
Kapan Anak Dikatakan Mengalami Pubertas?
22 Jul 2017

Author: Dhia Priyanka
24 Mar 2026
Topik: Parenting Lifestyle, Separation Anxiety, Attachment, Anak Manja, Kecemasan, Psikologi Anak
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Ketika anak selalu ingin dekat, sulit ditinggal, atau menangis saat berpisah, meski hanya sebentar, membuat orang tua bertanya, “Apakah anak saya terlalu manja?” atau “Apakah ini tanda masalah?”
Sebenarnya, dalam banyak kasus, anak yang belum mau lepas dari orang tua adalah hal yang normal, terutama pada usia bayi dan balita. Perilaku ini berkaitan erat dengan proses perkembangan emosional anak, khususnya dalam membentuk rasa aman dan keterikatan (attachment) dengan orang tua.
Namun, penting juga bagi orang tua untuk memahami batas antara kondisi yang masih wajar dan yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
Mengapa Anak Sulit Lepas dari Orang Tua?
Ada beberapa faktor yang membuat anak sulit lepas dari orang tuanya, antara lain:
1. Proses Attachment (Kelekatan)
Sejak lahir, anak membangun hubungan emosional yang kuat dengan pengasuh utamanya, biasanya orang tua. Kelekatan ini penting untuk memberikan rasa aman dan menjadi dasar perkembangan sosial serta emosional anak.
Anak yang memiliki kelekatan yang sehat justru akan merasa nyaman berada dekat dengan orang tuanya, terutama dalam situasi baru atau saat merasa tidak aman.
2. Separation Anxiety (Kecemasan Berpisah)
Pada usia sekitar 6 bulan hingga 3 tahun, anak biasanya mulai mengalami separation anxiety, yaitu kecemasan ketika berpisah dengan orang tua.
Hal ini terjadi karena anak mulai memahami bahwa orang tua bisa pergi, tetapi belum sepenuhnya memahami bahwa orang tua akan kembali. Akibatnya, anak bisa menangis, menolak ditinggal, atau selalu ingin ditemani.
Kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan.
3. Perkembangan Rasa Aman
Anak yang belum mau lepas seringkali sedang mencari rasa aman. Lingkungan baru, orang asing, atau perubahan rutinitas dapat membuat anak merasa tidak nyaman, sehingga mereka lebih “menempel” pada orang tua sebagai sumber keamanan.
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, rasa percaya diri anak biasanya akan meningkat, dan mereka mulai lebih mandiri.
Tanda yang Masih Normal
Perilaku anak yang belum mau lepas dari orang tua masih dianggap normal jika:
Dalam kondisi ini, perilaku tersebut merupakan bagian dari perkembangan emosional yang sehat.
Kapan Perlu Diwaspadai?
MomDad perlu lebih memperhatikan jika:
Kondisi ini bisa mengarah pada separation anxiety disorder atau masalah kecemasan lainnya, sehingga perlu evaluasi lebih lanjut oleh tenaga profesional.
Cara Membantu Anak Belajar Mandiri
Yuk, latih si Kecil untuk lebih mandiri dengan cara berikut:
1. Lakukan Perpisahan Secara Bertahap
Mulailah dengan meninggalkan anak dalam waktu singkat, lalu secara perlahan tingkatkan durasinya. Hal ini membantu anak belajar bahwa orang tua akan kembali.
2. Buat Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas yang jelas, seperti waktu bermain, makan, dan tidur, dapat memberikan rasa aman bagi anak sehingga mereka lebih siap menghadapi perubahan.
3. Berikan Penjelasan Sederhana
Sebelum pergi, beritahu anak dengan bahasa yang mudah dipahami, misalnya, “Mama kerja sebentar, nanti balik ya.” Hindari pergi diam-diam karena dapat meningkatkan kecemasan anak.
4. Bangun Rasa Percaya
Tepati janji ketika mengatakan akan kembali. Hal ini membantu anak membangun rasa percaya dan mengurangi kecemasan saat berpisah.
5. Berikan Dukungan Emosional
Validasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, “Kakak sedih ya ditinggal Mama.” Hal ini membantu anak merasa dipahami dan lebih tenang.
Anak yang belum mau lepas dari orang tua umumnya merupakan bagian normal dari perkembangan emosional, terutama pada usia dini. Kelekatan yang kuat justru menjadi fondasi penting bagi rasa aman dan kepercayaan diri anak di masa depan.
Seiring waktu, dengan dukungan yang tepat, anak akan belajar menjadi lebih mandiri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Namun, jika perilaku ini berlangsung lama atau mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua sebaiknya mencari bantuan profesional.
Dengan pendekatan yang sabar dan penuh pengertian, anak dapat berkembang menjadi individu yang mandiri tanpa kehilangan rasa aman yang mereka butuhkan.
Referensi: