Meta Pixel

1 Juli 2026

Demam Tinggi Disertai Kejang, Kapan Harus Curiga Meningitis?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Demam, Kejang, meningitis

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.

Anak kejang demam adalah salah satu pengalaman paling menakutkan bagi orang tua, namun mayoritas kasus bersifat ringan. Menurut IDAI (2023) dan AAP, sekitar 2–5% anak akan mengalami kejang demam, dengan puncak kejadian pada usia 18 bulan, dan prognosis yang umumnya sangat baik. Namun, sebagian kecil kasus dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius seperti meningitis, infeksi pada selaput otak yang menurut WHO (2021) masih menjadi penyebab kematian dan kecacatan signifikan pada anak di seluruh dunia. 

Artikel ini membantu orang tua mengenali perbedaan kejang demam sederhana yang aman dengan 8 tanda bahaya yang mengarah pada meningitis, lengkap dengan panduan pertolongan pertama, apa yang akan dilakukan dokter, dan peran vaksinasi dalam pencegahan. 

Apa Itu Kejang Demam?

Kejang demam adalah kejang yang terjadi saat suhu tubuh anak meningkat ≥38°C, tanpa adanya infeksi atau kelainan pada otak sebagai penyebab utama. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, dengan puncak kejadian sekitar usia 18 bulan. 

Karakteristik 

Keterangan

Definisi 

Kejang saat suhu tubuh ≥38°C tanpa infeksi/kelainan otak sebagai penyebab

Usia tersering 

6 bulan – 5 tahun (puncak sekitar 18 bulan)

Prevalensi 

2–5% anak akan mengalami kejang demam

Penyebab demam 

tersering 

Infeksi virus ringan: influenza, roseola, ISPA, gastroenteritis virus

Prognosis 

Umumnya sangat baik pada kejang demam sederhana


Apa Itu Meningitis? 

Meningitis adalah peradangan pada selaput yang melapisi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Meningitis bakteri merupakan kondisi gawat darurat karena dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius: 

Penyebab 

Tingkat Keparahan 

Catatan

Bakteri (Neisseria meningitidis, 

Streptococcus pneumoniae, Hib) 

■ Sangat berat, gawat darurat

Dapat menyebabkan gangguan pendengaran, kerusakan otak, kematian

Virus 

■ Umumnya lebih ringan

Sebagian besar sembuh tanpa komplikasi serius

Jamur 

■ Bervariasi

Lebih jarang; sering pada anak imunokompromis

Parasit 

Sangat jarang 

Kasus sangat langka pada anak


Kejang Demam Sederhana vs Kejang Demam Kompleks 

Sebagian besar kasus anak kejang demam BUKAN disebabkan oleh meningitis. Tabel berikut membedakan kejang demam sederhana (aman) dengan kejang demam kompleks (perlu evaluasi lebih lanjut):

Karakteristik 

■ Kejang Demam Sederhana 

■ Kejang Demam Kompleks

Durasi 

< 15 menit 

≥ 15 menit

Jenis kejang 

Kejang umum (seluruh tubuh) 

Fokal (sebagian tubuh) atau umum

Frekuensi 

1x dalam 24 jam 

Berulang dalam 24 jam

Kesadaran setelah 

kejang 

Kembali sadar & beraktivitas normal 

Mengantuk lama, sulit dibangunkan

Pemeriksaan lanjutan 

Umumnya tidak perlu pencitraan/pungsi lumbal rutin

Sering perlu evaluasi lebih lanjut (EEG, pungsi lumbal, pencitraan)

Risiko meningitis 

Sangat rendah jika tidak ada tanda bahaya lain

Perlu disingkirkan secara aktif


8 Tanda Bahaya: Kapan Kejang Demam Harus Curiga Meningitis? 

Segera bawa anak ke rumah sakit jika kejang demam disertai salah satu atau lebih tanda berikut: 

1. Kejang Berlangsung Lebih dari 15 Menit

Kejang yang berlangsung lama termasuk kejang demam kompleks dan memerlukan evaluasi medis lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab lain. 

Mengapa penting: Durasi panjang meningkatkan kemungkinan penyebab selain demam biasa 

Tindakan: Catat waktu mulai kejang; jika >5 menit dan tidak berhenti, hubungi ambulans

2. Kejang Terjadi Berulang dalam 24 Jam

Jika kejang muncul lebih dari satu kali dalam satu episode demam, dokter perlu mencari kemungkinan penyebab lain, termasuk meningitis. 

Mengapa penting: Kejang berulang bukan pola khas kejang demam sederhana 

Tindakan: Catat setiap episode kejang dan waktu kejadiannya untuk dokter

3. Tidak Sadar atau Sulit Dibangunkan Setelah Kejang

Normalnya anak kembali sadar bertahap setelah kejang. Jika anak sangat mengantuk terus-menerus, sulit dibangunkan, atau tidak merespons, segera evaluasi. 

Mengapa penting: Penurunan kesadaran berkepanjangan adalah tanda gangguan sistem saraf pusat

Tindakan: Pantau tingkat kesadaran setiap beberapa menit setelah kejang berhenti

4. Leher Terasa Kaku

Salah satu tanda klasik meningitis adalah leher kaku (kuduk kaku). Pada bayi, gejala ini sering sulit dikenali sehingga perlu perhatian pada gejala lain. 

Cara cek sederhana: Coba tekuk leher anak perlahan ke depan, jika sangat kaku/sakit, ini tanda bahaya

Catatan bayi: Pada bayi, perhatikan gejala lain karena leher kaku sulit dinilai

5. Ubun-Ubun Tampak Menonjol (Bayi)

Pada bayi yang ubun-ubunnya belum menutup, meningitis dapat menyebabkan ubun-ubun tampak menonjol atau tegang, tanda peningkatan tekanan di dalam kepala. 

Cara cek: Raba ubun-ubun saat bayi tenang dan tidak menangis, normalnya datar/sedikit cekung

Tindakan: Jika menonjol dan tegang, ini darurat, segera ke IGD 

6. Ruam atau Bercak Ungu yang Tidak Hilang Saat Ditekan

Ruam kemerahan/keunguan yang tidak memudar saat ditekan dapat menjadi tanda infeksi bakteri serius, termasuk meningitis akibat Neisseria meningitidis. 

Cara cek (glass test): Tekan gelas bening pada ruam, jika ruam TIDAK memudar/hilang, ini sangat mengkhawatirkan

Tindakan: Tanda ini adalah kedaruratan, bawa ke IGD secepatnya

7. Sangat Rewel atau Justru Sangat Lemas

Perubahan perilaku yang mencolok perlu diwaspadai: menangis terus dengan suara melengking, sangat sulit ditenangkan, atau sebaliknya tampak sangat lemas dan tidak mau berinteraksi. 

Tangisan melengking: High-pitched cry adalah tanda klasik pada bayi dengan iritasi meningeal

Tindakan: Jika perilaku sangat berbeda dari biasanya dan tidak membaik, segera evaluasi

8. Muntah Berulang Disertai Sakit Kepala Hebat

Pada anak yang lebih besar, meningitis dapat ditandai sakit kepala berat, muntah berulang, dan sensitif terhadap cahaya (fotofobia). 

Kombinasi gejala: Sakit kepala + muntah + fotofobia = trias klasik yang perlu dievaluasi segera 

Tindakan: Anak yang bisa bicara dan mengeluh sakit kepala hebat perlu pemeriksaan dokter

Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang Demam 

Jika anak mengalami kejang demam, lakukan langkah berikut dengan tenang: 

■ Lakukan 

■ Jangan Lakukan

Tetap tenang 

Memasukkan sendok, jari, atau benda ke mulut anak

Baringkan anak posisi miring (jaga jalan napas terbuka) 

Menahan gerakan tubuh anak secara paksa

Jauhkan benda keras/tajam di sekitar anak 

Memberikan makanan, minuman, atau obat saat masih kejang

Longgarkan pakaian, terutama di sekitar leher 

Panik berlebihan, tetap fokus mengamati anak

Catat lama kejang dan gejala yang muncul 

Meninggalkan anak sendirian saat kejang


Apa yang Akan Dilakukan Dokter Jika Dicurigai Meningitis?

Tahap 

Yang Dilakukan 

Tujuan

Wawancara 

Riwayat kejang, demam, gejala penyerta 

Identifikasi pola dan faktor risiko

Pemeriksaan fisik 

Tanda vital, kondisi umum, tanda dehidrasi 

Menilai keparahan secara keseluruhan

Pemeriksaan 

neurologis

Cek kekakuan leher, refleks, tingkat kesadaran

Deteksi tanda iritasi meningeal

Pemeriksaan darah 

Hitung darah lengkap, marker infeksi 

Identifikasi tanda infeksi sistemik

Pungsi lumbal 

Pengambilan cairan serebrospinal (CSS) 

STANDAR EMAS diagnosis meningitis & penyebabnya


Pencegahan Meningitis Melalui Imunisasi 

Beberapa jenis meningitis dapat dicegah melalui imunisasi rutin. Melengkapi vaksinasi sesuai jadwal adalah salah satu cara terbaik melindungi anak: 

Vaksin 

Mencegah Meningitis Akibat 

Catatan

Hib (Haemophilus 

influenzae tipe b) 

Bakteri Haemophilus influenzae tipe b 

Bagian imunisasi dasar rutin

PCV (Pneumokokus) 

Bakteri Streptococcus pneumoniae 

Bagian imunisasi dasar rutin

Meningokokus 

Bakteri Neisseria meningitidis

Untuk kelompok/kondisi tertentu, termasuk perjalanan ke daerah endemis

MR/MMR (Campak) 

Komplikasi sistem saraf pusat akibat campak

Campak dapat menyebabkan 

ensefalitis/komplikasi SSP


FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kejang Demam dan Meningitis 

Q: Apakah semua anak yang kejang demam akan mengalami kejang demam lagi?

A: Tidak semua. Sekitar 30–40% anak yang pernah mengalami kejang demam akan mengalaminya lagi pada episode demam berikutnya, terutama jika kejang pertama terjadi sebelum usia 18 bulan. Risiko berulang menurun seiring bertambahnya usia anak. 

Q: Apakah kejang demam menyebabkan epilepsi di kemudian hari? 

A: Risiko sangat kecil pada kejang demam sederhana, sekitar 1–2%, hanya sedikit lebih tinggi dari populasi umum. Risiko epilepsi lebih tinggi pada kejang demam kompleks, riwayat keluarga epilepsi, atau kelainan perkembangan saraf yang sudah ada sebelumnya. 

Q: Apakah perlu memberikan obat penurun panas untuk mencegah kejang demam berulang?

A: Menurut AAP dan IDAI, obat penurun panas (parasetamol/ibuprofen) TIDAK terbukti mencegah kejang demam berulang, meski tetap berguna untuk kenyamanan anak. Yang lebih penting adalah penanganan yang tepat saat kejang terjadi dan evaluasi rutin ke dokter anak. 

Q: Apakah kejang demam bisa terjadi tanpa orang tua menyadari anak demam?

A: Ya, ini cukup sering terjadi. Kejang demam terkadang menjadi gejala pertama yang menunjukkan anak sedang demam, suhu tubuh bisa naik sangat cepat tanpa orang tua sempat menyadarinya. Setelah kejang, segera ukur suhu tubuh anak. 

Q: Bagaimana membedakan ruam meningitis dengan ruam alergi biasa? 

A: Gunakan 'glass test': tekan gelas bening transparan pada ruam. Ruam alergi biasa atau virus umumnya akan memudar/menghilang saat ditekan. Ruam yang TIDAK memudar saat ditekan (petekie/purpura) adalah tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis segera.

Q: Apakah meningitis virus sama bahayanya dengan meningitis bakteri? 

A: Tidak. Meningitis virus umumnya jauh lebih ringan dan banyak kasus sembuh sendiri tanpa komplikasi serius. Meningitis bakteri jauh lebih berbahaya, berkembang cepat, dan memerlukan antibiotik segera untuk mencegah komplikasi seperti gangguan pendengaran, kerusakan otak, atau kematian. 


Referensi: 

1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam pada Anak. IDAI; 2023.

2. American Academy of Pediatrics. Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline. Pediatrics. 2011;127(2):389–394.

3. World Health Organization. Defeating Meningitis by 2030: Global Road Map. WHO; 2021. 

4. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis: Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment. CDC; 2024.

5. Kliegman RM, St Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 22nd ed. Elsevier; 2024. 

6. Tunkel AR, et al. Practice Guidelines for the Management of Bacterial Meningitis. Clinical Infectious Diseases. 2017.