Balita Hipotermia saat Naik Gunung, Seberapa Besar Risikonya pada Anak?
Author: Dhia Priyanka
13 Apr 2026
Topik: Hipotermia, Penyakit Anak, Penyakit
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Kasus bayi usia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat dibawa naik Gunung Ungaran baru-baru ini kembali menjadi perhatian publik. Banyak orang tua mungkin tidak menyangka bahwa aktivitas seperti naik gunung, yang terasa “aman” bagi orang dewasa, bisa menjadi sangat berisiko bagi bayi dan balita. Nah, seberapa berbahaya sih hipotermia pada anak, dan kenapa balita sangat rentan?
Apa Itu Hipotermia?
Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah 35°C, sehingga tubuh tidak mampu mempertahankan fungsi normalnya.
Pada kondisi ini, tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan untuk memproduksinya. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan:
- Gangguan fungsi organ
- Penurunan kesadaran
- Bahkan kematian
Lingkungan seperti gunung, dengan suhu rendah, angin kencang, dan kelembapan tinggi, menjadi faktor risiko utama.
Kenapa Bayi dan Balita Lebih Rentan?
Bayi dan balita bukan “miniatur orang dewasa”. Secara fisiologis, mereka jauh lebih rentan terhadap perubahan suhu.
Beberapa alasan utamanya:
1. Sistem Pengatur Suhu Belum Matang
Tubuh bayi belum mampu mengatur suhu seefektif orang dewasa. Saat kedinginan, mereka tidak bisa menghasilkan panas tubuh secara optimal.
2. Kehilangan Panas Lebih Cepat
Proporsi permukaan tubuh bayi lebih besar dibanding berat badannya, sehingga panas tubuh lebih cepat hilang.
3. Cadangan Energi Terbatas
Untuk melawan dingin, tubuh membutuhkan energi. Pada bayi, cadangan ini lebih sedikit sehingga lebih cepat “habis”.
4. Tidak Bisa Mengungkapkan Ketidaknyamanan
Bayi tidak bisa mengatakan bahwa mereka kedinginan. Orang tua sering baru menyadari saat kondisi sudah memburuk.
Faktor Risiko Hipotermia di Gunung
Kasus seperti di Gunung Ungaran umumnya dipicu oleh kombinasi beberapa faktor:
Suhu dingin ekstrem, terutama malam hari
- Angin dan kondisi lembap
- Pakaian tidak cukup hangat
- Anak kelelahan atau kurang asupan
- Terkena hujan atau pakaian basah=
Kondisi ini bisa mempercepat penurunan suhu tubuh, bahkan dalam waktu singkat.
Tanda-Tanda Hipotermia pada Anak
MomDad perlu mengenali tanda awal hipotermia, seperti:
- Kulit terasa dingin
- Menggigil (pada tahap awal)
- Anak tampak lemas atau mengantuk
- Napas melambat
- Pada kondisi berat: penurunan kesadaran
Yang perlu diingat, pada hipotermia berat, anak bisa tidak lagi menggigil, yang justru merupakan tanda kondisi semakin serius.
Apakah Bayi Aman Diajak Naik Gunung?
Secara medis, membawa bayi atau balita ke lingkungan ekstrem seperti gunung tidak direkomendasikan, terutama untuk perjalanan panjang atau kondisi cuaca yang tidak stabil. MomDad perlu ingat bahwa bayi:
- Lebih rentan terhadap suhu ekstrem
- Memiliki keterbatasan adaptasi terhadap lingkungan
- Membutuhkan lingkungan yang stabil dan aman
Artinya, risiko yang ditanggung jauh lebih besar dibanding manfaat aktivitas tersebut.
Jika Terjadi Hipotermia, Apa yang Harus Dilakukan?
Penanganan awal sangat penting:
- Segera pindahkan anak ke tempat hangat
- Lepaskan pakaian basah
- Hangatkan tubuh secara bertahap (selimut, kontak kulit)
- Berikan minuman hangat jika memungkinkan (untuk anak yang sudah bisa minum)
- Segera cari bantuan medis
Penanganan yang terlambat dapat memperburuk kondisi dengan cepat.
Kasus hipotermia pada bayi di Gunung Ungaran menjadi pengingat bahwa tidak semua aktivitas yang aman untuk orang dewasa aman untuk anak.
Perencanaan aktivitas bersama anak perlu mempertimbangkan:
- Usia dan kondisi anak
- Lingkungan dan risiko
- Kesiapan perlengkapan
Keselamatan anak harus selalu menjadi prioritas utama.
Hipotermia pada bayi dan balita adalah kondisi serius yang dapat terjadi dengan cepat, terutama di lingkungan dingin seperti gunung. Kasus yang terjadi baru-baru ini menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk lebih berhati-hati dalam memilih aktivitas bersama anak.
Membawa anak ke alam terbuka memang menyenangkan, tetapi perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan tubuh anak. Karena pada akhirnya, keselamatan anak selalu lebih penting daripada pengalaman perjalanan.
Referensi:
- World Health Organization. Thermal Protection of the Newborn. WHO; 1997.
- American Academy of Pediatrics. Hypothermia Prevention in Infants and Children. AAP; 2019.
- Centers for Disease Control and Prevention. Hypothermia. CDC; 2022.
- Perlman JM, et al. Neonatal hypothermia: mechanisms, outcomes, and prevention. Pediatrics. 2016;138(5):e20161103.




