14 Juli 2026
Gejala TBC pada Anak Tidak Selalu Batuk Lama, Ini Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: TBC, Tuberkulosis, Vaksin TBC
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Gejala TBC pada anak sering kali tidak sama dengan orang dewasa, dan inilah yang membuat penyakit ini sering terlambat dikenali. Menurut WHO Global Tuberculosis Report 2024, anak-anak menyumbang sekitar 12% dari seluruh kasus TBC baru di dunia, namun diagnosis pada kelompok usia ini jauh lebih menantang karena gejalanya yang tidak khas. Banyak anak yang terdiagnosis TBC bahkan tidak mengalami batuk berkepanjangan.
Apa Itu TBC pada Anak?
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai kelenjar getah bening, tulang, otak, selaput otak (meningitis TBC), dan ginjal. Pada anak, TBC umumnya tertular dari orang dewasa dengan TBC paru aktif melalui percikan droplet saat batuk, bersin, atau berbicara.
Mengapa Gejala TBC Anak Berbeda? Pada anak, jumlah bakteri TBC di paru umumnya lebih sedikit (paucibacillary TB), sehingga gejalanya bisa lebih ringan atau tidak spesifik. Karena itu, diagnosis TBC pada anak memerlukan pendekatan menyeluruh, bukan hanya berdasarkan batuk.
7 Gejala TBC pada Anak yang Perlu Diwaspadai
1. Berat Badan Tidak Naik atau Justru Turun
Salah satu gejala TBC yang paling sering ditemukan adalah gangguan pertumbuhan. Infeksi kronis menyebabkan tubuh membutuhkan lebih banyak energi sementara nafsu makan menurun, sehingga berat badan anak stagnan atau turun. Waspadai bila berat badan tidak naik selama 2 bulan berturut-turut tanpa penyebab yang jelas, berat badan justru menurun, atau anak tampak semakin kurus.
2. Demam Berulang Lebih dari Dua Minggu
Anak dengan TBC dapat mengalami demam ringan yang hilang timbul, sering kali muncul pada sore atau malam hari dan berlangsung lebih dari dua minggu. Berbeda dari demam akibat infeksi virus biasa yang biasanya mereda dalam 5–7 hari, demam TBC cenderung persisten dan berulang tanpa sebab yang jelas.
3. Nafsu Makan Menurun Berkepanjangan
Infeksi TBC dapat membuat anak sulit makan, cepat kenyang, atau tidak tertarik pada makanan favoritnya. Jika berlangsung lama, kondisi ini berdampak langsung pada status gizi dan pertumbuhan anak, yang pada akhirnya memperparah kondisi kesehatannya secara keseluruhan.
4. Anak Tampak Lemas dan Kurang Aktif
Beberapa anak dengan TBC terlihat lebih mudah lelah, tidak seaktif biasanya, dan lebih sering ingin digendong atau beristirahat. Keluhan ini sering dianggap sebagai kelelahan biasa sehingga mudah terlewat oleh orang tua maupun tenaga kesehatan.
5. Batuk yang Tidak Kunjung Membaik
Meskipun tidak selalu menjadi gejala utama, sebagian anak dengan TBC tetap dapat mengalami batuk lebih dari dua minggu yang tidak membaik meski sudah mendapat pengobatan sesuai penyebab lain, atau batuk disertai sesak pada beberapa kasus. Penting untuk diingat bahwa tidak semua anak dengan TBC mengalami batuk kronis, absennya batuk tidak berarti TBC bisa disingkirkan.
6. Pembesaran Kelenjar Getah Bening di Leher
TBC juga dapat menyerang kelenjar getah bening, memunculkan benjolan di leher yang tidak nyeri, bertambah besar perlahan, dan bertahan selama beberapa minggu. Kondisi ini, dikenal sebagai limfadenitis TB, perlu dievaluasi dokter, terutama bila disertai gejala lain yang mengarah ke TBC.
7. Berkeringat Berlebihan di Malam Hari
Sebagian anak mengalami keringat malam yang berlebihan tanpa penyebab yang jelas, bukan akibat suhu ruangan panas atau selimut terlalu tebal. Meski tidak selalu hadir pada semua kasus, gejala ini merupakan salah satu petunjuk klasik adanya infeksi kronis seperti TBC.
Perbandingan Gejala TBC pada Anak vs. Orang Dewasa
Perbedaan presentasi klinis antara anak dan dewasa inilah yang membuat diagnosis TBC anak lebih menantang. Tabel berikut merangkum perbedaan utamanya.
Riwayat Kontak Erat: Sama Pentingnya dengan Gejala
Pada anak, riwayat kontak erat dengan penderita TBC aktif merupakan salah satu petunjuk terpenting dalam diagnosis TBC. Menurut IDAI (2024), risiko TBC meningkat signifikan bila anak tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan seseorang yang didiagnosis TBC paru dan belum menjalani pengobatan secara adekuat.
⚠ Penting: Meskipun anak tampak sehat atau hanya memiliki gejala ringan, pemeriksaan TBC tetap diperlukan jika ada riwayat kontak erat dengan penderita TBC aktif, terutama pada bayi dan balita.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis TBC pada Anak?
Karena jumlah bakteri pada anak sering sedikit, diagnosis TBC anak memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Dokter akan mempertimbangkan beberapa hal berikut:
- Riwayat kontak dengan penderita TBC aktif yang diketahui.
- Gejala klinis sesuai tanda-tanda yang telah dijelaskan di atas.
- Pemeriksaan fisik lengkap termasuk pemantauan berat dan tinggi badan.
- Foto Rontgen dada untuk melihat kelainan pada paru-paru.
- Uji tuberkulin (TST) atau IGRA untuk mendeteksi paparan bakteri TBC.
- Pemeriksaan mikrobiologi (Tes Cepat Molekuler/TCM dari dahak, bilasan lambung, atau spesimen lain) bila memungkinkan.
Apakah TBC pada Anak Bisa Disembuhkan?
Ya. Menurut Pedoman Nasional TBC Anak IDAI (2024), sebagian besar anak dengan TBC dapat sembuh apabila didiagnosis sejak dini, menjalani pengobatan hingga tuntas (umumnya 6 bulan), minum obat sesuai jadwal, dan mendapat dukungan nutrisi yang baik. Pengobatan harus dipantau secara rutin oleh dokter agar kepatuhan terjaga dan potensi resistensi obat (TB-MDR) dapat dicegah.
Cara Mencegah TBC pada Anak
- Vaksin BCG sesuai jadwal, diberikan segera setelah lahir untuk melindungi bayi dari bentuk TBC berat seperti meningitis TBC dan TBC milier. Menghindari kontak erat dengan penderita TBC aktif yang belum diobati.
- Memastikan anggota keluarga dengan TBC menjalani pengobatan hingga tuntas.
- Menjaga asupan gizi anak agar daya tahan tubuh tetap optimal.
- Melakukan skrining TBC pada anak bila terdapat riwayat kontak dengan penderita.
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter jika anak mengalami:
- Berat badan tidak naik atau justru turun selama beberapa bulan.
- Demam lebih dari dua minggu tanpa sebab yang jelas.
- Nafsu makan terus menurun.
- Batuk yang tidak membaik meski sudah diobati.
- Benjolan di leher yang menetap dan tidak nyeri.
- Riwayat kontak erat dengan penderita TBC aktif.
FAQ seputar Gejala TBC pada Anak
Q: Apakah anak dengan TBC bisa menularkan ke orang lain?
A: Umumnya tidak. TBC pada anak biasanya bersifat paucibacillary (sedikit bakteri) sehingga jarang menular ke orang lain. Justru sebaliknya, anak biasanya tertular dari orang dewasa di sekitarnya yang menderita TBC paru aktif. Namun, skrining kontak tetap dianjurkan untuk semua anggota rumah tangga.
Q: Apa beda batuk TBC pada anak dengan batuk biasa?
A: Batuk biasa biasanya mereda dalam 1–2 minggu. Batuk yang dicurigai sebagai TBC berlangsung lebih dari 2 minggu dan tidak membaik dengan pengobatan standar, sering disertai demam berulang, berat badan tidak naik, atau riwayat kontak dengan penderita TBC. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua anak TBC mengalami batuk.
Q: Berapa lama pengobatan TBC pada anak?
A: Menurut IDAI (2024), pengobatan TBC anak umumnya berlangsung selama 6 bulan, 2 bulan fase intensif dan 4 bulan fase lanjutan. Kepatuhan sangat penting; menghentikan pengobatan lebih awal berisiko menyebabkan kekambuhan atau resistensi obat (TB-MDR).
Q: Apakah vaksin BCG bisa mencegah TBC sepenuhnya?
A: Vaksin BCG tidak mencegah infeksi TBC secara total, tetapi sangat efektif melindungi bayi dari bentuk TBC yang paling berbahaya, yaitu meningitis TBC dan TBC milier. Itulah mengapa BCG diberikan segera setelah lahir sebagai bagian dari imunisasi dasar yang dianjurkan IDAI dan Kemenkes RI.
Q: Apakah anak yang pernah TBC bisa tumbuh normal kembali?
A: Ya, dalam banyak kasus. Anak yang mendapatkan diagnosis dan pengobatan TBC secara dini dengan dukungan nutrisi yang baik dapat mengalami catch-up growth, pertumbuhan yang mengejar ketertinggalan setelah infeksi berhasil dikendalikan. Semakin cepat diobati, semakin besar peluang tumbuh kembang optimal.
Gejala TBC pada anak tidak selalu berupa batuk berkepanjangan. Justru, tanda yang lebih sering muncul adalah berat badan yang sulit naik, demam berulang, nafsu makan menurun, anak tampak lemas, atau adanya benjolan di leher. Riwayat kontak erat dengan penderita TBC aktif juga sama pentingnya dengan gejala klinis dalam menegakkan diagnosis. Jangan ragu berkonsultasi ke dokter jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda tersebut, semakin cepat TBC dikenali dan diobati, semakin besar peluang anak untuk sembuh dan tumbuh kembang secara optimal.
Referensi:
1. World Health Organization. WHO Operational Handbook on Tuberculosis: Module 5 – Management of Tuberculosis in Children and Adolescents. WHO; 2022.
2. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2024. WHO; 2024.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. IDAI; 2024.
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Kemenkes RI; 2024.
5. American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases. 2024–2027.
6. Kliegman RM, St Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 22nd ed. Elsevier; 2024.
7. Marais BJ, Graham SM, Maeurer M, Zumla A. Progress and challenges in childhood tuberculosis. The Lancet Infectious Diseases. 2013;13(4):287–289. 8. Perez-Velez CM, Marais BJ. Tuberculosis in Children. New England Journal of Medicine. 2012;367(4):348–361.





