas dini, dan kondisi metabolik seperti diabetes pada orang tua memiliki hubungan yang erat dengan kejadian pubertas dini. Laporan yang ditulis oleh Qi et al. (2) juga menyebutkan bahwa paparan lingkungan berupa polusi kimia, pestisida, penggunaan kosmetik dengan kandungan hormon, serta konsumsi makanan dengan residu hormon juga memiliki potensi dalam meningkatkan risiko. Studi yang sama juga menuliskan bahwa tidur dengan lampu menyala, konsumsi makanan olahan tinggi kalori, serta hubungan keluarga yang kurang harmonis memiliki hubungan yang signifikan secara statistik pada peningkatan angka pubertas dini di anak perempuan. (2,4)
Komplikasi Biologis dan Implikasi Psikososial Pubertas Dini
Konsekuensi biologis utama dari pubertas dini pada perempuan adalah percepatan maturasi tulang yang berujung pada penutupan epifisis lebih awal, sehingga tinggi akhir anak lebih pendek dari potensi genetik. Selain itu, terdapat peningkatan risiko obesitas, sindrom metabolik, dan gangguan menstruasi di kemudian hari. (2,4)
Dampak psikososial sama pentingnya, karena pubertas dini menimbulkan ketidaksesuaian antara maturasi fisik dan psikologis. Anak perempuan dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, depresi, dan kerentanan terhadap perilaku seksual berisiko lebih dini. Faktor keluarga dan lingkungan sangat berperan dalam menentukan adaptasi psikologis anak. (2,4)
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta evaluasi laboratorium dan radiologis. Pemeriksaan usia tulang juga penting untuk dilakukan. Manifestasi klinis meliputi thelarche, pubarche, percepatan pertumbuhan tinggi badan, dan peningkatan usia tulang. Evaluasi hormonal dengan pemeriksaan LH/FSH basal serta respons terhadap stimulasi GnRH membantu membedakan CPP dan PPP. USG panggul dapat menunjukkan pembesaran uterus dan ovarium pada CPP, serta asimetri ovarium yang sering ditemukan pada PPP. (3)
MRI otak diindikasikan pada semua kasus CPP yang memiliki awitan gejala di bawah usia 6 tahun, adanya gejala neurologis, atau pubertas yang sangat cepat progresinya. Diagnosis banding meliputi premature thelarche, premature adrenarche, dan premature menarche. Semua kondisi ini berbeda dengan pubertas dini sejati karena tidak memperlihatkan progresi pubertas yang konsisten, tidak menyebabkan maturasi tulang yang cepat, serta tidak mengganggu tinggi akhir dewasa. (3,4) Berikut adalah penjelasan dari tiap diagnosis banding tersebut:
Pencegahan dan Tatalaksana
Pencegahan pubertas dini dapat diusahakan dengan mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Edukasi keluarga mengenai pola makan sehat, pembatasan konsumsi makanan cepat saji, serta pengurangan paparan anak terhadap zat endocrine-disrupting chemicals (EDCs) seperti pestisida dan bahan kosmetik tertentu menjadi usaha pencegahan yang penting untuk dilakukan. (2)Pemberian tata laksana medis tergantung pada etiologi pubertas dini, usia anak, dan usia tulang. Pada pasien CPP dengan usia tulang yang tinggi, pemberian agonis GnRH dapat dipertimbangkan. Intervensi ini dapat menekan sekresi gonadotropin, memperlambat perkembangan seksual, serta memperbaiki prediksi tinggi akhir. Terapi ini dianggap aman dan efektif, dengan efek samping minimal yang reversibel. (3) Pada PPP, terapi diarahkan pada penyebab. Misalnya intervensi operatif pada tumor ovarium yang menyebabkan kadar hormon seks berlebih, atau terapi pengganti pada hiperplasia adrenal kongenital. (4)
Selain terapi medis, konseling psikologis dan dukungan keluarga diperlukan untuk mengatasi dampak emosional. Monitoring jangka panjang penting dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan linear, maturasi tulang, fungsi reproduksi, serta kesejahteraan psikososial anak.
Kesimpulan dan Penutup
Pubertas dini pada anak perempuan merupakan masalah klinis yang semakin sering dijumpai di Indonesia. Kondisi ini memiliki etiologi multifaktorial, dengan faktor genetik, lingkungan, dan sosial saling berinteraksi. Dampaknya luas, mencakup komplikasi biologis berupa tinggi akhir yang pendek hingga masalah psikososial.
Dokter anak berperan penting dalam deteksi dini, diagnosis, serta edukasi keluarga. Pemahaman komprehensif mengenai etiologi, faktor risiko, dan pilihan terapi akan membantu penatalaksanaan yang lebih efektif. Pencegahan berbasis edukasi keluarga dan pengendalian faktor risiko lingkungan merupakan strategi penting dalam mengurangi beban pubertas dini pada anak perempuan di Indonesia.
Referensi