
5 Seleb Pria Indonesia Favorit Netizen karena Punya Sifat Kebapakan
3 Des 2022

Author: dr. Afiah Salsabila
7 Jun 2025
Topik: Propolis, Suplemen, Obat, Antiviral
Propolis adalah zat resin kompleks yang diproduksi oleh lebah madu (Apis mellifera) melalui pencampuran getah tanaman, lilin, dan enzim saliva. Zat ini diketahui memiliki kemampuan untuk melindungi sarang lebah dari mikroorganisme dan parasit. Fungsinya sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, dan propolis digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai antiseptik, anti-inflamasi, dan antivirus alami. [1,2]
Komposisi kimia propolis sangat bervariasi tergantung asal geografis dan jenis tanaman yang menjadi sumber resin. Secara umum, propolis mengandung sekitar 50% resin, 30% lilin, 10% minyak atsiri, 5% serbuk sari, serta 5% zat organik seperti flavonoid, asam fenolat, ester fenolik, vitamin, dan mineral. [1,3]
Mekanisme Antiviral Propolis
Beberapa mekanisme utama yang melatarbelakangi sifat antiviral propolis telah diidentifikasi. Propolis berpotensi merusak lapisan amplop lipid virus sehingga menghambat virus memasuki sel inang serta mengganggu proses replikasi virus di dalam sel. [1,4] Senyawa seperti caffeic acid phenethyl ester (CAPE), chrysin, kaempferol, quercetin, dan artepillin C dapat menghambat aktivitas protease utama virus seperti 3CLpro dan PLpro pada SARS-CoV-2, serta mengintervensi protein spike virus dan reseptor ACE2 manusia yang diperlukan untuk infeksi. [1,4,5]
Selain itu, propolis berperan dalam menurunkan produksi sitokin pro-inflamasi seperti IL-6, IL-1β, dan TNF-α yang berkontribusi pada peradangan berlebihan (cytokine storm) pada infeksi virus berat seperti COVID-19. Propolis juga menghambat jalur sinyal PAK1, yang berperan dalam inflamasi dan supresi sistem imun selama infeksi virus. [1,5].
Bukti Ilmiah: Studi In Vitro dan In Vivo
Bukti aktivitas antiviral propolis telah banyak dilaporkan melalui penelitian laboratorium (in vitro) dan hewan (in vivo). Studi in vitro menunjukkan bahwa ekstrak propolis dari berbagai daerah mampu menghambat replikasi virus DNA dan RNA, termasuk HSV-1 dan HSV-2, virus influenza, rhinovirus, adenovirus, poliovirus, serta SARS-CoV-2. [1,3]
Misalnya, ekstrak propolis etanol dari Brasil dan Turki secara signifikan menghambat replikasi HSV-1 dan HSV-2 dalam kultur sel tanpa toksisitas sel, dan menunjukkan efek sinergis dengan acyclovir, obat antivirus standar untuk herpes[3]. Dalam studi hewan, pemberian propolis melindungi tikus dari lesi vaginal akibat infeksi HSV-2 serta mengurangi inflamasi jaringan.[3]
Pada virus SARS-CoV-2, uji molekuler docking memperlihatkan senyawa propolis dapat berikatan kuat dengan protein protease virus serta reseptor ACE2 manusia, menghambat proses masuknya virus ke dalam sel[4,5]. Studi klinis awal dengan dosis oral propolis hijau Brasil 400-800 mg/hari menunjukkan penurunan durasi rawat inap dan komplikasi pada pasien COVID-19. [1]
Selain itu, uji klinis pada infeksi saluran pernapasan virus lain seperti rhinovirus dan virus pernapasan menunjukkan konsumsi propolis mengurangi durasi dan keparahan gejala, walau beberapa studi menggunakan kombinasi dengan produk herbal lain sehingga efek propolis tunggal perlu dikonfirmasi lebih lanjut. [2]
Walaupun hasil awal menjanjikan, penelitian mengenai propolis sebagai antivirus menghadapi sejumlah kendala. Variabilitas komposisi kimia propolis karena perbedaan sumber geografis dan metode ekstraksi menyulitkan standarisasi formulasi dan konsistensi hasil. [1,3] Sebagian besar studi masih terbatas pada model in vitro dan hewan, dengan jumlah uji klinis terkontrol yang masih sedikit dan sampel yang terbatas.[2] Dalam beberapa studi klinis, propolis sering diberikan bersama herbal lain sehingga efek spesifik propolis sulit diisolasi. Selain itu, perbedaan dosis, bentuk sediaan, dan cara pemberian juga memperumit interpretasi hasil. [2,3]
Penelitian selanjutnya perlu fokus pada standarisasi formulasi ekstrak propolis agar menghasilkan produk dengan komposisi kimia yang konsisten dan stabil. Studi klinis acak terkontrol dengan ukuran sampel memadai harus dilakukan pada penyakit virus tertentu untuk menguji efektivitas propolis sebagai terapi tunggal. Riset mekanisme molekuler yang lebih mendalam juga penting untuk memahami interaksi spesifik senyawa propolis dengan target virus dan sistem imun inang. Pengembangan terapi kombinasi propolis dengan obat antivirus standar perlu dieksplorasi untuk meningkatkan efikasi dan mengurangi efek samping. Selain itu, evaluasi keamanan jangka panjang dan toksisitas pada dosis tinggi sangat dibutuhkan. Penelitian juga harus memperhatikan variasi geografis sumber propolis guna menentukan sumber yang paling efektif untuk dipakai secara klinis.
Kesimpulan
Propolis merupakan zat alami yang kaya akan senyawa bioaktif dengan potensi aktivitas antivirus. Namun, variabilitas komposisi dan terbatasnya data klinis masih menjadi tantangan utama. Masih diperlukan penelitian lanjutan yang berfokus pada standarisasi, uji klinis terkontrol, dan pemahaman mekanisme molekuler untuk pengembangan propolis sebagai terapi antivirus yang efektif.
Referensi
1. Sales-Peres SHC, et al. Propolis effects in periodontal disease seem to affect coronavirus disease: a meta-analysis. Braz Oral Res. 2023;37:e031.
2. Magnavacca A, et al. The antiviral and immunomodulatory activities of propolis: An update and future perspectives for respiratory diseases. Med Res Rev. 2022;42(3):897–945.
3.Yosri N, et al. Anti-Viral and Immunomodulatory Properties of Propolis: Chemical Diversity, Pharmacological Properties, Preclinical and Clinical Applications, and In Silico Potential against SARS-CoV-2. Foods. 2021;10(8):1776.
4. Yosri N, et al. Molecular docking studies of propolis components on SARS-CoV-2 proteins. Foods. 2021;10:1776.
5. Sales-Peres SHC, et al. Propolis components inhibit SARS-CoV-2 main protease and modulate inflammation. Braz Oral Res. 2023;37:e031.